Manuskrip dari Balik Hujan

Kenangan, entah itu manis atau sepahit apa pun, adalah perihal yang sulit terhapus dalam ingatan waktu. Kalaupun dapat terlupa, mungkin hanya beberapa jenak bilangan masa saja. Ketika diri dihadapkan pada sebentuk kesendirian, kesepian, maupun kesunyian., kenangan tak ubahnya seperti hantu, tak begitu tampak nyata namun menghadirkan cemas dalam dada.

Hujan di Desember begitu gaduh menyambangi telinga Renata, seorang novelis cantik yang semenjak tadi melambungkan khayal menuju ruang masa lalu. Dari jendela besar di kamarnya yang berwarna jingga, lamunnya terjatuh di taman yang persis berada di depan kamarnya itu. Pendar matanya menangkap sebuah kilasan-kilasan cerita. Tak seperti biasanya, ketika kilasan cerita menemuinya ia akan langsung menjaringnya ke dalam laptop. Kali ini ia lebih senang menikmati kilasan-kilasan itu untuk dirinya sendiri.

Tarra, pria berperawakan kurus dengan senyum menawan. Pria yang selama ini mengisi relung hatinya. Sebenarnya bukan hanya Tarra yang ada di relung hati Renata, tapi ada beberapa pria, hanya saja cuma Tarra yang selalu bersikap manis padanya. Dan hanya Tarra yang selalu ada untuknya saat Renata butuh sebuah ketenangan, atau sesuatu yang membangkitkan semangatnya. Kilasan-kilasan itu begitu tampak nyata, Tarra seperti berdiri dari balik tirai hujan yang kian lebat. Memanggilnya dengan isyarat lambaian tangan, memanggilnya untuk menari bersama rangkaian butiran hujan.

Renata tergugah, kemudian beranjak dari tempatnya melambungkan khayal menuju tempat di mana Tarra memanggilnya, sebelum langkahnya dihentikan dua orang pria bertubuh tegap. Seno dan Bastian. Dua pria yang kerap berkelahi dalam pikiran Renata. Berkelahi untuk memperebutkan hatinya, hingga berujung kematian Tarra yang mencoba mendamaikan mereka. Dan karena kematian Tarra-lah yang membuat pengerjaan novel terbarunya terlambat.

Hujan mereda, dua sosok bertubuh tegap itu lamat-lamat menghilang dari hadapan Renata. Begitupun dengan Tarra, seberkas senyum terlontar dari bibirnya, sebelum tubuhnya menguap kembali menjadi petrichor. Mungkin memang harus demikian akhirnya, Tarra, sang tokoh utama dalam novelnya tak perlu dibangkitkan kembali. Ia pun tak perlu memilih antara Seno atau Bastian. Sebab kenangan akan menentukan takdirnya sendiri ingin jadi seperti apa, entah pahit ataupun manis, semua sama saja.Ā Renata kembali ke kamar jingganya, laptop yang sudah hampir sepekan mangkrak di meja kerjanya kembali ia buka.

Tak ada yang lebih baik selain berharap dapat menjadi sebaik-baiknya kenangan baik.

Penggalan kalimat terakhir yang tertera di novel terbaru Renata Arisya Wardhani. Novel yang konon menjadi bestseller di seluruh toko buku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s