Korban Dukun Cabul

Sudah beberapa pekan media-media ibu kota baik cetak, elektronik maupun online, begitu gencar dengan pemberitaan tentang seorang dukun cabul yang mampu melipat-gandakan kekayaan, membuat seseorang terlihat menarik, maupun memperlancar urusan bisnis. Dan konon dukun yang dipanggil dengan sebutan Ki Terik juga bisa memperlancar karir politik seseorang. Tak heran jika korban dari Ki Terik tak tanggung-tangung jumlahnya, sekitar 109 orang dan di antaranya dari kalangan politikus, artis, dan pebisnis. Sayangnya, tak satupun korban Ki Terik mau membuka mulut perihal kelakuan bejat Ki Terik. Andai saja korban ke 110 Ki Terik tak tewas terbunuh olehnya karena berontak saat akan dicabuli, nama Ki Terik takkan meledak seperti sekarang. Nama yang akhir-akhir ini begitu akrab di telinga masyarakat ibu kota, dari warung kopi sampai perbincangan di media sosial.

Dari sekian banyak media pemberitaan yang memberitakan dirinya, tak satupun yang mampu menguak asal-usul kakek tua cabul ini. Para wartawan tak mampu menemukan narasumber yang mau sukarela berbagi cerita perihal kehidupan Ki Terik dan apa saja ritual-ritual yang kerap ia lakukan sebelum melakukan tindakan bejatnya. Para narasumber yang juga merupakan korban dari kebiadaban Ki Terik beralasan, menceritakan  Ki terik sama saja membuka aibnya. Jadi kabar-kabar yang beberapa pekan beredar di media-media pemberitaan di ibu kota, hanya berita yang itu-itu saja. Membosankan. Yang membuatnya agak sedikit menarik adalah ketika cerita-cerita tentang “kesaktian” Ki Terik dihidangkan di meja-meja warung kopi bersama sepiring pisang goreng hangat dan kopi tubruk pahit. Cerita yang berkembang dari mulut ke mulut.

Sudah delapan pekan setelah berita Ki Terik meledak, mengalahkan berita tentang terpilihnya ketua umum dari sebuah partai korup, juga mengalahkan gegap gempitanya kekalahan Manchester United dari ajang liga champion. Namun tetap saja, para narasumber yang juga korban dari kebiadaban Ki Terik belum mau buka suara. Hingga di suatu pagi, suara kabar ternama ibu kota menempatkan sebuah headlines yang mencengangkan, ‘Akhirnya dia bersuara’. Reportase tentang kebiadaban Ki Terik tersusun begitu sistematik, orang-orang yang membacanya seperti sedang memerankan diri sebagai korban Ki Terik. Dari headlines surat kabar itulah sedikit terkuak misteri tentang asal-usul Ki Terik, juga bagaimana ia menjerat korbannya dan menggagahi satu persatu. Benar-benar begitu biadab.

*

Siang itu di sebuah bilik toilet kantor redaksi surat kabar yang tadi pagi manaruh headlines yang begitu mencengangkan, seorang wartawati tak mampu menahan isak. Air matanya berderai-derai takkala mengingat kembali tangan-tangan binal Ki Terik memainkan payudara dan alat vitalnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s