Sepasang Puisi Singkat Bunga Liar dan Telaga Sunyi

Bunga Liar dan Telaga Sunyi

dicopy-paste dari tab favorite di twitter Bunga Liar dan Telaga Sunyi

——————————————————————————————————————————————————————————

Bunga Liar:

Tak perlu kau genapi hariku Indra, sebab ganjil dan manis adalah kuncup yang bermekaran di relung berpalung.

Pagi mendekat Indra, menjejakkan kecup yang jauh untuk kau sesap dalam terang yang dini.

Kepadamu Indra, bolehkah kuganti cat rumah hatimu berwarna oranye menyala? Agar kau tahu rasanya menjadi srengenge pagi bagiku.

Copernicus akan tersenyum di alam baka sana jika kukatakan bahwa matahari bukan lagi pusat tata surya, tapi engkau Indra.

Angkasa jernih di atas ubun, engkaukah yang menggenapkannya dengan menabur kerlip senyum yang menggantung di atas sana Indra?

Ada yang mengantar senyum lewat hangatnya senja, menelusur ke hati dan mengendap bagai bubuk coklat hangat di gelasku, Indra.

Api yang rimbun di balik senja tak pernah sedingin ini, adalah engkau Indra yang memberi arsiran di langitku.

Hingga senja meminjam pekat pun, cahaya surgamu Indra, tetap di langit mengukuhkan sinar merah jambunya.

Kepada swargapatiku, apakah cawan amerta yang kau sajikan penuh racun? Mengapa demikian melenakan hingga ke dasar ceruk amarawatimu, Indra.

Dalam semesta seorang dewi Saci, swargapati itu adalah engkau Indra.

Jika senja unguku bisu,setidaknya awan gulali tahu cara sampaikan rindu, Indra.

Senja membakar, asap luka mengepul di barat, Indra.

Indra, ada yang melayang di kamar oranye-ku. Lesap menjadi udara yang kuhirup. Rindumu kah?

Cintaku bukan pagi, siang dan malam. Ia cuma kertas kosong, minta ditulisi dengan tinta rindumu, Indra.

Jika rindu mengikis iman, akan kutebalkan dengan ciumanmu, Indra.

Dari sini kulihat senja. Ungu. Malu-malu. Sembunyi di balik bahu, Indra.

Aku cemburu pada langit Baturetno yang kau tatap, udaranya yang kau hirup, tanahnya yang kau jejak. Sedang aku, termangu menunggu rindu pulang.

Indra, malam menghentikan bunyinya, menyisakan bayangmu yang mengental dalam benak. Mengapa demikian pekat dekat dengan harap?

Engkau awanku Indra, ada dalam kubah langit tak terjangkau. Begitu manis mengawasi dari kejauhan.

Rindumu terlalu berisik di garis waktuku Indra, kubekap dengan ciuman baru rasa nanti.

Indra, jika rindu tak juga lesap dengan kata yang tumpah dari atap rindu–maka biarkan aku datang berjingkat dan duduk dalam ruang imajimu.

Pagi di bulan Juni, pada hari ketiga belas ceruk-ceruk doa terisi penuh. Benderang matahari menelisik di sela bunga sonia, Indra. Bilangan angka bertambah besar. Titik-titik menjelma garis. Mari meniup lilin Indra! Semesta mengamini doa dan harap yang terbaik, selamat ulang tahun Indra.. Selamat memimpin hari ini dan hari-hari selanjutnya.

——————————————————————————————————————————————————————————

Telaga Sunyi:

Pada langitmu, Ida. Ijinkan kusematkan rupa pelangi, agar rinai hujan tak sia-sia menyirami ladang rindumu.

Bagaimana aku bisa Ida, membiarkan diriku berada di atas sesuatu yang kelihatannya mendung, justru jernih dipenuhi bintang?

Bagaimana aku bisa Ida, memalingkan mataku dari pohon yang hanya dari satu dahannya saja sudah tampak sarat bunga?

Duhai Ida, ajarilah rindumu melafalkan namaku. Agar kelak, tak lagi tersesat di labirin malamku.

Senyummu Ida, unggun yang tengah merayakan sepi di malam mataku.

Aku ingin menjelma jadi senja merah jambumu, Ida; mengantarkan kecup cahaya ke balik tirai ponimu.

Engkau Ida, biangalala yang duduk manis di beranda senjaku. Menyambutku dengan selengkung warna indah di lekuk bibirmu.

Dan malam tak lagi jadi musuh terbesar bagi sunyi-sepiku. Semenjak kerlingmu, Ida.  Jadi penghuni langit gulitaku.

Aku ingin meregang di candu rindumu yang tak tuntas kuhisap kemarin senja, menjadi asapnya yang dilesapkan udara semesta, Ida.

Aku ingin jadi yang awam merayakan rindu, agar kecupmu Ida, jadi guru private terbaik untukku.

Duhai Ida, kita senyapkan semesta, dengan hening kecupan manja, hingga malam menuliskan kenangan mesra di antara pelita dan jelaga.

Engkaulah Ida, yang mengerjap di ingatanku, membagi pijarnya pada temaram kota di mataku.

Kelak, hujan di suatu musim penghujan akan kuberi namamu, Ida. Agar rindu bumi serupa rinduku, menggebu di kemarau berdebu.

Maukah kau mengajukan keningmu lebih dekat ke dadaku, Ida? Serupa embun lekat di rumput perdu, disiram cahaya srengenge pagi.

Telah kugenapkan bilangan rindu di jemarimu, Ida. Genggamlah jika kau mau, atau simpan saja di pelupuk waktu.

Di langitku, Ida. Kau bintang polaris, mengerjap manis. Sekalipun jarak berjuta tahun cahaya, kau yg maya lebih nyata menghuni dada.

Aku mengukur kembali luas rinduku untukmu, Ida. Kudapati perbandingan skala berapapun, hatiku masih lapang tuk kupadati dengan rindumu.

Aku edelwish kering, Ida. Penghuni pegunungan sunyi, dibawa anginmu menuju kamar jingga. Entah sebagai hiasan atau yang mengotori lantaimu.

Dan engkau pelangiku, Ida. Tanpa lengkung indahmu, hujan yang kujatuhkan di cakrawala akan kehilangan seribu warna.

Airmata mu, Ida, guguran bunga kemboja, yang terjatuh di bibir merah jambu; tempat ku memakamkan rindu.

O, Ida, mentari tertidur di matamu, di bibirmu, di seluruh tubuhmu yang malam; menjadikan aku tersesat di rimba diam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s