Cintaku Mentok di Kamu

tumblr_m9bdqhfwvq1rznuy3o1_500_large1.jpgCerita sebelumnya klik di sini

“LANG, tadi sepertinya Senja datang deh. Tapi nggak tahu kenapa terus balik lagi. Pake nangis segala,” seorang teman memberitahuku perihal kedatangan Senja.

Setelah diberitahu demikian, dua hal yang ada di pikiranku berkecamuk. Aku senang Senja sudah pulang, jadi bisa berbagi tugas denganku. Tetapi di sisi lain aku bingung bagaimana menjelaskan bahwa Yayasan Suara Hati yang membantu terlaksananya pembuatan iklan layanan masyarakat ini didirikan Angin. Ah, pasti Senja sudah melihatku berbincang dengan Angin tadi. Makanya ia memutuskan kembali ke kantor daripada harus bertemu dengan Kakaknya. Mungkin.

Selepas syuting selesai, aku segera bergegas menemui Senja untuk menjelaskan semuanya agar tak ada kesalahpahaman. Tapi sayangnya, Senja tak ada di kantor, OB yang kutanyai pun tak melihat Senja kembali ke kantor. Di bawah siraman hujan, aku melaju dengan bersepeda motor menembus derasnya hujan. Tiga puluh menit kemudian, sampailah di depan pintu kamar Apartemen tempat Senja tinggal. Dengan basah kuyup aku dipersilakan masuk olehnya.

Wajah Senja sembab seperti habis menangis, Beberapa jenak kami saling menunggu untuk siapa duluan yang memecahkan keheningan di antara kami. Suasana yang tidak biasa.

“Jadi, Yayasan Suara Hati itu punya Mbak Angin?” tanyanya, ternyata Senja mendahuluiku.
“Iya, maaf aku nggak bilang ke kamu,” sahutku sambil tertunduk.
“Hmm…” dengusnya sambil diiringi senyum kecut.
“Tak apa. Jadi enak kan bisa deketan terus?” lanjutnya, dengan nada sinis.
“Dekat apa? Aku nggak ada apa-apa dengan Angin,” bantahku.

Lagi, kami tenggelam dalam keheningan masing-masing.

“Aku cemburu, Lang,” kembali Senja mendahuluiku. “Aku… aku… aku…” Senja tak mampu melanjutkan kata-katanya sebelum pada akhirnya air matanya meleleh dan kembali ia seka. Lidahku kelu. Aku memang tak pandai menghadapi perempuan yang bersedih. Aku hanya mampu mendekapnya erat.

“Aku mencintai kamu, Lang,” ucapnya, pelan, di ujung daun telingaku.
“Tapi aku sudah menganggapmu sahabat, Senja. Tak lebih.”

Sejurus kemudian ia melepaskan dekapanku. Menjatuhkan tatapnya yang dalam nan sayu tepat ke tengah-tengah manik mataku.

“Aku cinta kamu, Lang. Cinta…” ucapnya seraya berteriak, sambil menggenggam tanganku dengan tatap masih tak lepas dari manik mataku.
“Aku nggak bisa, Senja,”

Senja melepas genggaman tangannya, lalu melangkah ke depan jendela yang tirainya ia singkap. Dan kemudian membalikan tubuhnya ke arahku kembali. Satu per satu jemarinya meloloskan kancing yang ada di kemeja flannelnya hingga tersisa satu kancing paling bawah dan membuat payudaranya yang masih tertutup Bra menyembul, terlihat oleh mataku.

“Kau tak ingin menikmatiku, Lang?”

Senja berjalan mendekatiku sambil meloloskan satu kancing yang tersisa. Wajahku dan wajahnya kini hanya berjarak tak lebih dari lima centimeter. Nafasnya yang memburu terhirup hidungku. Kami bertukar liur hanya dalam hitungan beberapa detik saja, setelahnya jemariku kembali mengancingi kemeja flannelnya yang sempat ia buka.

“Aku nggak bisa, Senja. Kamu sahabatku, kamu juga sudah kuanggap adikku,” ucapku sebelum aku meninggalkan kamar Apartemennya.

*

SEPENIGGALAN Ilalang aku hanya tercenung meratapi apa yang baru saja kulakukan terhadapnya. “Bodoh! Ilalang tak bisa ditaklukan dengan tubuhmu, Senja!” sesalku dalam hati. “Tapi, kalau Ilalang tak menyukaiku kenapa ia mencium bibirku? Bahkan ia menikmatinya bukan?”

Aku akan menunggumu, Ilalang.

One thought on “Cintaku Mentok di Kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s