Kado Tak Terduga

tumblr_lh18jnBJBM1qazeuzo1_400_largeSebut saja nama tengahku dilupakan, karena memang demikian nasib hidup yang selalu aku temui hingga usiaku kini beranjak di angka 23 tahun. Nama lengkapku Drupadi Pradipta, biasa rekan-rekan di kantor memanggilku Tata, lebih ringkas dan mudah diingat menurut mereka. Tapi tidak dengan Nayaka, ia lebih senang memanggilku Dru’, katanya pengucapannya hampir mirip dengan pengucapan Drew. Ya, Drew Barrymore adalah aktris Hollywood favoritnya. Dan aku tak mempermasalahkannya. Saat ini  aku bekerja sebagai grafik desainer di perusahaan advertising miliknya.

*

Aku dan Nayaka sudah berteman sejak kecil, sejak masih menjadi penghuni Panti Asuhan Kasih Bunda. Di sana kami hidup bahagia, sekalipun terbuang dan akrab dengan serba keterbatasan hidup. Rasa sayang Bunda Tiara, pengasuhku dan anak-anak terbuang lainnya, yang membuat kami tidak pernah merasa terasing dari kehidupan. Tetapi sekalipun demikian adakalanya aku merasa sangat bersedih, yaitu ketika mengetahui Nayaka akan diadopsi oleh seorang jutawan dari luar kota. Seharusnya aku tak patut bersedih, justru sebaliknya aku harus berbahagia karena salah satu teman baikku kelak nasibnya berubah. Aku bersedih bukan Karena iri padanya, aku takut merasa kesepian sepeninggalan Nayaka nanti, itu saja. Saat diadopsi oleh jutawan itu usia Nayaka 8 tahun, sedangkan aku masih berusia 7 tahun. Dan benar saja setelah kepergian Nayaka, rumah panti ini begitu terasa sepi, walaupun silih berganti banyak anak-anak terbuang dititipkan di panti ini. Kepergian Nayaka begitu menohok hatiku, tak ada lagi yang mengajakku bermain di kebun Ilalang di seberang panti, tak ada lagi yang mengajariku menggambar, tak ada lagi yang membelai rambutku hingga aku terlelap saat malam.

Tahun-tahun tak terasa berlalu begitu cepat. Di hari ulang tahunku yang ke 21 tahun, diadakan pesta yang begitu meriah di panti. Sebenarnya aku tak terlalu suka dengan segala rupa perayaan, tetapi saat melihat adik-adik pantiku ikut berbahagia tak apalah sekali-kali ulang tahunku dirayakan.

Setelah pesta usai dan malam kian larut, Bunda Tiara menemuiku di kamar. Ia menyerahkan sepucuk surat dan berkata surat itu ia dapat di bawah keranjang bayi tempat dulu aku diletakkan dan ditemukan Bunda Tiara di depan pintu rumahnya. Aku membukanya, surat itu tak ubahnya kado yang tak pernah kuduga-duga. Tak banyak kalimat di dalamnya, hanya ucapan permintaan maaf dari orang yang pernah membuangku dulu dan alasan-alasan pembenarannya membuang diriku, serta ucapan selamat ulang tahun yang ke-21. Sepertinya memang ia merencanakan surat itu kubaca saat usiaku 21 tahun. Bunda Tiara kembali memberiku secarik kertas dan kotak berwarna cokelat. Di kertas itu tertera sebuah alamat, sementara di kotak berwarna cokelat itu terdapat sketchbook, dan alat gambar lainnya.

“Ini dari Nayaka, Bunda? Nayaka mana Bunda?” tanyaku bersemangat.

Kado kedua yang diberikan Bunda Tiara pun sama, kado yang tak kuduga-duga, sudah sepuluh tahun lebih aku dan Nayaka tak berkomunikasi, apa lagi bertemu.

“Tadi siang Nayaka mampir ke sini, dan memberikan ini untukmu. Dan ini alamat perusahaannya dia. Dia berharap kamu mau bekerja di tempatnya.” sahut Bunda Tiara.

“Nayaka mampir, Bunda? Kok nggak nungguin aku pulang kerja sih.” Gerutuku.

“Iya, dia juga tadi minta maaf nggak nunggu kamu pulang, dia harus kembali ke Jakarta. Ayah angkatnya kan sedang di rawat di rumah sakit. Oh ya, itu yang merangkai dekorasi di ruang tamu semua dikerjakan Nayaka dan dibantu adik-adik lainnya.”

“Oh benarkah, Bunda?” ucapku, sumringah.

*

Panas menyengat ketika pertama menjejakkan kaki di Terminal Kampung Rambutan, ini kali pertama aku ke Jakarta. Setelah dari terminal, aku meneruskan perjalananku ke kantor yang tertera di alamat pemberian Nayaka. Hampir dua jam sampai akhirnya aku menemukan kantor yang dimaksud.

Resepsionis mempersilakanku segera menuju ruangan Nayaka. Ku ketuk, dan dari dalam terdengar suara. Suara itu terdengar lebih gagah, tidak seperti suara Nayaka beberapa tahun lalu. Ku buka pintu ruangan itu, perlahan. Aku menghitung langkah sambil memperhatikan seorang pria yang tengah tertunduk mengerjakan sesuatu. Dan kini aku tepat telah berada di hadapannya, hanya terhalang mejanya.

“Nayaka?”

Pria yang tertunduk itu kini menatap wajahku, tatapan matanya begitu dalam, begitu tajam. Ia seperti tak mempercayai gadis yang ada di hadapannya adalah gadis kecil yang dulu sering ia temani tidur.

“Dru…? Drupadi Pradipta?” ucapnya sambil berdiri dan memelukku erat.

One thought on “Kado Tak Terduga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s