Membunuh Eliana

Sekejap tangannya sudah menguasai diriku. Aku berusaha berontak. Percuma, jemarinya kian merangsek hingga ke leherku. Aku tercekik. Ternyata benar apa yang ia katakan, saat itu ayah menghadiahiku sebuah boneka Barbie, karena aku berulang tahun. Mungkin ia iri, dan berkata akan merampas semua yang aku punya suatu hari nanti. Tak kusangka, ancaman 17 tahun lalu benar-benar ia lakukan sekarang.

Napasku tersengal. Aku kini berada di tubir kematian. Kudengar langkah kaki mendekat, dan dari balik pintu kamarku seseorang mengetuk. Mamah! Ah, untung saja.

“Eliana? Eliana? Kamu kenapa? Eliana…!!” Teriak Mamah, panik. Setelahnya aku hilang kesadaran.

*

“Mamah!!”

Aku terbangun. Tapi bukan lagi di kamarku. Begitu sepi, dingin, mencekam. Mataku menyapu ke seluruh sudut ruangan. Ada beberapa ranjang yang kosong, dan sebuah cermin besar di dekat sebuah ruangan yang bisa kupastika itu sebuah toilet. Ah, aku berada di rumah sakit rupanya.

“Mamah, mana?!!” ucapku, setengah berteriak.

Aku masih bisa merasakan rasa panas di leherku bekas cekikannya. Dan di saat itu pula aku menyadari tangan kiriku telah diborgol di pinggir ranjang. Aku bertanya-tanya ada apa sebenarnya, dan mengapa begitu sepi di sini.

Dia datang lagi. Menjalar dari kakiku. Aku bisa merasakannya, begitu dingin, dan anyir dendam tercium begitu meyengat. Ya, dia seperti pembunuh berdarah dingin. Lagi-lagi dia menguasai tangan kananku, dan kembali mencekikku. “Mati aku kali ini,” pikirku. Di sisa-sisa tenagaku, aku mencoba berteriak memanggil Mamah. Ia melepaskan cengkeramannya, namun tertawanya begitu nyaring, hampir memecahkan kepalaku.

“Cukup! Cukup Helene. Apa maumu?”

“Eliana… Eliana… Sudah kubilang 17 tahun lalu, aku mau semua yang kau punya, termasuk tubuhmu. Kau, kau memang tidak pernah berterima kasih padaku. Kalau bukan karena aku, nilai-nilaimu di sekolah takkan pernah bagus. Kalau bukan karenaku, kau tak pernah berani melawan anak-anak yang sering menjahilimu di sekolah. Kau hanya gadis manja, Eliana! 17 tahun lalu, saat di villa itu sehabis ulang tahun kita yang ke-13, kau ingat siapa yang mendorong Ayah ke tepi jurang. Bersyukurlah kepolisian menganggap itu kecelakaan.”

“Cukup Helene! Itu semua gara-gara kau. Sudah kubilang aku tak mau berbagi tubuh denganmu.”

“Tapi kali ini, Eliana. Kau tak bisa mengelak! Mamah, baru saja kau bunuh.”

“Apa?! Tidak-tidak… Bukan aku, tapi kau Helene. Kau…”

Dia kembali menguasai tangan kananku yang tak diborgol, kemudian kembali merangsek ke leherku, dan mencekikku. Cermin besar di ujung ruangan dekat toliet, merekam semua apa yang terjadi. Aku terkejut yang mencekikku bukan Helene, tapi diriku sendiri. Kenyataannya adalah Helene hanyalah sosok imajinatif yang kuciptakan sendiri untuk menemaniku dalam keterasingan yang perlahan-lahan merampas seluruh yang kupunya.

“Semua sudah terlambat, Eliana.” Ucapnya.  Aku menutup mata.

Terinspirasi dari Judul Bukunya @ManDewi

6 thoughts on “Membunuh Eliana

  1. Ping-balik: Membunuh Eliana Sekejap tangannya sudah menguasai diriku. Aku | viaaksesoris

  2. Ping-balik: Membunuh Eliana Sekejap tangannya sudah menguasai diriku. Aku | viaaksesoris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s