Perempuan Berpayudara Surga

womenLelaki itu kembali menceritakan perempuan yang kini terbaring di hadapannya. Dengan tersengal-sengal ia mencoba mengatur sesak nafasnya yang beberapa bulan terakhir ia tahan agar tak terdengar atau bahkan tak  terendus perempuan yang ada di hadapannya.

“Perempuan berpayudara surga…,” ia selalu bergumam demikian ketika akan memulai kisahnya. Kisah yang berulang kali  ia ceritakan pada enam lelaki lainnya yang juga mencintai perempuan yang ada di hadapannya. Dan keenam lelaki lainnya hanya bisa tertunduk, entah mendengarkan atau justru sibuk dengan pikirannya masing-masing. Yang pasti dari tujuh orang lelaki yang ada di dalam ruangan itu, mungkin cuma aku yang tak pernah menikmati tetes-tetes air surga di dada perempuan itu. Seingatku, mataku hanya beberapa kali mampir ke surganya. Dan dari beberapa kali kunjungan mataku itu, aku bisa paham betapa keenam lelaki lainnya di dalam ruangan itu begitu terpukul ketika mendapati selembar kertas hasil pemeriksaan laboratorium memvonis perempuan berpayudara surga ini terkena kanker payudara stadium lanjut.

Dari beberapa kali kunjungan mataku ke payudaranya yang surga, aku masih mengingatnya dengan jelas, sepasang bukit yang pernah didaki lelaki tua yang kini tengah meratapi kepergiannya, begitu sungguh mengagumkan. Sepasang puting berwarna merah jambu yang tak terlalu besar, namun juga tak terlalu kecil untuk menghidupi bibir-bibir enam lelaki di hidupnya, dan di antara bukit kembar itu ada sebuah jalan yang tak terlampau sempit dan begitu hangat untuk melelapkan kerinduan. Hah, bagaimana kelima lelaki lainnya dalam ruangan ini tak terpukul saat selembar kertas itu merenggut surga dari bibir-bibirnya. Payudara yang begitu indah, bahkan bila dibandingkan dengan payudara milik istri-istri mereka. Dan bagaimana lelaki tua yang kini meratapinya tak begitu terpukul, karena cuma payudaranya yang sukarela dijelajahi tiap malam, tak peduli bibir gosong lelaki tua itu bau minuman beralkohol.

Esok pagi, perempuan itu bersama sepasang payudaranya yang surga akan dibenamkan ke dasar bumi. Namun keindahannya tak akan lekang, dan akan selalu diingat oleh bibir-bibir mungil juga bibir berdaki bau alkohol yang pernah ia hidupi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s