Ini Pesan Kami!

IMG0684A“Goooollll….” pekik teriak terdengar begitu riuh dari bawah jembatan layang pasupati kota Bandung. Keingintahuanku membawaku pada keriuhan itu. Siapa sangka di kolong jembatan layang terdapat sebuah kompetisi sepakbola berskala nasional. Liga Perubahan, mereka menyebutnya demikian. Semakin mendekat ke arah lapangan sepakbola mini itu aku menemukan sebuah banner besar bertuliskan sarkastik, “Keadilan sosial bersepakbola bagi seluruh rakyat Indonesia.” Semboyan yang hampir mirip dengan sila kelima pancasila. “Hmm… Sepakbola di negara ini sudah bukan mainannya rakyat lagi, tetapi sudah jadi tempat bermain para elite-elite di Jakarta. Bahkan telah dipolitisasi,” gumam sok tahuku di antara riuh tepukan para penonton yang memadati lapangan yang luasnya tak kurang 100 meter itu.

Kemudian dari dalam tas ranselku, kukeluarkan kamera. Beberapa momen menarik sayang jika dilewatkan begitu saja, khususnya untuk seorang pemain yang baru saja mencetak gol. Tampangnya begitu seram, beberapa tindikan menghiasi wajahnya, juga tato di lengannya. Tapi saat ia tertawa dan memeluk kawan-kawannya, juga lawannya, kesan seram itu sirna begitu saja, yang tertinggal hanya sebuah pesan persaudaraan. Aku ingin menanyainya beberapa hal, karena apa yang aku lihat barusan begitu menggelitik keingintahuanku. Namun Sayangnya, pemain bertampang menyeramkan tadi sudah hilang di antara kerumunan orang yang membubarkan diri sesaat setelah peluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi.

“Kang, kenal sama orang yang bertato tadi, yang ngejebolin sambil koprol?” tanyaku pada penjual es teh manis yang mangkal tak jauh dari area pertandingan.

“Oh, kang Ajat? Dari tim Demit Biru?” jawabnya.

“Nggak tahu, kalo saya tahu nggak perlu nanya kali kang,” sahutku.

“Hahaha… Iya, dia kang Ajat. Eneng bukan orang asli sini ya? Kalo orang sini pasti kenal sama dia,” ucapnya sambil menyerahkan es teh manis.

“Bukan. Memangnya Akang tahu tempat tinggalnya kang Ajat?” tanyaku, sambil menyeruput es teh manis.

“Coba aja Neng ke rumah singgah yang ada di dekat pasar itu, biasanya sehabis pertandingan mereka akan nongkrong dulu di sana.”

Setelah menandaskan segelas es teh manis, tak perlu menunggu lama, rasa keingintahuanku membawaku ke tempat seperti apa yang dikatakan Akang penjual es teh manis tadi.

*

Di rumah itu aku dijamu dengan begitu hangat. Walau tampang mereka sekilas menyeramkan, dengan tindikan dan tato menghiasi tubuh mereka di mana-mana, tapi aura yang aku dapat berbeda. Rasa persahabatan jauh lebih kentara di sana. Apa lagi saat aku memperkenalkan diri sebagai seorang photografer amatir yang sedang mencari objek foto untuk kuikut-sertakan dalam pameran foto nasional, mereka menawarkan diri untuk menjadi objek fotoku. Tapi aku telah memilih satu dari sekian foto yang kuambil tadi di area pertandingan. Foto saat kang Ajat merayakan golnya dengan selebrasi koprol, seperti Miroslav Klose di piala dunia 2002. Dan salah satu tujuanku ke tempat ini selain mengikuti insting keingintahuanku, juga ingin meminta izin pada kang Ajat menggunakan foto dirinya untuk pameran foto nasional.

Setelah kuperlihatkan fotonya yang tengah koprol merayakan golnya, ia tersipu malu, ia tak percaya melakukan selebrasi sekeren itu. Beberapa kawannya tak henti menggodanya. Kang Ajat hanya bisa tersenyum membalas candaan kawan-kawannya.

“Kang, gimana, boleh nggak dipake buat pameran?” tanyaku.

“Boleh atuh, foto sekeren ini masa cuma ditaruh di memory card doang. Sayang. Lagi pula kali saja dengan foto Neng Jani ini orang-orang di luar sana dapat melihat kami bukan lagi sebagai orang-orang terpinggirkal lagi,” sahutnya.

*

Beberapa minggu kemudian

Dari perbincangan singkat dengan kang Ajat tempo hari lalu, rasa keingantahuanku sedikit terpuaskan. Rumah yang pernah kudatangi merupakan rumah singgah yang kang Ajat dirikan bersama beberapa temannya selepas ia berhenti dari kecanduannya terhadap narkotika. Rumah itu bukan hanya ditinggali mantan pecandu narkotika, tetapi juga ODHA yang diasingkan oleh keluarganya. Liga perubahan yang kusaksikan sore itu di bawah kolong jembatan pasupati, adalah kompetisi tahunan yang diadakan dan diikuti kaum marjinal seperti mereka. Dari beberapa foto yang berhasil ditangkap lensa kameraku dan kini terpajang di galeri pameran foto, aku berharap pesan yang ingin aku sampaikan juga harapan-harapan mereka dapat terbaca dari foto-fotoku. Mereka tak berbeda, mereka tak ingin dibedakan, mereka sama dengan manusia lainnya. Benar, mereka pernah salah langkah, tapi kini mereka mencoba memperbaiki diri dengan prestasi. Dan yang kudengar dari berita di televisi, tim Indonesia yang salah satu anggotanya adalah kang Ajat berhasil meraih peringkat ketiga dalam Homeless World Cup 2012 di Meksiko. Sungguh prestasi yang membanggakan di tengah carut-marut persepakbolaan di negara ini. Di depan foto kang Ajat yang tengah melakukan selebrasi koprol aku berujar, meniru ucapkan kang Ajat di rumah singgah beberapa minggu lalu, “Jadi, siapa bilang orang yang hidup dengan HIV/AIDS maupun mantan pecandu narkotika hanya orang yang lemah, orang yang tergolek tak berdaya di ranjang?”

***

Artikel  ‘Ini Permainan Kami, Ini Pesan Kami!’diambil dari tulisan Didit Putra Erlangga, Kompas edisi Minggu, 11 Maret 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s