Kedai Kopi Mbah Sumo

Kembali kusesap secangkir kopi yang hangatnya mulai menghilang terhisap udara beku pegunungan. Kedai ini bukan seperti outlet-outlet coffeeshop di kota besar dengan fasilitas wi-fi dan sofa-sofa yang empuk, yang membuat orang betah berlama-lama. Kedai ini hanya berdinding papan dan bilik bambu, juga hanya terdapat dua meja yang membujur panjang. Sekalipun demikian citarasa kopi di kedai ini tak kalah dengan kopi-kopi orang kota. Kedai kopi Mbah Sumo. Entah sejak kapan berdirinya kedai legendaris ini, tetapi menurut pemiliknya ia mendirikan kedai ini saat usianya masih 15 tahun bersama bapaknya, saat sebelum peristiwa tujuh jenderal diculik. Kalau dihitung-hitung sudah 47 tahun, hampir setengah abad. Dan Kedai ini selalu menjaga citarasanya kopi. Kopi yang baru saja kusesap, citarasanya sama seperti 5 tahun lalu ketika aku untuk pertama kali singgah ke kedai ini.

Sekarang Mbah Sumo sudah jarang terlihat melayani pelanggannya. Usianya yang kian sepuh, membuatnya hanya duduk-duduk saja di salah satu sudut kedai itu, mengawasi cucu-cucunya melayani pelanggan. Dahulu sebelum kedai itu dipercayakan kepada keempat cucunya, anak Mbah Sumo yang bungsu, Mas Ribut, yang selalu membantunya. Mbah Sumo menaruh harapan besar kepada Mas Ribut sebagai penerus kejayaan kedai kopi ini. Hanya saja sekarang harapan itu kandas. Aku masih melihat geliat kesedihan dari mata Mbah Sumo saat ia menceritakan Mas Ribut yang kini dirawat di RSJ, pun ada kerling-kerling cahaya yang tersisa di sana tentang harapan-harapannya pada kedai kopi ini.

“Andai saja perempuan itu tak mampir ke kota ini, ah tidak tidak, andai saja perempuan itu tidak singgah ke kedai kami. Mungkin Ribut masih melayani pelanggan-pelanggan setia macam kamu, Wi.” ujar Mbah Sumo, terbata sambil diiringi batuk.

Kedai ini awalnya hanya menyajikan kopi tubruk, kopi susu, dan kopi joss (kopi yang disajikan bersama arang) saja. Setelah Mas Ribut ikut bantu-membantu, beberapa menu ditambahkan, dari kopi jahe, kopi soda, dan berbagai panganan khas lainnya yang sudah jarang ditemui di kota-kota besar. Membuat kedai ini kian ramai pengunjungnya. Hingga suatu ketika datanglah seorang mahasiswi yang sedang melakukan KKN, pengunjung yang selalu disesali kedatangannya oleh Mbah Sumo.

Lyra, nama mahasiswi itu. Ia singgah saat kedai hampir akan tutup. Dan selalu seperti itu tiap malam. Mulanya ia hanya ingin mencari kehangatan kopi jahe buatan Mas Ribut, sebab udara pegunungan yang kadang tak bersahabat dengan tubuh kotanya. Sampai akhirnya ia menemukan kehangatan setiap kali ia berbincang dengan Mas Ribut. Mas Ribut yang  usianya lebih tua 5 tahun darinya, bukan hanya jadi pendengar yang baik tapi juga memberikan wejangan-wejangan. Lyra seperti menemukan rumah baru bagi setiap keluh-kesahnya.

Singkat cerita mereka menjalin hubungan yang bukan lagi antar pelanggan dan pelayan. Saat masa KKN usai dan Lyra hendak kembali ke kota, Mas Ribut yang mengantarnya ke Stasiun. Mereka berjanji untuk saling menjaga hati dari kejauhan dengan saling mendoakan dan berkabar lewat surat. Beberapa bulan setelahnya, surat itu, surat yang mengubah jalan hidup Mbah Sumo juga Mas Ribut tiba di kedai. Huruf-huruf yang basah dieja dengan mata yang tak hanya mendung tapi juga menyimpan api. Lyra dalam suratnya mengatakan setelah wisuda ia akan segera dipersunting oleh seorang pengusaha terkenal kenalan ayahnya. Tak ada yang mampu bisa dilakukan Mas Ribut, sepanjang pagi hingga petang ia hanya melamun, duduk di depan kedainya sambil menghisap berbatang-batang rokok kretek. Pengunjung kedai pun kian hari-kian sepi. Mereka takut berkunjung, karena perangai Mas Ribut sudah makin tak terkendali, kadang berbicara sendiri, kadang menangis, kadang tertawa, dan kadang marah-marah dengan memukul dinding kedai yang terbuat dari papan dan anyaman bilik bambu. Sungguh mengenaskan. Mbah Sumo diberi dua pilihan oleh perangkat desa, menutup kedainya  atau mengirim Mas Ribut ke RSJ. Anak-anak Mbah Sumo yang lainnya meminta lebih baiknya kedainya yang ditutup, karena dengan mengirim Mas Ribut ke RSJ sama saja menciptakan aib. Tetapi kedai ini adalah kebanggaan Mbah Sumo yang diwariskan dari bapaknya dan ingin ia wariskan pada anak cucuknya kelak. Pilihan yang sulit. Namun Mbah Sumo percaya, suatu hari nanti, Mas Ribut akan waras kembali.

*

5 Tahun yang Lalu

Stasiun sudah begitu ramai subuh ini. Beberapa teman kuliahku pun sudah nampak dengan koper-koper mereka yang besar-besar. “Hah, anak kota. ingin KKN saja seperti seperti mau liburan,” ujarku, dan Mamah di sampingku yang pagi itu ikut mengantar hanya tersenyum.

30 menit lagi kereta yang membawaku ke kota entah-berentah akan berangkat, dan setiap penumpang sudah diharuskan berada di dalam kereta. Begitu menurut pemberitahuan yang kudengar berulang-ulang dari speaker yang ada di hadapanku.

“Wi, kamu jaga kesehatannya di sana. Kalau kamu tidak keberatan, mampir-mampirlah ke Kedai kopi Mbah Sumo. Di sana kopi jahenya ampuh untuk menghangatkan tumbuh. Kalau kau ketemu dengan lelaki berperawakan kurus dengan lesung pipi di wajahnya di kedai itu. Tolong sampaikan salam Mamah dan Katakan saja kamu anaknya Lyra.” Kata Mamah. Kata-kata yang sudah beberapa kali ia katakan padaku, ketika ia mengetahui aku akan KKN di tempat di mana dulu ia juga pernah KKN.

“Iya Mamah. Sudah ya, Widya berangkat. Dadah…” sahutku sambil menyelipkan kecup di kening Mamah.

4 thoughts on “Kedai Kopi Mbah Sumo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s