Cuti Sakit Hati

Cerita sebelumnya klik di sini

NAMAKU Senja Larasati Putri Sastromiharjo, putri dari seorang pengusaha terkenal di negara ini. Tetapi pelabelan ‘putri dari seorang pengusaha terkenal’ adalah beban bagiku. Aku tak suka memakai label itu bila sedang diperkenalkan atau memperkenalkan diri. Sebab itu, sejak mulai berkuliah aku memutuskan keluar dari “istana” yang menurutku terlalu banyak aturan. Selain itu, aku juga makin tak tahan dengan desakan Ayah yang menyuruhku untuk berkuliah di Fakultas Ekonomi, agar kelak aku bisa meneruskan Bisnisnya. Padahal minatku justru pada dunia seni dan hal-hal yang berhubungan dengan seni. Dan sejak memutuskan hidup mandiri, aku menanggalkan nama belakangku menjadi Senja Larasati saja.

Aku memiliki seorang kakak yang begitu aku sayangi. Angin Anggita. Karena ia, aku bisa tahan untuk tetap tinggal lebih lama di rumah itu, setidaknya sampai lulus sekolah menengah atas. Aku sangat menyayangi Mbak Angin, ia bagiku seperti pohon yang rindang, yang mampu menyembunyikan segala macam keluh-kesahku di akar-akarnya. Dan ranting-rantingnya yang ditumbuhi banyak dedaunan adalah tempatku mengikat serta menggantungkan mimpi-mimpi. Mbak Angin adalah seseorang dengan keterbatasan daya pendengaran. Ia tuna rungu. Sekalipun demikian, aku tak pernah malu memiliki Kakak seperti Mbak Angin. Bahkan bila ada orang yang mengejeknya, aku takkan pernah ragu memberi bogem mentah. Sekali waktu aku pernah sangat marah pada Ayah, tatkala ia menjelaskan maksudnya kenapa ia mendesakku masuk ke Fakultas Ekonomi dan kemudian meneruskan bisnisnya. Ia tak mempercayai bisnisnya dipegang oleh Mbak Angin. Hal demikianlah yang membuatku semakin yakin untuk segera keluar dari rumah. Ada hikmah yang kudapat saat memutuskan hidup mandiri, aku bisa mengembangkan passion-ku dan Mbak Angin mendapat kepercayaan dari Ayah.

*

SUATU senja Mbak Angin mampir ke kost-ku, ia bercerita tentang seorang pria yang melamarnya malam sebelumnya. Ia pun memamerkan padaku sebuah cincin berwarna silver di jari manisnya. Aku bahagia kakak kesayanganku akan segera mengakhiri masa lajangnya. Kemudian Mbak Angin mengeluarkan sebuah buku catatan berwarna cokelat, ia memintaku merancang gaun pernikahannya. Ah, aku memang berkuliah di Fakultas Seni Rupa, tapi untuk membuat sebuah desain gaun pernikahan belum pernah sama sekali. Aku takut hasilnya tidak karuan. Tapi tetap saja Mbak Angin memaksaku. Jadilah beberapa buah rancangan desain gaun pengantin. Senang rasanya dapat menyenangkan hati Mbak Angin.

Setelah Mbak Angin pergi dari kost-ku, tak beberapa lama, Dimas datang dengan wajah murung. Semacam orang yang meminta pengampunan. Siapakah Dimas? Hmm… Dimas inilah seseorang yang membuat aku dan Mbak Angin bertengkar dan hubunganku dengan Mbak Angin tak lagi seperti sebelumnya.

*

MALAM itu Dimas datang, dan memohon maaf padaku. Entah apa yang ia perbuat, ia tak menceritakannya dengan jelas padaku. Ia hanya mengatakan ia tak mungkin menikah denganku. Ah peduli setan, aku pun tak punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat ataupun di waktu-waktu yang akan datang. Bagiku komitmen kesetiaan tak harus dibangun dalam sebuah lembaga pernikahan. Banyak orang yang menikah tetapi tak mampu menjaga komitmen kesetiaannya. Mereka berselingkuh! Jadi aku tak ambil pusing mengenai permohonan maaf Dimas kepadaku.

Malam semakin larut, udara dingin mulai menyekap, tetapi suasana di dalam kamar kost-ku kian menghangat. Entah siapa yang memulai, aku dan Dimas sudah dalam keadaan telanjang dan berpacu mencapai puncak asmara. Hal ini bukan yang pertama, yang aku dan Dimas lakukan. Betapa tersentaknya aku, saat pintu yang lupa dikunci terbuka. Aku yang tengah berada di atas tubuh Dimas segera mengambil selimut untuk menutupi tubuh telanjangku. Dan sosok di depan pintu tak kalah kagetnya denganku. Mbak Angin yang kembali ke kostku untuk mengambil syalnya yang tertinggal, ia hanya bisa terperangah menatap tubuh kami yang berpeluh. Dari peristiwa itulah aku mengetahui bahwa Dimas adalah lelaki yang melamar Mbak Angin malam sebelumnya. Mbak Angin meninggalkan kost-ku dengan membawa luka, meninggalkan penyesalan di hatiku. Sementara Dimas kuusir dari kost-ku beserta kenangan-kenangannya, ia pun pergi, mungkin dengan membawa kebanggaan telah menghancurkan hubunganku dengan Mbak Angin. Entahlah.

*

“ORANG ketiga?” tanya Ilalang, di kedai kopi, petang itu.

Aku tak bisa menjawab. Aku takut Ilalang pun sama dengan Ayah dan Ibu, menghakimiku.

“Besok aku mau mengajukan cuti seminggu. Kau mau kan menggantikan aku, menjadi pimpinan project?”

Ilalang tak menjawab, ia hanya memelukku dan mengecup keningku. Nyaman sekali.

(Mungkin bersambung, mungkin juga tidak. Mungkin)

One thought on “Cuti Sakit Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s