Pemburu Bintang

Kami menyebut diri kami sebagai 3D Pemburu Bintang, dan aku adalah yang paling cantik dari kedua sahabatku yang lainnya. Namaku Dinar Prameashayu, aku begitu menyukai Astrologi. Begitu tergila-gilanya dengan ramalan bintang, kedua sahabatku harus mau dibuat repot oleh ulahku tiap awal bulan maupun setiap minggunya saat Tabloid yang memuat ramalan bintang terbit. Mereka saat ke kampus harus membawakanku majalah atau Tabloid-tabloid tersebut, kalau tidak aku akan ngambek seharian. Dan ancamanku selalu berhasil membuat mereka repot. Aku memang manja, tapi hal itu yang membuat mereka sayang padaku, katanya.

Dua sahabatku, Damar dan Danar, mereka saudara kembar. Aku bersahabat dengan mereka sejak kami TK. Melakukan segala kegiatan selalu bersama, dari berangkat sekolah, bermain, sampai mandi dan tidur pun bersama jika Ayah dan Ibuku belum pulang dari kantor. Tapi itu dulu, kalau sekarang, bisa jadi lain halnya nanti.

Di antara mereka, Damarlah yang paling usil, jahil, dan sering membuatku menangis. Jika aku menangis maka Danarlah yang akan datang lalu memelukku, menenangkanku. Sampai sekarang selalu seperti itu. Dan seiring berjalannya waktu, adakalanya Damar bersikap manis sekali terhadapku, tentunya saat tak ada Danar. Aku suka dengan perhatian-perhatian kecilnya, seperti mengelap keringat di dahiku, mengantarkan makanan ke kostku saat aku sedang banyak tugas-tugas kuliah, dan hal-hal manis lainnya. Tapi itu Damar lakukan saat Danar tak ada di sampingku.

Kalau aku suka sekali dengan Astrologi, Damar dan Danar suka dengan Astronomi. Saat kecil dulu, aku pernah mematahkan teropong bintang kesayangan Danar, teropong yang dihadiahi Ayahnya. Sampai kini ia tak tahu kalau aku yang mematahkan teropongnya, yang ia ketahui teropong bintang itu dipatahkan Damar.

“Hallo gadis kecil, ramalan aku dong.” ucap Danar yang tiba-tiba saja ada di hadapanku.
“Lho, Damar mana?” sahutku.
“Kok Damar sih yang dicariin, yang ada aja apa.” Gerutu Danar sambil memainkan rokok di jemarinya.
“Iya, iya… tapi rokoknya dimatiin dulu dong.”

Aku pun mulai membacakan ramalan zodiak Gemini yang notabene zodiak dari Danar dan Damar.

“Keuangan, harus rajin-rajin menabung. Tuh Nar, nabung gih, jangan dibuat pacaran mulu uangnya.” Kataku.
“Yeee… siapa juga yang punya pacar, noh si Damar yang lagi PDKT sama Catherine.”
“Apa?! Damar naksir Catherine?” Tiba-tiba saja aku tersentak.
“Iya Catherine, anak hukum…” Ujar Danar yang kemudian aku sela.
“Yang putih, Tinggi, seksi, rambutnya panjang, dan …”
“Udah deh kenapa jadi ngomongin Damar sih. Udah bacain lagi.”

Aku masih tak percaya Damar sedang pendekatan dengan Catherine, pantas saja beberapa minggu ini ia jarang mengantarkan aku makanan ke kost padahal ia tahu aku sedang banyak tugas. Tapi kenapa aku merasakan hal aneh di hatiku, aku cemburu? Ah tidak, tidak, ini bukan perasaan seperti itu. Ini Cuma perasaan takut kehilangan seorang sahabat saja. Damar bukan siapa-siapa aku, jadi wajar kan Damar mencari kekasih hatinya. Lagi pula masih ada yang menemaniku kok, Danar.

“Dinar! Malah bengong, mikirin apa sih, udah bacain ramalan bintangku.” Ujar Danar, mengagetkanku.
“Males! Nih baca sendiri, aku mau ke perpustakaan.” Sahutku, dan kemudian aku beranjak menuju perpustkaan, meninggalkan Danar sendirian di kantin.
“Eh, ini mie ayamnya sama jusnya aku habiskan ya…” Teriak Danar, terdengar sayup-sayup.

***

Sudah empat hari aku tidak nongol di kampus sejak mengetahui Damar sedang mendekati seseorang. Hal itu yang membuat Danar mengunjungi kostku. Tidak seperti Damar, Danar hanya bisa terhitung jari mengunjungiku.

“Kamu sakit?” Tanyanya.
“Nggak kok Nar, kamu tumben main ke kostku?”
“Iya, habisnya aku kesepian di kampus. Damar, pacaran mulu. Dan kamu nggak nongol-nongol.”
“Makanya, jangan kuper, Danar. Cari teman. Masa udah kuliah 3 tahun temannya Cuma aku sama Damar doang.”
“Aku punya kok, tapi tanpa kalian, sepi.”
“Aiiiih lagakmu, Nar.” Kataku sambil mengacak-acak rambut Danar yang di-spikey.

Aku dan Danar tiba-tiba saja terlibat dalam suatu keadaan yang agak canggung, saat tangan Danar menggenggam tanganku yang tadi mengacak-acak rambutnya. Mataku dan mata Danar saling bertemu pandang, entah dorongan apa yang membuatku menjatuhkan kecup ke bibir Danar. 5 detik yang menghanyutkan, aku menikmati kecupannya, tapi bukan Danar sebagai Danar, melainkan Danar sebagai Damar. Wajah mereka memang begitu mirip.

“Sorry, Nar, seharusnya nggak seperti ini.” Ucapku
“Ya udah sebaiknya aku balik ya, kamu nggak sakit kan?”
“Nggak, terima kasih ya, Nar.”

***

Aku, Damar, dan Danar, dulu waktu kecil sering sekali ke puncak bukit ini. Dari tempat ini gugusan bintang terlihat begitu dekat.

“Sebenarnya aku tak terlampau suka mengamati bintang-bintang di atas sana, aku lebih senang membaca bintang-bintang di majalah.” Kataku dulu, yang menghadirkan sorakkan ‘huuuu’ dari mulut Damar dan Danar.

Malam ini entah mengapa aku ingin sekali mengenang masa kecil dulu, masa-masa di mana Damar selalu menjahiliku dan Danar selalu melindungiku dari kejahilan Damar yang sekarang justru aku rindukan. Waktu begitu cepat berlalu, aku harus merelakan Damar bahagia dengan gadis pilihannya, pun kelak dengan Danar.

Adahal yang begitu membekas. Saat ke puncak bukit ini, Damar dan Danar selalu membawa teropong bintangnya masing-masing. Mereka lalu berlomba, siapa yang paling dahulu menemukan bintang Sirius (konon bintang yang paling terang) dan memperlihatkannya padaku, ialah pemenangnya. Dan pemenangnya akan mendapatkan kecupan di pipi dariku. Sewaktu-waktu bintang jatuh pun kami jumpai, tak lupa kami selalu mengucapkan permohonan, dan permohonanku sederhana saja, aku ingin selalu menjalani hidup dengan bahagia bersama sahabat-sahabatku ini.

Dan malam ini, seberkas sinar jatuh dari sudut langit yang satu ke sudut langit lainnya. Aku mengepalkan tangan, dan mengucapkan permohonan.

“Aku menyadari rasa yang kurasakan beberapa hari ini bukanlah kehilangan semata, tapi ini rindu. Aku mencintainya, Tuhan. Kalau kau izinkan, aku ingin malam ini Damar ada di sampingku, aku ingin mengatakan hal demikian padanya.” Ucapku.

Tak dinyana, tiba-tiba ada yang memeluk tubuhku dari belakang.

“Damar?”
“Ini aku, Danar.”

Aku berbalik dan samar-samar terlihat wajah yang memelukku dari belakang, dan dia bukan Damar, dia Danar.

“Aku sudah mendengar semuanya permohonanmu.”
“Sejak kapan kamu ada di sini, Nar?” Tanyaku padanya.
“Sudah tak penting seberapa lama, tapi yang pasti kamu harus ikut aku segera.” Ucapnya, seperti ada hal yang sangat urgent.
“Memangnya ada apa, aku masih ingin di sini.” Aku menolaknya dengan melepaskan genggamannya.
“Damar, Din. Damar kecelakaan. Aku disuruh Ayah dan Ibu kamu mencarimu. Ayo…”
“Damar kecelakaan, Nar?”
“Iya, ayo cepat.”

***

Aku berjalan menyusuri selasar rumah sakit, lampu-lampu timbul-tenggelam bersama bayang-bayangku. Pikiranku berkecamuk, dadaku mendesir-desir. Sejak tadi, Danar tak menceritakan bagaimana keadaan Damar, semakin membuatku bertanya-tanya apa yang terjadi. Danar hanya bercerita, hari ini Damar dan Catherine hendak ke Lembang, mengunjungi teropong bintang Boscha, tempat dulu Damar pernah berkata padaku bahwa ia ingin memiliki pasangan hidup sepertiku. Dan kelak ia akan melamar gadis pilihan hatinya itu di sana. Sebelum sampai di tempat tujuan, mobil Damar terperosok masuk jurang, dan Catherine saat ditemukan sudah tak bernyawa. Aku membayangkan betapa menyeramkanya kecelakaan itu.

Sampailah aku di depan ruang ICCU, tempat Damar terbaring. Dengan menguatkan hati dan ditemani Danar aku masuk ke ruangan itu dan mendapati Damar yang penuh luka.

“Katakan apa yang tadi kamu katakan di puncak bukit.” Pinta Danar.

Aku hanya menggelengkan kepala, tak mampu lagi berucap.

“Katakan saja Dinar, Damar harus tahu.”

Aku memandang manik-manik mata Danar begitu dalam, aku tahu Danar sejak lama menyukaiku, aku tak ingin melukainya.

“Sudah tak apa, katakan saja, Dinar. Aku memang menyukaimu, tapi aku lebih menyayangi kalian. Jadi katakanlah.”

Dengan terbata aku berucap, “Damar, jangan tinggalin aku. Aku mencintai kamu, Damar. Cepatlah sadar.”

***

Beberapa Bulan Kemudian

“Hore!!! Aku yang duluan. Danar kalah, Damar mau lihat Sirius temuanku?”

Aku mendorong kursi roda Damar mendekat ke arah teropong bintangku.

“Nah, ini baru benar, Nar. Ini yang kata Ayah dinamakan bintang Sirius.” Ucap Damar pada Danar, membautku mengerutkan dahi.
“Lho, lho, lho,… jadi selama ini kalian belum menemukan Sirius buat aku?” Selorohku.
“Hehehe… itu, itu, idenya Damar, Din. Biar kita dapat kecupanmu, gantian.” Ujar Danar.
“Ah, kalian… Jahil…!!!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s