Orang Ketiga Pertama

Cerita sebelumnya klik di sini

SUDAH dua minggu aku menyambangi kedai kopi di depan kantorku. Menanti sosok berlesung pipi itu duduk di meja nomor 7. Aku menilik jam di tangan kananku, waktu sudah beranjak pukul tujuh petang, harusnya aku sudah kembali ke kantor untuk meeting lanjutan mengenai penjabaran konsep iklan layanan masyarakat yang akan kutawarkan pada team dan juga Senja. Kali ini sepertinya Angin juga tidak akan datang, sebenarnya sedang kemana dia.

Aku membaca ulang buku catatan berwarna cokelat miliknya. Mengeja namanya mengingatkan aku pada ucapan Senja tempo hari. Senja tak pernah bercerita memiliki kakak yang tuna rungu, apakah ia malu menceritakan itu padaku? Padahal apa pun pasti akan ia ceritakan padaku, bahkan umtuk hal-hal konyol dan memalukan semacam saat ia terjerembab di selokan saat makan bakso di depan Mall ternama kota ini atau saat ia menelusup masuk ke toilet pria karena saking kebeletnya dan terkunci di dalamnya. Semua ia ceritakan tanpa malu-malu.

Pintu kaca di kedai kopi itu bergemirincing, perempuan dengan kacamata berframe tebal masuk. Senja. Tumben sekali ia mendatangi ke kedai kopi ini, bukankah ia sangat alergi dengan wangi kopi.

“Hai… tumben,” ucapku sambil mempersilakan duduk.
“Dari tadi aku telpon nggak diangkat! Benar kan feelingku, pasti kamu di sini,” sahutnya.

Aku memeriksa ponselku. Benar saja, ternyata modul silent-nya belum ku non-aktifkan.

“Iya maaf… emangnya ada apa sih? Tumben nyariin, kangen ya?” ledekku
“Nggak, ngapain kangen sama kamu. Kantor sepi belum ada yang balik buat meeting, jadi ke sini deh.”
“Kopi? Teh? Atau yang lain?”
Lemon Tea aja.”

Tak beberapa lama setelah aku memesankan minuman untuk Senja, dan kembali ke meja dengan membawa Lemon Tea untuknya. Pintu kaca kedai kopi itu kembali bergemerincing, perempuan berlesung pipi itu datang. Ya seperti biasa duduk di meja nomor 7 dan melakukan aktivitas yang sudah seperti menjadi ritual baginya. Aku mengamatinya, dan sesaat kemudian wajahku yang tengah mengamatinya tertangkap olehnya. Lantas ia melemparkan senyum ke arahku. Manis. Ah lebih manis dari Caramel Machiato yang baru saja aku teguk.

“Sebentar, aku mau mengembalikan buku catatan ini,” kataku pada Senja yang sedang menikmati Lemon Tea sambil membaca-baca majalah.

Dengan menggunakan bahasa isyarat sebisaku, yang ku pelajari dua minggu ini melalui google dan youtube, aku meminta izin pada Angin untuk ngobrol-ngobrol sebentar.

“Mau ngobrol apa? Hmm… nggak apa-apa kan, kalo ngobrolnya pake cara seperti ini?” tanyanya sambil menyerahkan buku catatan yang kemungkinan baru.
“Nggak apa-apa, tulisanku masih bisa terbaca kan? Oia, buku catatanmu tertinggal kemarin.” sahutku, sembari mengembalikan buku catatan yang baru juga buku catatan berwarna cokelat yang kemarin tertinggal.
“Iya, masih kok. Terima kasih ya, kukira jatuh di mana. Untung saja.”
“Memang segitu pentingnya buku itu? Lain kali jangan buru-buru.”
“Mbak Angin…!!” seru Senja dan segera bergegas menuju ke meja di mana aku dan Angin berada.

Tetapi Angin terlihat tidak senang. Ia segera membereskan barang-barangnya, dan pergi meninggalkan ku yang terbengong-bengong. Sementara Senja mengejar Angin sampai di parkiran, tapi terlambat. Angin sudah pergi dengan sedan mewahnya.

“Memangnya ada apa?” tanyaku, sesaat sekembalinya Senja dari parkiran dan terlihat ngos-ngosan. “Minum dulu,” sambungku.
“Mbak Angin masih marah denganku,” gumamnya, sambil menundukan kepala. “Kalau kamu baca catatannya kemarin, kamu pasti tahu penyebabnya, Lang.” tambahnya.
“Orang ketiga?”

Entah kenapa di pikiranku terlintas kata itu. Tapi memang benar, dibuku catatannya aku membaca ia pernah dikecewakan dengan orang yang ia sayangi. Senja kah? Entahlah.

(Ini jelas pasti bersambung tho ya…)

6 thoughts on “Orang Ketiga Pertama

  1. Angin itu kakak kandung, kakak angkat, atau kakak apanya Senja?
    Kenapa pas di kedai bukan pelayan yang menghampiri Senja, layaknya mereka menghampiri Angin? Mereka tak kenal Senja kah? *sumpel mulut Aam pake pisang goreng*

    • senja adik angkat angin atau bukan, itu masih rahasia. jenis pelayanan di kedai itu mirip-mirip j.co/starbuck. iya, yang dikenal cuma angin. senja jiwanya pemberontak, sedangkan angin anak penurut dan kesayangan orangtua mereka, sejak kuliah senja sudah memutuskan hidup sendiri. *yaaaaahhh dibocorin deh* *getok aam*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s