Burning Giraffes and Telephone

Salvador_Dali_Burning_Giraffes_and_Telephone

Betapa jarak itu seperti halnya ladang gurun lengang yang tandus, sayang,
Mampu membakar kepala-kepala sekawanan jerapah yang berlari-larian.
Jerapah yang taklain ejawantah dari segenap asa yang tak bosan memanjangkan leher, dan lantas mendongakkan ke langit sebagai doa
: harapan bagi sua yang tak kunjung tiba.

Dan dari tubuhmu yang tak lekang dituakan waktu,
Tubuh yang senantiasa menari dalam ingatanku yang nyalang, telanjang, hanya berbalut kata-kata rindu yang tipis; menutupi kaki-kaki jenjangmu menujuku.
(kata-kata itu yang pada akhirnya menumbuhkan sulur-sulur tanya dari tungkai mataku)

“Tidakkah kau rindu pada pendar mataku, sayang, mata yang justru lebih rewel dari bibirku, mengatakan betapa aku mencintaimu?”

Sulur-sulur tanya itu semakin memanjang, membelit-belit tubuhmu dalam ingatanku.

Ahh,…
Tetapi siapalah aku?
Menunggumu sampai musim bersua tiba.
Ah, siapalah aku?
Aku, aku hanya kotak-kotak kayu tempat kesahmu luruh,
tempat sejumput pelukan tumbuh menjadi buah-buah angan.
Aku hanya kotak kayu!
Rapuh, termakan rayap-rayap waktu. Menunggumu.
Sementara kau, entahlah di mana,
mungkin masih berdansa dengan jerapah-jerapah yang kau bakar kepalanya.

— mempuitisasikan lukisan Salvador Dali ‘Burning Giraffes and Telephone’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s