Misteri Sepatu Merah

Tubuh besar itu lagi-lagi menindihku, dengan setengah sadar aku berusaha berontak dan coba berteriak. Namun kata-kata hanya tertinggal di tenggorokan saja, tindihannya begitu sesakan dada. Dalam kesetengah-sadaranku, kali ini aku merasakan ada benda tumpul menusuk-nusuk liang vaginaku. Sakit sekali. Dan sesaat kemudian aku merasa ada lelehan darah keluar dari sela-sela selangkanganku. Hanya itu yang aku ingat sebelum akhirnya matahari pagi yang merembas dari kisi-kisi jendela membangunkanku. Dan sebelum beranjak dari tempat tidur, aku mendapati perihal aneh. Lelehan darah yang keluar dari sela-sela selangkanganku seharusnya ada bekasnya baik di celana dalamku ataupun di sprei tempat tidur, tetapi nyatanya semua normal-normal saja. Apakah semua mimpi? Tapi kalau mimpi, kenapa begitu tampak nyata sakit yang aku rasakan, dan aku masih ingat betul sosok bertubuh besar yang sering menindihku. Wajahnya berbulu dengan mata merah menyala.

Beberapa kali hal demikan kutanyakan pada Ibu, tapi ia selalu saja bergumam aku kebanyakan nonton film horror-lah, keseringan baca novel misteri-lah, lupa berdoa sebelum tidur-lah. Padahal aku sering baca doa sebelum tidur, tapi tetap saja sosok bertubuh besar itu tetap menindihku. Dan perihal semalam sungguh membuatku semakin penasaran.

“Nad, kamu kuliah hari ini?” tanya Ibu yang tiba-tiba ada di depanku.
“Ah, Ibu mengagetkanku saja. Iya, Nadya kuliah nanti jam sembilan. Kenapa?” sahutku, balik bertanya.
“Ibu sekalian ikut ya. Mau belanja bulanan, tadinya mau ikut Ayahmu, tapi dia berangkat pagi-pagi ke Bandung.”
“Iya, Nadya mandi dulu.”

Di kamar mandi kuperhatikan dengan seksama vaginaku yang masih terasa perih, namun tak ada bekas luka apa pun. Apa yang sebenarnya terjadi?

*

Beberapa minggu lalu aku menemukan sepasang sepatu berwarna merah di gudang belakang rumah. Sepatu itu terbungkus kain putih dan dimasukan ke dalam sebuah kotak kayu berukir. Aku bertanya pada Ibu, kali saja itu sepatunya dan aku ingin meminjamnya untuk ke acara ultah sahabatku Arini. Tetapi ternyata bukan, Ibu mengira-ngira itu sepatu milik pemilik lama rumah ini yang juga memiliki anak gadis. Karena aku suka dengan modelnya jadi aku meminjamnya dan akan segera kukembalikan ke tempatnya setelah selesai kugunakan. Ibu pun mengizinkan.

Setelah memakai sepatu itu, entah mengapa aku mengalami keanehan. Cowok-cowok di kampus yang biasanya tak acuh padaku kini sikapnya berbeda, mereka begitu ramah justru cenderung menggodaku saat aku melintas di hadapan mereka. Aku pun merasa lebih anggun dan percaya diri saat menggunakan sepatu itu. Maka kuurungkan niatku untuk segera mengembalikan sepatu itu ke gudang belakang.

Namun rasa-rasanya ada efek dari hal yang kulakukan beberapa minggu lalu itu. Setelah memakai sepatu itu, sosok bertubuh besar sering menghampiri dan mengganggu tidurku. Mungkinkah sepatu merah itu penyebab dari kejadian semalam?

*

Malam ini aku telah menghabiskan beberapa cangkir kopi, berharap kantuk tak datang. Tapi ternyata aku terlelap juga. Di dalam tidurku aku bermimpi ada seorang gadis yang datang menghampiriku. Ia cantik rambutnya panjang dan memakai gaun merah muda. Gadis itu menyuruhku untuk segera mengembalikan sepatu merah ke gudang belakang. Ia juga berkata sepatu miliknya itu memiliki kutukan. Ia bercerita sepatu itu diberikan oleh Ibunya saat merayakan ulang tahun ke-18. Rupa-rupanya sepatu itu bukan sepatu biasa. Sepatu itu akan membuat orang yang memakainya akan tampak cantik, namun di saat bersamaan pemakainya harus bersedia melayani Dong-inggo, nama sosok bertubuh besar yang kerap menindihku. Dong-inggo menyetubuhi tubuh pemakai sepatu merah itu bukan untuk memenuhi hasrat seksualnya saja, tetapi ia juga menyerap energi pemakai sepatu merah agar Dong-inggo menjadi lebih kuat. Konon di negeri Jin, Jin yang paling kuatlah yang akan disegani. Berbanding terbalik dengan Dong-inggo, si pemakai sepatu merah justru akan lemah dan kemudian akan meninggal. Sebelum gadis bergaun merah merah muda itu menyelesaikan ceritanya, tiba-tiba datanglah Dong-inggo, dan gadis bergaun merah muda itu bergegas menghilang. Masih di dalam mimpiku, Dong-inggo memperkenalkan diri. Ia tampan tak seperti kemarin yang dalam kesetengah-sadaranku tubuhnya dipenuhi bulu. Ia pun memperlakukanku dengan lembut, mengajakku ke istananya yang besar dan memasuki ruang tidur dengan ranjang yang terbuat dari emas. Aku pun sukarela melucuti pakaian tidurku. Dan Dong-inggo menyetubuhiku, berkali-kali ia membuatku tak berdaya menikmati puncak kenikmatan. Aku berusaha memahami bahwa ini hanya mimpi dan ingin segera terbangun, tapi saat Dong-inggo memberiku orgasme untuk yang kesekian kalinya, keinginan itu pudar justru yang ada hanya berharap Dong-inggo memasukan ‘benda tumpul’ itu ke dalam lubang vaginaku lagi dan lagi.

Sampai pada akhirnya sayup-sayup aku mendengar suara tangis Ibu memanggil, “Nak bangun, nak. Bangun…” Aku berusaha berontak dari dekapan Dong-inggo, dan untung saja gadis bergaun merah muda itu datang kembali dan membawaku lari dari istana Dong-inggo yang megah menuju pintu gerbang antara dunia gaib dan dunia fana. Sebelum aku melintasi gerbang antar dunia, gadis bergaun merah muda itu berkata bila aku mengingat kejadian di sini maka aku akan menjadi orang gila selamanya, sama seperti dirinya yang kemudian dipasung oleh Ayahnya di halaman belakang dekat gudang tua dan mati dalam pasungan.

Kubuka mataku perlahan, di sekelilingku sudah banyak orang mengaji dan memakai pakaian hitam, sementara aku sudah dikafani. Aku terbangun dan seluruh orang terkejut, berhamburan keluar. Mereka berteriak, “Ada mayat hidup… ada mayat hidup!” Cuma Ibu yang berani menghampiriku lebih dulu dan berkata, “Ibu yakin kamu kembali, Nak.”

“Bu, ada apa ini?”
“Sudahlah, tak apa. Yang penting kamu sudah kembali.”

*

Beberapa minggu setelah kejadian itu

Aku menemukan sepatu merah di bawah lemari pakaianku, sepatu itu terbungkus kain putih dan ditaruh di dalam kotak kayu berukir.

“Bu, ini sepatu Ibu ya? Nadya pinjam buat acara pesta tahun baruan ya, Bu?”
“Lho, itu kan sepatu yang kemarin kamu temukan di gudang belakang. Masa lupa?”
“Sepatuku???”

***

2 thoughts on “Misteri Sepatu Merah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s