Seratus Empat Puluh Karakter dalam Puisi Kita

Beberapa puisi pendek saya yang pernah diretweet @puisikita

Icon Puisi Kita

***

Setangkup roti tak berarti pagi ini, jika tanpa senyummu duhai gadis yang melati.

Matamu pena, menuliskan kesedihan dalam bulir-bulir airmata. Terkutuklah aku yang tak mampu membacanya.

Matahari, yang menerangiku. Matahati, yang meneduhkanku, Matakaki, yang membawaku. Matakamu, yang kutuju

Matamu, lembah terdalam yang pernah kukemahi. Ada sunyi yang Maha tinggi, membuat aku mendapati arti

Dan langit biru pun memerah, saat legit bibirmu menyapa bibirku dengan manja.

Tak perlu ke surga. Jika kau ingin bermanja, temui aku kala senja. Aku serupa udara, mendekap dirimu dalam rongga dada

Kauhidangkan segala rupa kenangan di atas meja perjamuan, dan aku menikmati manisnya kedukaan yang kau sajikan.

Kau mengajakku ke sistem bintang polaris, di mana kau temukan planet termanis, di sanalah cinta kita kalis, tak terkikis.

Jika Mars berjarak sejengkal saja, mungkin duka takkan pernah ada. Dan kamu, sering kusapa!

Aku bukan lagi kertas, tempat kesedihanmu tereja. Aku, adalah lembaran tisu dimana kesedihanmu akan kuseka.

Aku lupa membawa pena, seharusnya perpisahan dapat kusketsakan dalam bentuk sederhana. Tanpa duka.

Kamu, pohon kehidupan yang menjatuhkan daun-daunnya ke hatiku. Dijadikannya hara bagi hatiku yang tandus.

Cintaku, dinda. Serupa laman beranda di dalam ‘facebook’. Berhiaskan status manjamu, tak ragu kuberi jempol. Like This!

Meliarkan sajak-sajakku adalah jalan pintas menikmati indahnya dunia kita, dinda.

Apa yang dapat terucap, ketika kenangan lama meliar dalam ingatanmu. Dengan kecupku, akan kubentuk kenangan baru untukmu.

Bila chairil bilang “aku binatang jalang dari kumpulannya terbuang”, maka aku binatang liar penghuni hatimu yang belukar.

Diliarkan angin, sampan cintaku tersesat di dermaga hatimu yang dingin.

Adalah saat senja berganti temaram, di mana rindu-rinduku berkeliaran serupa kunang-kunang yang minta kau tangkap.

Pejamkan matamu, dan rasakan. Kenangan menari-nari serupa kunang-kunang yang sedang kasmaran.

Tak ada ‘Hujan Bulan Juni’ setabah itu, tak peduli langit biru menepis ragu. Sungguh, aku ingin menggenapkan rindu.

Di antara lusinan dusta yang ada, airmatamu paling kusuka; menceritakan cinta yang mencintai duka.

Cemburumu, lidah api matahari. Aku, rerumputan kering yang pasrah menerima takdir. Inilah kemarau dari musim asmara kita.

Kerinduanmu mengudara serupa asap dupa; mencumbui bola mata, mendekapku dalam rongga dada.

Gadis yang didewasakan pagi. Pada baki terisi mimpi-mimpi. Semoga Tuhan berbaik hati, ada cinta yang terbeli hari ini.

Puisi, kau tulis di bait duka; serupa kereta, mengantarkan airmata pada kenangan purba. Aku stasiun tua, membacanya dengan iba.

Kelak, saat ingatanku mulai menua dan rindu tak teringat lagi. Ingatkan aku dengan kecupmu, sayang.

Kulihat di bawah selimut pagi ini,mungkin masih ada ingatan yang ditinggalkan mimpimu semalam, sebagai bekal senyumku hari ini.

Di mana pun engkau bersembunyi, kenanganlah yang akhirnya dapat menemukanmu.

Pagi menyampaikan rindu melalui angin lalu, tertuju pada hati yang malu-malu. Kamu.

Menyulam kenangan tentangmu tak ubahnya seperti membuat pakaian Pesta untuk merayakan kedukaan.

Seribu bangau kertas bergelantungan di langit kamarmu, seribu harapan kulambungkan ke udara; kau mengisi kamar ini dengan tawa.

Salibkan aku di hatimu, agar segala dukamu terbayar.

Dadamu; petak-petak tanah yang gembur dimana kerinduan tumbuh subur, siap ditandur.

Kita, dua tubuh di keheningan malam, mencari hangat perapian di sela-sela dekapan.

Tak ada salahnya melangitkan harapan, sayang. Ketika bahagia menjadi tujuan, cinta selalu punya cara mengajari kita terbang.

Terlampau jauh namamu tergantung di angkasa. Kupindahkan saja ke langit-langit kamarku, agar mudah mengingatnya.

Pada langit merah jingga, kita pernah menyimpan rahasia di kakikakinya; tentang kecupan mesra yang membuat iri senja.

Di langit matamu, reruntuhan airmata serupa gerimis senja. Akan kubias dengan cahaya cinta, selenting pelangi manis tercipta.

Di dadamu, ibu; doa-doa yang khusyu’, melelapkan aku dalam sunyi sepi maha tinggi.

Semenjak kau bermukim di mataku, airmata enggan lagi terlahir sebagai anak dari kesepian.

Adalah kamu, bilah-bilah rerumputan yang tak terhitung jumlahnya. Menangkapku yang direbahkan mentari pagi.

Kutancapkan belati-belati rindu di minggu pagi, agar sunyi-sunyi tak lagi meniti jalan sepi; sendiri.

Pada sajakku, di sanalah airmata yang dilahirkan dari benih perpisahan dimakamkan. Kenangan sebagai nisannya.

Adalah kenanganmu, Bu, makam yang kerap diziarahi airmataku yang merindukan lapang dadamu.

Jika cintamu serupa menjangan liar. Maka rindu-rinduku, anak panah yang dilesatkan dari busur puisi; menghunjammu.

Asmara, adalah permainan terliar bagi mimpi-mimpi kita, yang kelak dimuseumkan jaman.

Bukan lagi sangkarmadu, tempat kembaraku berpulang. Semenjak menjelma bilah bambu, rapuhnya langkahku kini kau topang.

Berapa kali pun harus reinkarnasi, racunilah aku dengan pesonamu lagi; wanita.

Mungkin mentari terbiasa melewati kesendirian pagi, tak seperti aku; mencari-cari dimana harus kuletakan hati

Pada langitmu, Ida. Ijinkan kusematkan rupa pelangi, agar rinai hujan tak sia-sia menyirami ladang rindumu.

Adalah cintamu yang menjadikan hatiku serupa kembang 7 rupa.

Tak perlu kau rayakan duka dengan menghangatkan kenangan. Semenjak kepergiannya, aku adalah kotak pendingin bagi airmatamu.

Dalam dekap sunyi-sepi maha tinggi, terpungkur sujudku, terimalah rebahku, mahluk terlemah dengan lapang sempurna.

Pada sayap-sayapmu, cinta. Ajaklah aku melihat keindahan yang lebih nyata daripada wujud-wujud mayamu; peretas luka.

Inginku menua bersama usiamu. Dan kamu, kubiarkan awet muda dalam ingatanku.

Meniti ribuan tahun cahaya; mencari senyummu di sudut semesta. Nyatanya ia bersembunyi di kedalaman cinta yg menyala-nyala.

Akulah pujangga yang berada di balik busur sajak; membidik hatimu, serupa Partha mengintai jantung Bhisma.

Di puncak dadamu, seorang pujangga pun akan tersesat dalam ribuan kata indah.

Malam gagap mengeja namamu dalam senyap. Di rimbun rindu yang kalap, aku terjerembab.

Senyummu, Tuhan bagi airmataku. Sedang hatimu, rumah ibadah untuk luka-lukaku.

Dalam diammu // Ada rindu membeku // Hatiku memar.

Dan bermula dari cahaya matamu; cinta mendatangi hatiku dengan sekeranjang rindu.

Engkau memberiku sedepa perpisahan, tapi kenangan selalu membawaku pada sejengkal kerinduan.

Kita yang kasmaran terpapar sinaran cinta serupa laron-laron yang bertamasya ke kebun cahaya; merayakan purnama.

Mencintaimu, adalah skenario Tuhan yang paling indah.

Rawat rinduku baik-baik, pun rindumu akan kurawat baik-baik. Kelak kita akan menanamnya di pekarangan diorama surga kita.

Tersemat gemuruh rindu di batas kota, cinta yang saling berpunggung kata malu-malu menasbihkan rasa.

Apa lagi yang harus aku katakan; mata indahmu lebih mengalihkan pandangku, ketimbang rentetan bintang beralih itu.

Dadamu puisi, di mana detak rinduku menjelma jadi huruf-huruf yang malu; mencairkan sebongkah gunung es di matamu.

Semenjak kenangan bermukim di matamu, rinduku serupa anak tiri yang menangis di pojokan daun pintu.

Bahkan halimun pun tak mampu mendinginkan airmata rindu; terjatuh dari pelukan mata seorang gadis, pagi ini.

Aku ingin menikmati riuh mimpimu, di mana tak ada tempat bagi sunyi; merayakan kesedihan.

Adalah aku, terang yang mengendap di kisi-kisi jendela ruang kelasmu; menemanimu mempelajari rindu.

Di bibirmu yang mulai menua, kau letakan kecup di keningku. Dan rindu itu tampak jauh lebih muda, bu.

Cinta; angin yang menjatuhkan dedaunan rindu dari ranting-ranting yang kasmaran; menghumuskan tanah-tanah kebahagiaan.

Kukira waktu membeku, saat bahuku jadi alas bagi rindumu. Kita telah ditipu, detik-detik meluncur bak peluru.

Yang lebih perih dari sebutir peluru di keningku, adalah kecupanmu; pamit pergi meninggalkanku.

Serupa malam; tak alpa meninggalkan rindu pada pagi, dalam bening embun. pun aku, tenggoklah ada airmata di puisi yang kaubaca.

Kita, sepasang manusia lugu merancang angan di atas pasir putih. Dan waktu, adalah gelombang pasang; menghapusnya tak bersisa.

Dadamu puisi, di mana detak rinduku menjelma huruf yang malu-malu; mencairkan sebongkah gunung es di matamu.

Yang lebih menakutkan dari kehilangan, adalah pertemuan denganmu. Sebab punggungku terlampau rapuh mengingat wajah dukamu.

Detik-detik berjatuhan, gemerincing, di atas lantai berpualam rindu. Setiaku melagu. hatiku ngilu. kamu bukan untukku.

Jika rindu adalah doa, maka matamu yang surga adalah tempat munajatku bermuara.

Rindumu telah sampai di kotaku, sayang, dan petrichor mengantarnya ke dalam rongga dadaku.

Adalah waktu, cambuk yang membuatku terbiasa menikmati luka, mengkhidmati duka, dan pada akhirnya lupa.

Di lengan airmata tersimpan cambuk kerinduan, kau pecuti aku semalaman, dan kini sekujur hati lebam kebiruan.

Genggaman jemari hujan serupa cambuk; mengajak kenangan berlari kencang dalam ingatan.

Rindu untukmu serupa debu. Waktu kian laju. Kini rindu menjelma semeru. Menunggu kau daki dengan berseru namaku.

Aku mengenali airmatamu sebagai mempelai yang bahagia; dinikahkan masalalu, kenangan adalah pelaminan; tempat kita berbagi lambaian.

Pada mahoni tua, tersimpan gurat cinta yang mempertautkan nama kita. Tersayat sejak dahulu, saat rindu masih belia.

Ada yang lebih tabah dari guguran bunga kemboja, cinta, tak henti memekikan nama dan airmata mengaminkannya dalam doa.

Di buritan malam, sebuah suar menyala redup dalam matamu, menuntun biduk pulang ke dermaga rindu.

Adakah yang lebih setia dari janji pelangi kepada hujan, membasuh ketiadaan dengan warna kerinduan.

Senyummu, drama pagi terelok yang pernah kusaksikan, melintasi jendela ruang kelasku; tanpa jeda, membahasakan cinta belia.

Di tepi lemari berdebu, sebuah buku menahan isak, tak teracuhkan jemari lentik yang biasa bercerita; kini rindunya terserak.

Rindu adalah candu yang dibakar senja, asapnya mengudara, menyesakkan dada para pencinta.

Dari matamu yang mentari, yang redup perlahan. Aku diajari mengeja kehilangan. Kau; guru bagi airmataku menabahkan diri.

Adalah puisiku; surga yang menumbuhkan senyummu, telaga yang tabah menadah luka-lukamu.

Ada seribu nyawa dalam mataku, yang rela terjatuh dan syahid di atas dadamu, menjaga rindu; airmataku.

Dari hembusan napas cinta, rindu-rindu diberikan nyawa, dari rahim puisi lahirlah anak-anak airmata.

Singgahkan aku di hatimu saja, jika dalam ingatanmu sudah terlampau banyak nama.

Adalah rindu, dongeng yang kerap diceritakan cinta, tentang sepasang luka meniti tiap jarak dengan airmata.

Detik-detik saling bersulang di bibir waktu, mengejek sepasang airmata yang menari di lantai rindu. Ngilu.

Pada selarik puisi, ada hati yang hampir mati, sebab rindu telah dikorupsi, oleh benci yang tak berperi.

Dari lereng sunyi matamu, sepasang airmata mengabari bilah senyum yang layu; tentang asinnya rindu, tentang letihnya menunggu.

Sepasang lengan saling melambai dari peron ingatan, memberi kabar pada rindu; entah sebagai kenangan atau sebagai harapan.

Airmatamu, peluru, bersarang di hatiku yang menjangan. Dan waktu adalah pemburu ulung yang tengah merayakan kemenangan.

Ada cericit merdu, bersarang dalam puisiku; kamu, yang kukenali sebagai rindu.

Adalah kenangan tentangmu, ibu; makam yang kerap diziarahi airmataku yang merindukan lapang dadamu.

Pada tabahmu, ibu, airmataku pun bersujud mencium diorama surga dalam dadamu.

Dari padang ilalang; kupukupu malang, menari menembus langit. Memungguti luka; kekasihnya terenggut badai semalam.

Airmata mu, @iedateddy, guguran bunga kemboja, yang terjatuh di bibir merah jambu; tempat ku memakamkan rindu.

O, @iedateddy, mentari tertidur di matamu, di bibirmu, di seluruh tubuhmu yang malam; menjadikan aku tersesat di rimba diam.

Aku mengenali cinta sebagai perihal sederhana, seperti serbuk susu coklat di bibirku yang dibersihkan oleh jemari lembut ibu.

Aku ingin menyendiri di dalam puisi, menyembunyikan sepi yang begitu duri.

Ada yang tak dapat diceritakan matamu, tetapi aku dapat mendengarnya: Rindu.

Ketabahan itu puisi, ladang luas tempat penyair menanam luka, menyimpan ngilu.

Di tabah jemariku, serumpun huruf berebut menjumput air mata yang tengah dituliskan matamu — sebuah puisi.

Banyak pintu di dalam puisiku — hanya bisa kau buka dengan senyuman. Masukilah, dan kesedihan takkan menjeratmu, lagi.

Aku mengkhidmati diri, hidup tak ubahnya sebatang lilin, pada akhirnya ‘kan padam — menyisakan kenang cahaya.

Senja ditenggelamkan kesunyian. Lalu dari ufuk matamu terbitlah cahaya, yang kausebut kerinduan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s