Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

Cerita sebelumnya klik di sini

RINTIK hujan sore itu membuat senja tak sewarna teh lemon. Aku masih terduduk di kedai kopi langgananku, mencecap Caramel Machiatto. Sudah lama sekali aku tak mengunjungi kedai ini, apakah Angin masih sering ke kedai ini semenjak kejadian tempo hari, saat ia bertemu dengan Senja. Entahlah, kemarin aku lupa menanyakannya. Jarum jam bergerak lambat di salah satu sudut kedai, sudah beberapa kali aku meliriknya, seperti seseorang yang menunggu sesuatu. Sebuah pesan singkat masuk, membuyarkan lamunanku. “Kamu di mana, Lang? Aku ingin bertemu.” Bunyi pesan itu, dikirimkan oleh Senja.

Senja, tak habis kupikir ia berani melakukan hal seperti kemarin sore. Memang Senja cantik, kalau boleh kubilang ia lebih cantik dari kakaknya. Sejak mengenalnya, aku sudah menganggap ia seperti adikku sendiri. Tetapi ciuman kemarin, ah ciuman yang lagi-lagi mendesirkan darahku saat mengingatnya. Aku belum pernah merasakan ciuman yang seperti itu. Apakah aku mulai ketagihan dengannya? Apakah aku mulai menaruh hati padanya? Entahlah.

Senja, perempuan berkacamata dengan frame tebal dan rambut dikuncir mirip ekor kuda mendekatiku.

“Hei…” sapanya sambil melambaikan tangan. “Boleh ditemani?” tanyanya.
“Apa sih, ya bolehlah,” sahutku.
“Masih marah sama aku? Maaf ya soal yang kemarin, aku ke bawa suasana.”
“Siapa yang marah sama kamu. Nggak, aku nggak marah. Ke bawa suasana? Oh suasana hujan bikin horny gitu?” ledekku.
“Ilalang!” serunya, dengan wajahnya mulai merah merona.
“Iya, aku juga minta maaf soal ciuman itu.”
“Ngapain minta maaf, aku juga seneng kok dicium kamu. Boleh minta lagi?” ucapnya sambil memejamkan mata dan memajukan bibirnya.

Ku kecup keningnya tiga kali.

“Kok bukan di bibir lagi?”
“Yeee… malu! Hmm… by the way ukurannya berapa? Kemarin aku nggak ngeliat jelas,” godaku.
“Ilalang…!!!”

*

HUJAN belum reda, sambil ditemani lagu-lagu dari Landon pigg, mobilku membelah jalan-jalan ibu kota yang sebagian mulai tergenang. Ingatanku kembali menerawang saat Ilalang mengecup keningku di kedai kopi tadi. Aku bisa menghitungnya, ia mengecupku tiga kali. Ah, bukan, ia menecupku empat kali. Bukan, bukan, ia mengecupku lima kali. Ah, entahlah berapa kali, yang penting malam ini aku senang sekali. Apa lagi saat tadi ngobrol dengannya, matanya tak lepas dari mataku, semacam ada sesuatu. Mungkinkah Ilalang mulai tertarik denganku?

Ciiiittttttzzz…

Tiba-tiba sebuah sedang mewah berhenti mendadak di depan mobilku. Untung saja rem mobilku pakem. Dua orang bertubuh tegap keluar dari mobil itu dan menghampiri mobilku. Sekalipun aku pernah berlatih bela diri, nyaliku ciut juga bila berhadapan dengan dua orang bertubuh besar-besar tersebut.

Kaca mobilku diketuk. Dengan menghimpun sedikit keberanian aku membuka kaca jedela mobilku.

“Mbak Senja?” tanya salah seorang dari mereka.
“I… iya… ada apa ya?” sahutku, dengan nada bergemetar. Takut.
“Mari, ikut kami, Mbak.”
“Kenapa saya harus ikut kalian?” tanyaku. Agak sedikit berani.
“Tuan Sastromiharjo masuk rumah sakit, Mbak. Saya disuruh Mbak Angin menjemput Mbak.”
“Baiklah, di rumah sakit mana Ayah saya dirawat,”
“Medistra, Mbak,”

*

INI untuk kali pertama sejak 3 tahun lalu bertemu dengan Ayah di hari pemakaman Ibu. Aku melihatnya terkulai di bangsal ICCU, ia tengah ditemani Mbak Angin. Lagi-lagi cuma penyakit yang mampu membuatnya beristirahat dari kegiatan bisnis. Dari perbincangan dengan Mbak Angin tadi, dokter mengatakan Ayah harus segera mendapatkan donor sumsum tulang belakang, karena obat-obatan saja sudah tak mampu meredam sel-sel kanker yang berkembang dengan pesat. Masalahnya adalah golongan darah Ayah B rhesus Negatif. Sementara kami, anak-anaknya, golongan darahnya bukan B rhesus Negatif.

Setelah mendengar kabar demikian, entah mengapa pikiranku tertuju pada Ibu Dias. Ibu Dias waktu itu bercerita, Ilalang saat SMP pernah mengalami kecelakan motor dan harus mendapatkan transfusi darah. Ya, golongan darah Ilalang B rhesus Negatif. Secercah cahaya harapan tiba-tiba saja menyala di depan mataku. Se-benci apa pun aku pada Ayah, aku tetap tak tega melihatnya terkulai lemah.

“Lang, maaf, malam-malam mengganggu kamu,” ucapku melalui telepon.
“Iya, nggal apa-apa. Memangnya ada apa? Tumben.”
“Ayahku masuk rumah sakit, Lang.”
“Lalu?”
“Ia perlu donor sumsum tulang belakang, segera,” jelasku sambil terisak.
Leukimia?”
“Iya. Masalahnya jarang ada orang yang memiliki golongan darah B rhesus Negatif, Lang.”
“Aku, B rhesus Negatif.”
“Kamu mau bantu aku dan Mbak Angin, Lang?”
“Untuk kalian, apa aku bisa menolak? Sudah jangan menangis, besok pagi-pagi aku ke rumah sakit untuk mengeceknya. Semoga cocok.”

Terima kasih, Lang. Kamu memang malaikat penyelamat bagiku, mungkin juga bagi Mbak Angin, kataku dalam hati sesaat setelah Ilalang menutup teleponnya.

One thought on “Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s