Pada Mulanya Detik-detik Itu

Pada mulanya detik-detik mengiring pertemuan bagai sebuah terompet perayaan musim bahagia tiba. Ada banyak rupa cahaya membentang di garis langit matamu — cakrawala tempat di mana rasa rindu ingin terbit dan tenggelam.

Dan waktu, adalah perihal yang paling lihai menjaring butir-butir kenangan yang sempat kau recahkan dengan selongsong air mata yang tersimpan di celung degub hatimu. Ia menyusunnya kembali satu per satu, bagai sebuah kepingan-kepingan puzzle membentuk ingatan di kepalaku. Begitulah pada mulanya.

Kini, aku hanya menemukan telaga bisu di bibirmu dan kota-kota mati di matamu. Lampu-lampu harap enggan kembali kau nyalakan. Tak lagi ada perayaan — musim-musim bahagia hanya seperti kemarau yang teramat panjang. Dan di keningmu masih terpasang sebuah tugu peringatan yang aksara-aksaranya masih kukenali sebagai awal mula titik di mana kesedihanmu berpangkal: Sebentuk kecupan bertulis selamat tinggal dari kekasihmu.

Pada mulanya detik-detik telah mengingatkan tak ada jalan kembali selain dari kenangan-kenangan yang ingin kauabadikan, yang coba kuhapuskan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s