Seribu Wajah dalam Satu Wadah

Mer, tak tampak jelas isyarat apa yang tengah kau bangun dan kau gurat di antara kelok-kelok tirus pipimu. Kini wajah-wajah itu tak lagi mampu kuingat — hanya serupa tanda tanya yang tak pernah ingin kukenang dan kuakhiri dengan sebuah jawabanmu.

Kesedihan-kesedihanmu yang urung kuartikan duka, juga bahagia-bahagia terbaca sebagai duka. Ah, Mer… Terlampau banyak tungku kata di wajahmu harus kupadamkan dengan metafora-metafora. Luka begitu mencintai segala dukaku, juga dustamu.

Seribu wajah dalam satu wadah, cukupkah waktu yang fana memberimu ruang untuk kembali bersandiwara? Drama-drama air mata tak lain hanya perihal kamuflase pengkhianatan belaka. Kita telah sampai pada epilog, Mer. Tak ada waktu untuk isyarat-isyarat purba yang kini tak lebih dari sekadar badut-badut yang terus  menertawai dirinya sendiri.

Mer, aku tak lagi mampu mengingat. Seribu wajahmu hanya berselubung kabut muslihat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s