Bermula dari Friendzoned

Beeeppp… Beeeppp…

Dering ringtone yang keluar dari ponselku yang justru akhirnya mampu memaksaku untuk membuka mata, ketimbang suara weker digital yang beberapa kali ku snooze. SMS pertama dari ibu yang sedang berurusan dengan kepolisian dan aku harus mentransfer sejumlah pulsa ke nomor yang disebutkannya.

“Penipu nggak kreatif!” gerutuku.

SMS kedua dari Nabila, sahabatku yang lebih sering disebut teman se-friendzoned-anku oleh teman-teman Mapala di kampus. Ah, padahal aku dan Bila, pure sahabatan. Walau pernah sekali aku mencuri ciuman dari bibirnya di Ranu Kumolo. Sekali. Iya sekali dan begitu terkenang.

“Bro, entar siang jemput ke kosan yee… Anterin daku jenguk bokapnya Dinda. Bisa kan Bro?” katanya.
“Bisa, asal nanti gantian temenin daku ke Stadion Diponegoro ya, Nyet. Mau nyari buku lama nih,” sahutku.

Bro dan Nyet, sepertinya sudah seperti menjadi kata panggilan sayang di telinga kami. Teman se-friendzoned-an? Mungkin, selama hal itu tak menyulitkan hati kami.

*

Perempuan yang berdiri di sampingku dengan memakai rok selutut berwarna biru muda dan memakai kaos berwarna merah jambu, rambutnya yang terurai dibiarkan terjatuh di atas dadanya, lesung pipi, dan kacamata berframe tebal sudah mewakilinya bahwa ia adalah seorang kutubuku. Semua kriteria perempuan idamanku ada di dirinya. Lantas perasaan ganjil mulai menyemut di antara degub-degub di dada, apa lagi ketika tadi ia menjulurkan tangan saat bersalaman denganku. Tangan halusnya, juga tatapan teduhnya hampir membuatku lupa melepaskan genggamannya. Dinda Artika Maharani, nama perempuan itu. Nama yang indah, seindah senyumannya.

Thanks ya, Bil, Tim, sudah menjenguk bokap gue,” ucapnya sesaat kami hendak pamit. “Eh, jadi benaran gosipnya, kalian sudah jadian?” tambahnya.
“Apaan sih lo, Din. Gue sama Timo, sobatan doang kali. Gosip anak-anak Mapala lo dengerin,” sergah Nabila.

Petang menjelang, setelah menemukan buku yang dicari, aku dan Nabila mampir sejenak di kedai kopi tempat kami sering berbagi tawa. Nabila adalah perempuan yang sangat menyenangkan untuk diajak “gila-gilaan”. Semua penat di kepala akan hilang seketika saat mendengar cerita-cerita absurdnya, cerita yang sering ia ulang berkali-kali sampai pada akhirnya ia berkata, “Daku kayaknya pernah cerita ini ke dikau, iya kan Tim? Kok dikau masih bisa ketewa sih Tim?!” — Yang membuatku tertawa sebenarnya bukan hanya perihal cerita-cerita absurdnya saja, tetapi mimik wajahnya saat bercerita.

Kalau Nabila begitu cerewet dengan cerita-cerita absurd yang entah datang darimana inspirasinya,  sementara aku cenderung pendiam dan jadi pendengar yang baik. Mungkin karena hal demikan aku dan Nabila cocok berkawan baik, untuk saat ini.

“Kayaknya tadi ada yang salting nih saat di rumah sakit,” ujar Bila, seraya meledek.
“Salting apa sih, Nyet. Daku biasa aja kali,” bantahku.
“Lah daku kan nggak bilang dikau, Bro. Oh dikau salting bro, ketemu Dinda tadi Cie…”

Sial! Kejebak.

“Sudahlah Bro, akui saja. Dinda kan memang typemu. Hehehe makanya tadi daku minta anterin,” ucapnya. “Oh iya, Dinda sering lho nanyain dikau waktu di kelas. Kayaknya sih ada hati juga Bro sama dikau. Mau daku comblangin?” sambungnya.
“Apa sih, Nyet. Gak penting ah,” jawabku sambil membuka lembaran-lembaran halaman buku Ishmael karya Daniel Quinn yang baru saja kubeli.

*

Beberapa minggu setelah Nabila menelurkan ide untuk mencomblangkanku dengan Dinda, ide yang menurutku tidak penting, kini menjadi kenyataan. Sudah seminggu ini aku sering jalan dengan Nabila, mengunjungi perpustakaan, cafe baca, dan hal-hal yang serba membosankan. Ternyata persamaan sifat dan kebiasaan itu tak selalu menyenangkan. Aku merindukan tertawa terbahak-bahak dengan Nabila. Aku merindukan celoteh dan cerita-cerita absurd yang sering Nabila ceritakan berulang padaku. Aku merindukan Nabila.

Kencan bisu, keluhku yang sering kuungkapkan pada Nabila ketika ia menanyakan progres hasil percomblangannya. Dan Nabila selalu meyakinkan aku untuk tetap mencoba dan mencoba, tetapi menurutku cinta bukanlah percobaan kimia yang mencampurkan larutan dari berbagai unsur untuk mendapatkan atau setidaknya menemukan hubungan chemistry dari beberapa bahan. Cinta adalah ketika kamu menemukan kenyamanan dan tak lagi mempedulikan kekuranganmu maupun kekurangannya untuk saling diketahui. Dan hal demikian aku rasakan hanya pada Nabila. Memang aku tak merasakan degub-degub janggal saat bersama Nabila, berbeda ketika bertemu dengan Dinda. Mungkin saja terjadi kesalahan penerjemhan sinyal-sinyal yang dihantarkan pikiran ke hatiku atau sebaliknya. Namun yang pasti, Dinda Artika Maharani, lebih pantas menjadi seorang perempuan yang kukagumi. Sementara Nabila Anataya, jauh sebelum teman-teman Mapala mengatakan aku dan dirinya teman se-friendzoned-an, aku sudah menyayanginya. Dan kecupan di Ranu Kumolo itu, bukan sekadar kecupan pengusir hawa dingin saja.

“Nyet, sudah lama ya?” Tanyaku  yang tiba-tiba datang dan menepuk bahunya, di kedai kopi yang biasa kami kunjungi.

Perempuan bermata sipit itu hanya menyunggingkan senyum dan kembali menenggak cappucino-nya, lalu jemari mungilnya kembali menjelajah dunia maya di komputer tablet yang dibawanya.

“Nyet, daku mau ngomong nih. Penting!”

Nabila menghentikan aktivitas browsingnya, lalu menatap mataku dalam-dalam seperti mencari tahu apa yang tengah kusembunyikan darinya dan ingin segera kuungkapkan.

“Tumben Bro, biasanya kalo mau ngomong, ngomong aja. Hmm… ditolak Dinda ya, Bro?” selidiknya.
“Bukan. Daku malah nggak kepikiran mau nembak Dinda. Kan daku sudah sering cerita ke dikau, Nyet.”
“Terus?”
“Tentang dikau, Nyet.”
“Lah kok daku? Memangnya kenapa dengan daku, Bro,” ucapnya, penasaran.
“Kita jadian aja yuk, Nyet.”
“Hah!!” Nabila tersentak. “Jadian, Bro? Kok malah aku, memangnya kenapa dengan Dinda?”

Aku bergeming beberapa jenak, Nabila pun terdiam menunggu kata-kata keluar dari bibirku lagi.

“Ini bukan tentang ‘kenapa Dinda?’ dan tak ada hubungannya sama sekali dengan Dinda. Tapi ini tentang perasaan yang tak bisa dipaksakan, Nyet. Daku pernah bilang sama dikau, Dinda adalah perempuan impianku. Tapi impian atau mimpi kan tidak harus jadi nyata, Nyet. Daku ngerasa, daku bisa menjadi diri sendiri saat daku jalan sama dikau. Daku nyaman dengan dikau, Nyet. Itu saja. Selebihnya, daku sayang dikau.” kataku.

Sekarang berganti, Nabila yang bergeming dan aku menunggu kata-kata keluar dari bibir mungilnya.

“Nanti kalau daku cemberutin dikau, saat dikau memperhatikan Dinda, dikau jangan keberatan ya,” sahutnya sambil tersenyum malu-malu.
“Jadi, kita nggak friendzoned-an lagi kan?” kataku sambil mengacak-acak poni Nabila, Nabila hanya tersenyum. Baru kali ini aku melihat Nabila tertunduk tersipu dengan pipi yang merah merona.

14 Februari 2013, 19.00 @ Deoholic Cafe

2 thoughts on “Bermula dari Friendzoned

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s