Pukul Dua Dinihari

Cerita sebelumnya klik di sini

BUKU catatan berwarna cokelat itu masih tergeletak di samping komputer di dalam kamarku. Beberapa kali aku mencoba untuk membukanya, tapi entah mengapa selalu saja perasaan aneh itu muncul. Aku takut merasa bersalah membaca catatan harian seseorang, tapi di sisi lain aku penasaran ingin membacanya. Bukankah dari sanalah, dari dalam buku itu aku dapat menemukan informasi tentang perempuan berlesung pipi yang kujumpai tempo hari di kedai kopi dekat kantorku? Arrrghh… Kututup mukaku dengan bantal dan mengurungkan niat itu, kemudian terlelap.

Pukul sudah menunjukkan waktu dini hari, lebih tepatnya pukul dua malam. Saat tiba-tiba mimpi itu membangunkanku. Kenapa perempuan itu begitu mudah menelusup ke dalam mimpiku? Apakah aku sedemikian memikirkannya hingga alam bawah sadarku pun ikut merasakan apa yang hatiku rasakan? Entahlah, padahal aku baru tidur tak lebih dari satu jam. Kuseret kakiku menuju kursi di depan meja komputer, kemudian untuk melelapkan kembali rasa penasaranku rasa-rasanya tak ada cara lain selain membacanya. Aku berharap Angin -perempuan berlesung pipi itu- nanti dapat memaafkan kelancanganku karena membaca buku catatannya.

Lembar demi lembar kubuka, tak ada hal menarik selain daripada informasi bahwa Angin adalah seorang aktivis sosial, selain itu aku juga berasumsi ia seorang perancang busana karena di dalam catatannya juga tertera coretan desain-desain gaun pernikahan.

Dan pada beberapa lembar terakhir barulah kutemukan sebuah catatan tentang dirinya, aku menyukai kata-kata yang ia tulis dan ia digarisbawahi. Kata-kata itu semacam sebuah semangat entah untuk siapa, “Pada akhirnya akan ada saatnya kita menyadari dan memahami cinta tak harus memiliki, karena pada hakikatnya cinta tak lebih hanya sebuah titipan yang dipercayakan Tuhan pada hati yang murni, yang mau berbagi kedukaan maupun keriaan bersama-sama dalam waktu yang tak tentu. Dan mungkin dengan menyadari cinta hanyalah sebuah titipan, kita tak akan pernah merasa takut kehilangan. Dan kalaupun cinta harus memiliki, hal itu bukan menjadi satu-satunya perihal penting, karena merawat cinta tak lebih mudah dari merawat keyakinan diri sendiri.”

Kata-kata yang begitu sederhana, tapi menghunjam tempat pada sasaran. Telak.

*

JAM wekker berbunyi lebih nyaring. Aku kesiangan!

Hari ini ada meeting untuk sebuah project iklan baru, untung saja tadi yang memimpin rapat adalah Senja. Jadi walaupun telat 15 menit aku masih boleh masuk ke dalam ruangan meeting. Project iklan baru ini dimanageri oleh Senja, dan aku ditunjuk olehnya untuk membuat konsep-konsep iklan yang lebih kekinian. Ah, itu sih memang pekerjaanku. Tapi satu team dengan Senja, membuatku agak sedikit risih. Bukan, bukan karena Senjanya. Tapi karena ada saja omongan dari belakang yang mengatakan aku akan dianak-emaskan. Sebab menurut info dan gosip- kantor yang berkembang, Senja menyukaiku. Duhhh…

“Tumben telat…” sapa Senja saat mendatangi kubikelku, kemudian ia mengambil kursi dari kubikel sebelah dan duduk di sampingku. “Gimana, sudah punya konsep yang kece, belum?” tanyanya.
“Iklan layanan masyarakat ya? Hmm… belum sih, tapi nanti deh aku cari konsepnya,” sahutku.
“Aku percaya kok, kamu pasti bisa mencari konsep yang kece. Bosankan ngeliat iklan layanan masyarakat yang gitu-gitu aja. Harusnya tuh sekece iklan-iklan komersil.”
“Bisa aja sih sekece iklan-iklan komersil, tapi kan budgetnya juga harus besar. Memangnya Kemensos mau mengeluarkan uang lebih besar lagi?”
“Iya sih, lagi-lagi soal biaya produksi. Ah tapi pokoknya aku percaya kok sama kamu, Lang. Kamu pasti bisa buat konsep yang keren. Eh itu buku apa, Lang?!”

Kemudian Senja mengambil buku berwarna cokelat yang ada di tumpukan paling atas di atas berkas-berkas yang ada di kubikelku.

“Cie… Ilalang punya buka harian juga, baca ah…”
“Bukan punya aku. Itu aku menemukannya di kedai kopi depan kantor. Terjatuh dari tas seorang wanita. Mau aku kembalikan. Jangan dibaca!”

Telat. Senja sudah membuka buku catatan itu sampai lembar terakhir. Dan ia menemukan sesuatu yang mengernyitkan dahinya. Samar-samar terdengar gumaman suaranya.

“Angin Anggita Putri Sastromiharjo,” ucapnya

Ia begitu lama dan begitu dalam memandangi lembar terakhir di buku catatan berwarna cokelat itu. Seperti sedang mengingat-ingat sesuatu yang tidak jauh dari masa lalu tapi juga tidak dekat dari masa kininya.

“Senja, kenapa?” tanyaku.
“Namanya mirip dengan seseorang yang paling aku sayangi,” sahutnya
“Siapa?”
“Kakakku…”

(Mungkin bersambung, mungkin juga tidak. Mungkin)

4 thoughts on “Pukul Dua Dinihari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s