Sepasang Senyum Penghias Kepala

Di dalam kepala saya hingga kini tumbuh sepasang senyum. Senyum dari dua perempuan yang senantiasa mengantarkan rentang pelukan hangat, baik lewat kata ataupun sketsa. Sebab musim tak melulu membawa kehangatan, karenanya pelukan itu begitu sungguh membantu saya melawan gigil-gigil tengil bulan Desember. Entah sejak kapan saya membenci Desember, tapi kebencian saya pada Desember begitu memuncak tatkala ia merenggut sesosok perempuan yang dari matanya saja mampu menundukkan nanar matahari. Namun kali ini saya bukan sedang membicarakan perempuan itu, tetapi membicarakan sepasang perempuan yang sama-sama memiliki sayap-sayap imajinasi di punggungnya.

Senja dan Bunga Liar, sepasang perempuan itu. Senja, ia cantik sekalipun pipinya tak tirus dan dagunya tak lancip. Saya suka pada matanya yang bulat, yang sering tertusuk poninya sendiri yang malas ia potong. Sudah sering saya memintanya untuk tak menggunakan poni itu, karena tanpa poni ia tetap cantik. Satu hal yang membuat saya mengernyitkan dahi, ia tak suka dibilang cantik.  Entahlah, padahal wanita mana yang tak suka dipuji kecantikannya oleh lawan jenisnya. Ia memang aneh, ah tidak, tidak, ia unik. Saking uniknya, pria-pria akan berpikir seribu kali untuk mencoba mendekatinya. Bukan, bukan karena ia menyeramkan atau apa. Tetapi, untuk mendekatinya pastikan kamu tak akan menyakitinya dengan kebohongan atau hal-hal yang paling dibencinya.  Perihal tersebut bukan karena ia mudah terluka, akan tetapi ia memiliki kepekaan di atas manusia normal lainnya. Sebelum kamu membohonginya ia sudah tahu terlebih dahulu, semacam Six sense. Dan saya pernah melakukan kebodohan itu.

Bunga Liar, ia pun sama dengan Senja, wanita yang mendiami kepala saya.  Sejak dulu mengenalnya, walaupun tak lebih lama dari saya mengenal Senja, saya tahu ia perempuan tangguh. Bunga Liar itu manis, semanis gula-gula kapas merah jambu. Dan geligi gingsulnya akan membuatmu betah berlama-lama memandanginya dan menatap senyumnya. Bila Senja memeluk saya dengan sketsa, Bunga Liar senantiasa memeluk saya dengan kata-katanya yang ajaib, dulu. Awan-gemawan yang sewarna putih tulang adalah taman bermain saya dengan dirinya, dulu. Sekarang saya sering sendirian menunggunya di sana, tapi sepenuhnya saya memahami dirinya yang tak seperti dulu. Walau terkadang rasa kangen berlari-larian di antara frase-frase dengannya begitu membuncah di dada.

Saya menyayangi sepasang perempuan ini seperti menyayangi tubuh saya sendiri. Bila mulut saya Bunga Liar, maka mata saya adalah Senja. Bila Kaki saya Senja, maka tangan saya Bunga Liar. Seperti itulah. Dan sepasang perempuan ini yang membuat saya selalu jatuh cinta pada kehidupan, menghargai hidup yang dulu hanya berupa kertas-kertas kosong dalam kepala saya. Cinta memang tak harus memiliki, sebab cinta itu mengenai keberanian ditinggalkan dan dilupakan ataupun meninggalkan dan melupakan, seperti halnya Senja yang kini tengah memadu kasih dengan Langit, dan Bunga Liar yang telah berkasih dengan Ilalang. Tetapi rasa-rasanya rasa sayang memang harus tetap dirawat sampai nanti Telaga Sunyi ini menemukan sampan sebagai teman, atau mungkin sampai airnya kering karena kemarau lebih mencintainya daripada hujan. Yah, mungkin seperti itulah.

2 thoughts on “Sepasang Senyum Penghias Kepala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s