Bangau Kertas Merah Muda

tumblr_l62xyxvXZH1qb13xjo1_500“Siapa yang bilang cinta tak harus memiliki? Kalau yang nama cinta itu harus saling memiliki, dan saling memperjuangkan. Jika hanya sepihak saja yang mati-matian memperjuangnnya, itu bukan cinta!”

Begitulah ucapan Rey, yang masih lekat dalam ingatanku di suatu sore, di Stasiun Tawang, Semarang. Saat aku mengantarnya kembali ke Jakarta setelah beberapa hari menghabiskan libur ujian tengah semester.

Rayya Indah Sasmitha, nama lengkapnya. Entah sudah berapa banyak kata-kata yang ia hamburkan untukku, untuk menasehatiku. Dan aku tetaplah aku, Nirmala Larasdewi, perempuan yang sering terjatuh di hati pria-pria brengsek.

“Hmmpfft…” aku menghela nafas saat mengingat apa yang pernah dikatakan Rey tempo hari itu.

“Tapi gue sayang dia, Rey,” ujarku dalam hati. Sejurus kemudian kututup album foto di mana terdapat foto aku, Rey, dan seorang pria yang beberapa tahun lalu pernah mengisi relung hatiku.

*

Senja jingga mulai menyemut di langit Semarang. Senja yang akhir-akhir ini begitu langka kutemui. Ah, aku memang membenci Desember. Bukan, bukan karena peristiwa aku pernah dikhianati seorang pria di bulan Desember. Tapi ini karena aku yang mengidap phobia terhadap hujan. Langit di bulan ini selalu tak bersahabat denganku. Kalau saja boleh memilih, aku lebih baik sebulan terkurung dalam rumah daripada harus mendengar nyanyian-nyanyian ngilu yang didendangkan hujan. Sebab itu, setiap ke kampus atau pun keluar rumah, headset pemutar musik selalu menempel di telingaku.

Entah sejak kapan aku memiliki phobia terhadap hujan, yang ku ingat dulu saat kecil, saat hujan datang aku selalu mengumpat di bawah ranjang ibu. Dan saat bersekolah, sejak SD sampai sekolah menengah pertama, phobia ini sungguh menyiksaku. Apalagi mendengar ejekan teman yang mengetahui phobiaku ini. Tambah mengilukan. Untung saja aku memiliki sahabat seperti Rey, yang memahami dan mengerti tentang kekuranganku. Namun sejak SMA, kami tak lagi bersama. Aku harus pindah ke Semarang, mengikuti Ayahku yang dipindah-tugaskan ke kota lumpia ini.

“Mbak Mala, tadi ada telepon dari Mbak Rayya,” ucap Bi Sum, asisten rumah tangga yang sudah membantu keluarga kami sejak masih di Jakarta.

Aku membuka sepatuku dan menghempaskan tubuhku di sofa ruang tamu, “Dia bilang apa, Bi?”

“Katanya sih Mbak Mala disuruh telepon Mbak Rayya segera, kalau sudah sampai rumah,” sahut Bi Sum, “Mbak Mala mau minum apa?” tambahnya.

“Teh hangat saja, Bi.”

*

Mata kuliah stastistik begitu menyita waktuku malam ini. Aku benar-benar belum paham. Ah, ini memang salahku yang sering bolos. Andai saja aku mau sedikit menghabiskan waktu mendengarkan kuliah dosen killer itu, aku takkan kelimpungan mengerjakan tugas kuliah ini. Dan kalau saja ada Abi, ia pasti akan membantu mengerjakan semua ini.

“Arrrghh… Tidak. Aku tidak boleh menyebut nama cowok brengsek itu lagi,” kataku dalam hati, sambil menutup telingaku dengan bantal. Sama seperti tatkala hujan datang tiba-tiba, nama itu bikin ngilu.

Abimanyu Pradanto, siapa yang tak kenal dan tak tertarik dengannya. Ia tampan, tajir, pintar. Pokoknya sempurna. Aku malah sempat berpikir dia bukan manusia, dia itu titisan dewa, sebelum pada akhirnya ketahuan juga belangnya. Abi berselingkuh! Sebenarnya Rey sudah berulang kali mengingatkanku akan hal itu, tapi aku tak mempercayainya.

Rey dan Abi saling mengenal, bukan aku yang mengenalinya, mereka dulu satu SMA. Dan Abi memang sudah terkenal playboy sejak dulu. Sebab itu, Rey selalu mewanti-wanti aku. Ia tak mau aku kembali mengulangi kesalahan yang sama, menggunting urat nadiku. Sebelum berhubungan dengan Abi, aku pernah berhubungan dengan seorang pria. Hubunganku dengan pria itu sudah amat begitu dekat, sampai-sampai aku meyerahkan kegadisanku padanya. Ah, akal bulus pria begitu halus. Bahkan sulit diterka untuk perempuan yang berhati peka sekalipun. Setelah merasakan nikmat tubuhku, ia lantas pergi menghilang begitu saja. Padahal sebelum-sebelumnya perhatiaannya begitu manis padaku, juga pada ayah dan ibuku.

Bunyi telepon seluler menyadarkan aku dari lamunan yang tiada gunanya itu. Pada layarnya tertera nama Rey. Ya ampun, kenapa aku bisa lupa menghubunginya. Dengan bergegas kujawab, “Halo, Rey… Ah, sorry lupa. Abis ngerjain tugas kuliah nih sampai ketiduran. Hai ada apa? Ada apa?”

“Kemana aja si lo? Handphone lo nggak aktif, BBM juga nggak dijawab!” ucap Rey dengan nada aga sedikit marah.
“Sabar atuh, Non. Marah mulu, keriput lo tu pipi mbem lo. Sinyal di sini agak awut-awutan deh, emang ada apa sih?” sahutku
“Nggak, gue cuma mau nanya, undangan gue udah nyampe belum?”
“Undangan, undangan apa Rey? Lo mau nikah? Ya ampun, gue ikut seneng deh. Etapi sama siapa Rey, kok nggak pernah dikenali ke gue?”
“Tapi sebelumnya gue mau minta maaf sama lo,” ucap Rey, menggantung.
“Maaf? Kenapa?”
“Lo masih inget sama Bangau kertas yang kita buat sama-sama?” tanya Rey.
“Ohh, soal itu, masih. Kenapa emangnya?” selidikku, penasaran.
“Lo masih menyimpannya kan?”
“Masih.”
“Nanti lo baca ya”

Kemudian teleponnya terputus, rasa penasaran mulai menyelimutku. Padahal tadi rasa kantu begitu bergelayut di bola mata, sampai-sampai tak sanggup melanjutkan menyelesaikan tugas kuliah statistik.

Aku beranjak dari tempat tidurku menuju lemari pakaian. Kemudian mencari kotak kardus tempat menyimpan semua barang-barang kenangan. Susah payah, akhirnya kutemukan juga bangau kertas berwarna merah muda yang sampai sekarang aku tak bisa membuatnya. Bangau itu dibuatkan oleh Rey saat sekolah dasar dulu, dan di dalam tubuh bangau kertas itu terdapat sebuah ikrar persahabatan yang kami buat di taman belakang sekolah.

Aku membuka lipatan-lipatan pada bangau kertas itu dengan sangat hati-hati. Sudah hampir 14 tahun kira-kira usia bangau kertas itu.

Apa pun yang terjadi kita tetap sahabat

Begitulah bunyi kalimat yang tertera dalam tubuh bangau kertas berwarna merah muda itu.

*

Kuhempaskan tubuh ke sofa. Bi Sum datang membawakan secangkir teh hangat dan semuah amplop berwarna cokelat.

“Capek ya, Mbak? Nih Bibi buatin Teh jahe.”
“Terima kasi, Bi. Itu apa, Bi?” tanyaku.
“Nggak tahu, ini buat Mbak Mala. Kayaknya sih dari Mbak Rayya.” setelah menyerahkan amplop cokelat itu, Bi Sum kembali ke dapur melanjutkan masak untuk makan malam.

Kemudian kubuka amplop cokelat yang ternyata berisi undangan pernikahan Rey. Senyum mengembang di bibirku. Akhirnya Rey menemukan pujaan hatinya terlebih dulu. Namun kembang senyumku hanya beberapa menit saja, saat mengetahui mempelai prianya adalah Abimanyu Pradanto, SE.

Rey mengkhianatiku, amarahku memuncak. Aku berlari ke kamar, ingin membuang semua barang-barang yang mengingatakanku pada mereka. Sampai pada akhirnya, selembar kertas origami terjatuh di kepalaku. Kertas origami yang bekas lipatan-lipatannya terlihat jelas.

Apa pun yang terjadi kita tetap sahabat

Jemariku menari di atas keypad ponsel, menuliskan sesuatu. Dan tak berapa lama kemudian Rey menjawab pesan singkatku.

“Maafin gue, Mal. Gue nggak bisa nolak Abi yang begitu kekeuh datang berulang kali ke rumah, melamar gue. Dan ada hal yang belum gue ceritakan ke elo tentang Abi. Dia itu mantan gue waktu SMA, kita pacaran 2 tahun. Kita gak pernah sekalipun putus, dia pergi ke Semarang sama kayak lo. Karena bokapnya pindah tugas, dan dia gak tega bila harus mengatakan langsung sama gue. Makanya dia pergi diam-diam. Gue pernah bilang dia playboy? Itu bohong. Dia juga sebenarnya nggak selingkuh, waktu lo cerita ke gue soal dia yang lagi berduan sama seorang perempuan di caffe, dia Cuma ingin membuat lo membenci dia dan lo memutuskan dia.

“Sebenarnya yang dia cari itu gue, yang dia perjuangin itu gue. Sebab itulah alasan gue bilang sama lo untuk berhenti perjuangan orang yang nggak memeprjuangkan lo. Maafin gue, Mal. Gue egois,” tutupnya.

*

Hari itu Rey tampak cantik, dengan balutan kebaya berwarna cokelat. Begitupun dengan Abi. Ah, Abi menyebut nama itu lagi seperti mendatangkan hujan dalam dada. Tapi mau bagaimana lagi, dia kan suami dari sahabatku sendiri. Cinta memang tak harus memiliki bukan? Kalau Rey bilang “siapa yang bilang…” seperti itu lagi, aku punya jawabnya. Aku yang bilang.

“Mala, ayo sekarang giliran kita,” kata Ayah mengajakku bersalaman dan berfoto bersama dengan Rey dan Abi.
“Apa pun yang terjadi kita tetap sahabat, Rey,” ucapku sambil menapaki anak tangga, menuju tempat di mana Rey dan Abi bersanding.

***

2 thoughts on “Bangau Kertas Merah Muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s