Empat Ratus Delapan Puluh Tujuh Kilometer (2)

Empat ratus delapan puluh tujuh kilometer

Mustika, kaki-kakiku rindu menjelajah kota-kota di hatimu. Meski musim-musim cinta telah berlalu, dan menyisa geligis sepi juga ngilu, serta menggugurkan peri-peri mungil di matamu dan menjatuhkannya ke lereng-lereng pipimu. Aku masih ingin tetap tinggal di sana, di sepasang matamu, di sepasang pipimu — tempat semburat rona jingga senja pernah menelusup dalam-dalam mencatatkan ingatan tentang bahagia.

Mustika, aksara-aksaraku kini tak lagi beralas apa-apa. Di antara terjal jalan yang berbatu menujumu, aku menemukan banyak lampion-lampion merah muda berisi doa-doa baik yang diterbangkan entah oleh sesiapa, juga berkerat-kerat botol bir yang telah kehilangan aroma. Aksara-aksaraku kini tak beralas apa-apa, sementara lonceng-lonceng tua dalam kepala terus-terus saja menderakkan luka-lukamu yang tak pernah mampu kubasuh dengan lupa.

Empat ratus delapan puluh tujuh kilometer

Ada yang tak sempat aku kemasi, bahkan sampai-sampai membuatku lupa mandi pagi. Sesal itu, Mustika. Sesal itu seperti malam yang terus mengutukku dengan ribuan mimpi buruk. Dan kini aku tak ingin lagi terlelap, aku tak ingin lagi bermimpi. Ah, namun perjalanan ini masih teramat jauh bukan. Jadi, jangan biarkan aku bermimpi, Mustika, jangan. Barangkali paling tidak pada beberapa spasi dalam puisi ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s