Surat yang Tak Pernah Sampai

Kepada Kasih tak Sampai,

Bagaimana dengan kabarmu dan kabar hatimu? Baik-baik kah, semoga.

Ingin sekali aku menjelaskan perihal apa yang sebenarnya terjadi dalam hatiku beberapa waktu ini. Mencari momen yang tepat untuk mengatakan hal ini. Kau boleh bilang aku pengecut, karena mengatakan ini dalam sebuah surat, dan kau boleh bilang aku pecundang kerena mundur teratur dari hidupmu. Boleh. Maaf, aku tak bermaksud sama sekali demikian. Walaupun pada akhirnya kesannya memang demikian, semacam mempermainkan hatimu atau meng-PHP-kan kamu. Banyak hal yang membuatku memutuskan untuk mundur, selain daripada 487 kilometer yang rasa-rasanya terlampau jauh untuk saling memberi pelukan. Mungkin kau berpikir ini sebuah alasan bodoh, ya tak apa-apa kalau kau ingin berpikiran seperti itu.

Sebenarnya kau menarik. Sangat menarik hatiku. Masalah itu bukan ada di kamu aku memutuskan mundur. Tapi di diriku sendiri. Aku tak bisa menempatkan kebahagiaanmu sebagai prioritas dalam hidupku. Sedangkan kau tahu sendiri kan, setiap perempuan ingin selalu dibahagiakan. Aku tak ingin kau terjerembab dalam kesusahan-kesusahan yang selama ini berkarib denganku. (Terdengar agak mellow memang, dan tak seharusnya lelaki mengatakan seperti ini.)

Ya, aku mengkhawatirkan hatimu. Sekalipun kau bisa menerima apa adanya diriku, tetapi lelaki mana yang bisa dan mampu melihat perempuannya bergelut juga dengan kesusahan yang tengah dihadapi lelakinya. Sebelum kita terlampau jauh terjatuh dalam relung asmara, sebaiknya aku mundur. Hidupmu sudah bahagia sebelum kedatanganku di hatimu dan akan tetap bahagia tanpa kehadiranku sekalipun, percayalah. Dan aku tak mau mengganggu kebahagiaan yang telah kau punyai dengan menghadiahimu hidupku yang,… ah sudahlah… Jadi pergilah, aku tak ingin menahan kebahagiaanmu lebih lama, seperti aku yang tak ingin menahan kesedihan lebih lama  di hatimu.

Aku menyayangimu. Sebabnya aku melepasmu. Dan kau boleh mengatakan apa pun pada dunia; tentang aku yang mengabaikanmu, tentang aku yang mensia-siakanmu, tentang aku yang melukaimu. Kau boleh mengatakan demikian, dan rasa-rasanya dibenci olehmu itu jauh lebih baik, daripada melihatmu kesusahan bersamaku.

Seperti kubilang tadi, seharusnya lelaki tak seperti ini. Seharusnya lelaki yang benar dan baik akan berusaha menggenggam  hati perempuannya dangan kebahagiaan-kebahagiaan  yang terus ia usahakan. Aku yang salah, aku tak bisa jadi lelaki yang seperti itu. Maafkan aku. Maafkan seluruh cintaku. Maafkan…

Pecundang yang selalu menyukai mata sipitmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s