Kisah dari Masa Lalu

Cinta adalah satu dari sekian banyak alasan yang membawaku ke kota-kota yang tak pernah terbayangkan dalam kepalaku. Dan pria sederhana itu, pria yang di matanya kutemukan sebuah dunia yang menakjubkan, dunia yang dibangun dengan tumpukan-tumpukan ketulusan menjalani hidup, mampu mengwujudkan mimpiku. Dan ia juga mengajariku sesuatu yang lebih berharga dari apa yang baru saja kami ciptakan.

*

Jakarta, Mei 1999

Setahun reformasi, aku masih dapat merasakan aroma kemarahan dari jelaga-jelaga hitam yang tertinggal di gedung-gedung bertingkat yang telah hangus dan hancur. Di pelataran sebuah mall yang masih ditutup, perjalananku terhenti. Telingaku berdenging, sumber suara yang tak diundang memenuhi rongga telingaku. Kulanjutkan langkahku, kian mendekat ke arah pintu kaca yang tak lagi utuh. Suara-suara itu kian terasa berdentang lantang dan kadang pula terdengar miris mengiris di telingaku. Kakiku menolak untuk melanjutan langkahnya, tetapi hatiku berhasil membujuknya untuk memasuki mall yang tak bertuan itu. Kini bukan hanya telingaku saja yang dapat mendengar suara-suara lantang dan terkadang miris, hidungku menangkap aroma daging-daging terpanggang juga bau asap tebal meyeruak dari sebuah toko. Kembali, langkahku terhenti depan toko itu. Kakiku menolak untuk meneruskan langkahnya memasuki salah satu toko di mall tersebut, tetapi hatiku lagi-lagi mampu membujuknya. Dan kini bukan hanya telinga serta hidungku saja yang dapat merasakan kepedihan di Mei kelabu itu. Kilasan-kilasan peristiwa menyayat hati itu seperti film seluloid yang tengah berputar di hadapanku. Mataku menolak menatapnya, tetapi seperti halnya kakiku, mataku berhasil dibujuk hatiku untuk tetap menatapnya, menatap lelaki tionghoa yang baru saja diguyur bensin oleh massa yang marah. Dan di pojok dekat meja kassir toko itu, seorang perempuan tionghoa tengah berjuang lepas dari cengkaraman beberapa lelaki yang coba memperkosanya. Hatiku tak mampu lagi melihat kebiadaban ini, aku mencoba membantu perempuan tionghoa itu. Namun sayang semua telah hilang. Kilasan itu telah hilang. Aku terduduk di lantai yang kusam penuh jelaga. Air mataku merembas, suara tangisku tertahan di tenggorokan.

Jakarta, Mei 2053

Pria sederhana dengan mata yang indah itu mendatangiku yang masih terduduk di lantai di dalam kapsul teleportasi. Ia membawakan sehelai saputangan. Aku masih terpukul dengan apa yang baru kulihat. Aku tak pernah melihat orang-orang sebengis itu, bahkan lebih bengis dari sekawanan srigala lapar. Aku menghela napas. Pria bermata indah di hadapanku tersenyum. Entah mengapa ia bisa tersenyum semanis itu, padahal yang baru aku lihat tadi adalah kakek dari kakek buyutnya. Apa ia tak menaruh dendam sedikit pun pada orang-orang yang pernah membunuh kakek dan neneknya itu. Kalau saja ia mau membalas dendam, pria di hadapanku ini dengan mudah membalasnya dengan menggunakan kapsul teleportasi yang baru kami ciptakan.

“Kita hidup dari masa lalu, sepahit apa pun masa lalu, kita berasal dari sana. Kalau aku menghabisi orang-orang yang membunuh dan memperkosa nenek buyutku itu menggunakan mesin ini. Apakah aku bisa kembali ke masa ini? Aku tak mau mempertaruhkan masa depanku demi memperbaiki masa laluku yang suram. Aku hidup bukan untuk masa lalu. Kalaupun alat ini membawa kita ke masa lalu, itu bukan karena kita ingin mengorek kembali luka itu. Biarlah itu menjadi sejarah. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu belajar dari sejarah. Kau tahu, ada pepetah yang mengatakan untuk menghancurkan sebuah bangsa cukup dengan mengenyahkan ingatan sejarah dari kepala generasi mudanya. Aku tak ingin bangsa ini hancur, sebab itu aku menciptakan alat ini. Kau ingin ke tempat Kakek dari kakek buyutmu? Lhoknga?”

Aku menarik napas dalam-dalam. Ucapannya barusan kembali meyakinkan aku. Aku ingin sekali melihat apa yang terjadi dan dialami Kakek dari kakek buyutku. Suatu peristiwa yang hanya kudengar dari cerita Ibu dan artikel-artikel koran yang dikumpulkan Kakek.

“Siap?” ucapnya, aku mengangguk.

Lhoknga, 26 Desember 2004

Air setinggi lebih dari 3 meter itu datang dengan cepat, menerabas semua yang dilaluinya. Kumandang takbir bergema memenuhi langit. Air mataku kembali merembas saat melihat seorang lelaki setengah baya menolong perempuan muda yang terbawa arus deras air berwarna cokelat pekat itu. Dia kakek dari kakek buyutku.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s