Jangan Kemana-mana, di Hatiku Saja

Cerita sebelumnya klik di sini

PAGI, suara burung berkicau bersahut-sahutan di antara ranting-ranting pohon beringin yang ada di dekat taman rumah sakit. Aku duduk di kursi kayu di bawah pohon beringin itu sambil menunggu Ayah selesai dimandikan oleh Suster. Tak beberapa lama Ilalang, Angin, dan Bu Dias datang. Bu Dias? Kenapa Bu Dias bisa datang? Apakah Ilalang yang menyuruhnya datang karena Ayahku sakit? Atau memang Bu Dias sedang ada di Jakarta? Entahlah.

Aku menyapa mereka, lalu mereka justru membawaku ke kantin. Ah, mungkin mereka mengira aku belum sarapan. Ternyata mereka bukan mengajakku sarapan, tetapi memberitahuku sesuatu yang begitu mengejutkan. Aku tak mempercayainya, tapi ini  kenyataan yang memang harus aku percayai. Lelaki yang pernah melihat tubuhku telanjang dan memaksanya untuk berhubungan badan denganku adalah kakak tiriku sendiri, Ilalang. Lalu Bu Dias, wanita paruh baya yang pernah terserempet body mobilku dan memintaku menginap di rumahnya selama tiga hari, tak lain adalah Ibu tiriku. Sesuatu yang kebetulan. Ternyata memang benar, kita tak akan bisa menyimpan rahasia terlalu lama. Karena dengan cara yang misterius Tuhan akan menguaknya sedikit demi sedikit. Ayah dan Mbak Angin menyimpan rahasia ini bertahun-tahun dan akhirnya kini terbuka juga. Kemudian kupeluk Bu Dias, erat, sungguh aku merindukan pelukan dari seorang Ibu. Kini aku mendapatkannya kembali, walaupun pada akhirnya aku tidak bisa memiliki Ilalang sebagai seorang kekasih. Ilalang tetap akan jadi lelaki kesayanganku, kakakku.

*

SAAT di koridor menuju ruang operasi, aku melihat Bapak Sastromiharjo begitu erat menggenggam jemari Ibu. Ia seperti takut kehilangan untuk yang kedua kalinya. Sementara kedua tanganku pun digamit erat, Senja di tangan kanan dan Angin di tangan kiri.

“Dias, maafkan aku ya, pernah mencampakanmu dan Ilalang,” ucap Pak Sastro pada Ibu, aku mendengar diucapkannya dengan terbata-bata. “Jangan kemana-mana,” tambahnya
“Aku tidak akan kemana-mana, Mas. Kamu ada di hatiku dan Aku selalu menunggumu. Aku sayang kamu,” sahut Ibu.

Mendengar demikian ternyata bukan aku saja yang tersenyum, tapi juga Angin dan Senja. “Ibu dan Ayah seperti anak ABG saja,” gumam Senja. “Kamu juga ya, Lang. Nanti cepat bangun. Jangan buat aku dan Mbak Angin Kangen,” sambungnya.
“Iya adikku,” sahutku, sebelum akhirnya pintu ruang operasi memisahkanku dengan Senja, Angin, Dan Ibu.

*

Beberapa bulan kemudian.

IBU memutuskan tinggal di Jakarta untuk mengurus Bapak, oh maaf kali ini aku harus terbiasa memanggilnya Ayah. Sementara Ayah memutuskan untuk pensiun dari perusahaan-perusahaan yang ia pimpin, Angin-lah yang mengambil alih. Angin dipercaya menjadi komisaris yang membawahi beberapa perusahaan. Dia menjadi Ratu Ritel Indonesia. Dan karena keberhasilannya, ia menjadi inspirasi bagi penyandang tuna rungu di seluruh Indonesia.

Aku dan Senja memutuskan keluar dari Primatama Advertising, tempat di mana aku dan Senja berkenalan dan menjalin persahabatan. Lalu kami berdua membuat perusahaan periklanan atas desakan Ayah.

Dan akhirnya karena masih saling menyayangi, Ibu dan Ayah menikah kembali.

Dulu aku pernah membaca sebaris kalimat di dalam buku catatan berwarna cokelat milik Angin yang terjatuh, “Tak mengapa cinta setinggi ilalang, bila bayang-bayangnya sudah mampu melindungi rerumputan kecil dari sengat mentari dan bilah-bilahnya selalu memeluk bunga-bunga liar dari deras badai. Cinta setinggi ilalang, cinta yang sederhana. Sebab kesederhanaan jauh lebih melekat dalam ingatan daripada bilangan-bilangan waktu. Cinta setinggi ilalang, rebah dalam pelukan angin dan terlelap di hangat senja.

** TAMAT**

One thought on “Jangan Kemana-mana, di Hatiku Saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s