Tak Ada yang Abadi

Deretan angka yang berbaris rapi dalam almanak, satu per satu luruh; menjadi kata-kata purba, terjerat usia, dikelabuhi kekal masa.

Cinta abadi hanya semacam gulali yang terlampau manis untuk digigiti gigi-geligi waktu yang ompong. Sementara rinduku dan hatiku, bukan lagi kanak yang tangisnya bisa dihentikan dengan gulali.

Tak ada yang abadi, kasih.

Deretan angka yang masih berbaris rapi dalam almanak yang kau gantung di kamarmu, pun yang tergeletak di atas meja kerjaku. Satu per satu dipersenjatai pisau-pisau sepi oleh waktu, mengancam kita dengan segenap lupa-lupa atau mati dalam ingatan-ingatan tentang masa depan yang terlalu samar untuk sepasang mataku yang minus.

Cinta abadi, barangkali hanya semacam dongeng yang melelapkan kita dari ketakutan-ketakutan akan keterpisahan.

Tak ada yang abadi, sayang. Tak ada…

Sebab itu aku ingin mencintaimu, seperti deretan angka yang masih berbaris rapi dalam almanak yang kau gantung di kamarmu, yang satu per satu luruh dan tanpa kau sadari aku telah mati dalam tumpukan rindu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s