Sambungan Hati Jarak Jauh

Cerita sebelumnya klik di sini

SINAR matahari menelusup malu-malu melalui tirai kamarku, menyentuh pipiku. Aku terbelalak menatap jam wekker yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit dan sesaat kemudian aku terperanjat dari tempat tidur menuju kamar mandi. Di kamar mandi, disaat sikat gigilah aku baru menyadari kemarin pengajuan cutiku disetujui. Ya, walaupun cuma dapat empat hari, tapi tidak mengapa daripada aku tidak fokus pada kerjaan dikarenakan masih kepikiran pertemuan dengan Mbak Angin di kedai kopi petang itu. “Kasihan Ilalang, pasti kerepotan me-manage anak-anak. Tapi sudahlah, kemarin ia bilang tidak keberatan kok,” gumamku dalam hati.

Hari ini aku akan ke puncak, menikmati udara segar sekalian menjaring ide-ide buat dibawa ke Jakarta. Kebetulan aku dipinjami Villa oleh salah satu sahabatku. Dengan menggunakan Honda Jazz warna pink aku membelah jalan menuju puncak, hingga di suatu tikungan harus berhenti mendadak. Seorang ibu paruh baya tak sengaja terserempet body mobilku, dengan agak sedikit panik aku keluar dari mobil. Pikiranku berkecamuk, takut kalau-kalau ibu itu terluka parah. Sementara aku tak membawa alat komunikasi untuk menghubungi orang yang bisa kuhubungi, semisal Ilalang. Tapi untunglah ibu tersebut tak terluka apa pun, hanya beberapa sayurannya tergilas roda mobilku.

“Ibu, Ibu baik-baik saja? Maaf, Bu, saya nyetirnya nggak hati-hati,” ucapku.
“Nggak apa-apa, Neng. Ibu yang jalannya meleng,” sahutnya, sambil membersihkan dasternya dari tanah.

Kemudian aku mengantarkan ibu yang bernama Bu Dias tersebut ke Klinik terdekat, tetapi ia tidak mau. Ia minta diantarkan pulang saja karena menurutnya ia baik-baik saja.

Rumah Bu Dias tidak terlalu besar, pun tidak terlalu sempit. Ia tinggal sendirian di rumah ini. Dulu pernah ditemani seorang pembantu, tetapi sejak diajak menikah oleh pacarnya, pembantu itu tak lagi balik lagi. Bu Dias punya dua orang anak, perempuan dan laki-laki. Anak perempuan Bu Dias, menurut cerita yang ia ceritakan padaku ikut bersama mantan suaminya yang menceraikannya puluhan tahun lalu. Sementara anak lelakinya ikut dengannya. Kata Bu Dias, anak lelakinya usianya sekitar enam tahun lebih tua dari aku. Ia pun menunjukkan foto anak lelakinya padaku. Dan ternyata wajahnya mirip Ilalang.

“Ilalang…” ucapku pelan.
“Neng Senja kenal?” tanyanya.
“Ini mirip teman kantorku, Bu. Ilalang namanya.”
“Ini teh memang Ilalang. Berarti eneng kerja di Primatama Advertising juga?” tanya Ibu Dias sambil memperlihatkan amplop bertulis Primatama Advertising.
“Iya, Bu. Kebetulan sekali,” sahutku.

Sore menjelang, sebelum kabut menuruni jalan-jalan aku hendak berpamitan. Tetapi Bu Dias melarangku. Ia menginginkan aku tinggal dengannya beberapa hari saja. Aku pun tak keberatan, lagi pula aku ingin tahu latar belakang lelaki yang aku sukai langsung dari Ibunya sendiri. Kuputuskan untuk menghabiskan cutiku di kediaman Bu Dias.

*

TERNYATA memimpin meeting dan me-manager-i sebuah team kreatif itu tak semudah dibayangkan. Andai saja kemarin aku tak menyanggupi permintaan Senja. Aku tak kelimpungan menghadapi tingkah anak-anak, dan dengan deadline syuting iklan layanan masyarakat tinggal sebentar lagi. Menambah tekanan di kepalaku.

Beberapa kali kucoba untuk menelepon Senja, tapi ponselnya tak aktif. Kalau sudah seperti ini aku butuh wejangan dari Ibu. Sebab cuma kata-katanya yang bisa menenangkanku. Ku tekan nomor-nomor di ponselku.

“Halo, Ibu… ah biasa, Bu, masalah kantor. Aku baru kali ini memimpin sebuah team dalam sebuah project. Sebenarnya bukan aku awalnya, tapi karena suatu hal jadi aku yang harus memimpin sekarang,” ucapku, dan seorang wanita di seberang sana yang bukan lagi suara Ibu menimpali.
“Kamu pasti bisa, Lang. Besok aku sudah pulang kok,” ujarnya.
“Senja?! Ngapain kamu di rumah Ibuku? Kok bisa?” tanyaku.
“Nanti aku ceritakan, pokoknya semangat! Muuuacchh…” balasnya sambil memberi kecupan, sebelum akhirnya teleponnya ditutup.

Aku masih tercenung memikirkan apa yang baru aku dengar, dan tak habis pikir bisa-bisanya Senja ada di rumah Ibu, bukankah aku juga belum pernah menceritakan perihal Ibuku ke dia? Dan beberapa saat kemudian lamunanku tersadarkan oleh seorang teman yang memberitahuku bahwa rekanan dalam syuting untuk iklan layanan masyarakat telah menunggu di ruangan meeting. Ia adalah seorang pendiri Yayasan Suara Hati, yayasan yang menaungi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus, bersedia membantu pembuatan iklan layanan masyarakat yang tengah digarap perusahaan periklanan kami.

“Angin?!” ucapku, terkejut.

Seorang perempuan dengan sepasang lesung pipi dan andeng-andeng di dagu telah menanti dengan beberapa stafnya di ruang meeting.

(Mungkin bersambung, mungkin juga tidak. Mungkin.)

5 thoughts on “Sambungan Hati Jarak Jauh

  1. akankah kisah senja-angin-ilalang akan berkelanjutan seperti kisah senja-angin-dimas? dan haruskah ku menunggu tujuh hari lagi untuk mengetahui endingnya?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s