Bangunkan Aku Pukul Tujuh

Cerita sebelumnya klik di sini

BEBERAPA pekerjaan yang sudah memasuki waktu tenggat akhirnya selesai. Petang nanti aku berniat ke rumah sakit untuk menengok ayahnya Senja dan Angin, juga untuk mengecek kecocokan sumsum tulang belakangku dengan sumsum tulang belakang ayah mereka.

Senja menyambutku di depan ruang ICCU di mana ayahnya dirawat. Karena butuh banyak istirahat, aku hanya bisa melihat ayahnya dari luar kaca pembatas, sebelum akhirnya aku diantar senja menuju laboratorium yang tak jauh dari ruang ICCU untuk pemeriksaan awal. Setelah sample darahku diambil, kami diminta menunggu hasilnya yang akan keluar tidak lebih dari 24 jam. Di kantin rumah sakit aku menanyakan keberadaan Angin pada Senja, sebab semenjak tadi tak terlihat olehku. Menurutnya, Angin tengah menjemput seseorang yang dulu pernah hadir dalam hidup ayahnya, kemudian diabaikan. Sekarang, sebelum terlambat, ayahnya ingin bertemu dengan seseorang itu untuk meminta maaf.

Waktu sudah bergerak menuju pukul sembilan malam, Senja menyuruhku untuk segera pulang dan banyak beristirahat. Karena mungkin saja hasil pemeriksanya cocok, dengan begitu aku bisa langsung naik meja operasi.

*

HAMPIR tengah malam, seorang suster jaga mendatangiku yang nyaris terlelap di sofa di depan ruang perawatan Ayah. Ia memberikan secarik amplop, dan dari amplop aku menemukan secercah cahaya. Hasil pemerikasaan petang tadi dinyatakan susm-sum tulang belakan Ilalang dengan Ayah, identik, kecocokannya 99%. Aku terlonjak dari sofa, dan segera menghubungi Ilalang.

“Lang, hasilnya sudah keluar! Cocok, Lang. Cocok!” seruku.
“Syukurlah,” jawab Ilalang singkat dengan suara sengau.
“Maaf, aku membangunkanmu ya?”
“Iya kebangun, nggak apa-apa kok,”
“Ya sudah, tidur lagi sana. Eh tapi besok pagi-pagi bisa kan datang ke sini?”
“Bisa-bisa, aku sudah minta izin ke perusahaan kok tadi siang. Bangunkan aku pukul tujuh ya, tapi kalau bisa pukul enam juga nggak apa-apa. Jam wekker kayaknya mati deh,” sahutnya.
“Oke sip! Selamat tidur Ilalang.”

*

JARUM jam di dinding kamarku masih berada di angka 04.05, saat seseorang mengetuk pintu kamar kostku, dan samar-samar terdengar suara mirip Ibu memanggil namaku. Ah mana mungkin Ibu datang ke Jakarta, memangnya ada urusan apa ia sepagi ini sudah datang.

Kubuka pintu dan ternyata benar yang sejak tadi mengetuk pintu kamar kostku adalah Ibu. Aku sedikit terkejut. Tapi ada yang lebih mengejutkan daripada kedatangan Ibu pagi-pagi, yakni  seseorang yang tengah berdiri di depan pintu gerbang yang tak jauh dari pintu kamar kostku. Sekalipun disinari cahaya lampu jalan yang agak remang, aku masih mampu mengenali perempuan itu. Angin.

Setelah meletakkan barang-barang yang ia bawa, Ibu kembali menghampiri perempuan di depan pintu gerbang dan mengajaknya menemuiku.

“Angin?” ucapku, terpana.
“Angin lagi, ini Gita. Kakakmu,” sahut Ibu.
“Ini Angin, Bu!” bantahku.

Angin mengeluarkan buku catatan berwarna cokelat yang dulu pernah aku temukan. Ia menuliskan sesuatu.

“Benar Ilalang, aku kakakmu, Angin Anggita Putri Sastromiharjo. Sudah sejak awal, sejak kita bertemu di kedai kopi itu dan kamu mendatangiku, aku diam-diam mengamati guratan di keningmu. Guratan itu bekas terkena pecahan piring. Dulu saat kamu berusia satu aku menggendongmu dan terjatuh di kamar mandi dekat tumpukan piring dan gelas. Kamu pasti tidak ingat.

“Lalu saat di lokasi syuting iklan layanan masyarakat itu, aku pun diam-diam mengamati bibir dan gigimu saat kamu tertawa. Gigimu gingsul dan di tepi bibir atasmu ada jahitan. Kamu ingat, dulu saat usia 2 tahun kamu pernah terjatuh dari motor yang dikendarai ayah dan harus menerima 6 jahitan di bibir? Pasti juga tak ingat kan?

“Selain itu, kemarin Senja menceritakan tentang Ibu dan kamu yang memiliki golongan darah rhesus Negatif, semakin meyakinkan aku, kamu adalah adik yang selama ini aku cari. Akhirnya aku meminta alamat Ibu dari Senja.”

“Senja sudah tahu tentang ini?” tanyaku.
“Belum,” sahut Ibu, diamini juga oleh Angin.

Jadi selama ini orang yang aku cintai adalah kakakku sendiri, dan orang yang mencintaiku adik tiriku. Kusandarkan kepalaku di bangku depan kamar kostku, sulit aku mempercayainya. Tapi inilah kenyataan yang harus dihadapi. Pantas saja sumsum tulang belakangku cocok 99%. Aku bisa menerima Angin sebagai kakakku, tapi entah dengan Senja. Bisakah ia menerimaku sebagai kakaknya? Seharusnya bisa, kalau memang ia benar mencintaiku.

(Bersambung nggak ya…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s