Cinta, Tak Menuntut Kesempurnaan

Hari ini genap sebulan aku terbaring di rumah sakit. Tapi sungguh aku masih bisa berucap syukur, Tuhan masih mengizinkan aku untuk menghirup udaraNya tiap pagi, memandangi semburat jinggaNya yang berpendar dari air kolam di taman belakang dekat kamar perawatanku kala sore menjelang.

Awalnya aku sempat terpukul saat Ibu terpaksa memberitahuku bahwa kakiku diamputasi. Ya kecelakaan itu, merenggut semuanya dariku. Nadia, tunanganku membatalkan pernikahannya denganku yang akan digelar beberapa pekan lagi. Bukan, bukan salah dia. Aku memahami sepenuhnya jalan pikirannya, tak ada perempuan yang menginginkan memiliki suami yang cacat seperti aku, yang kemana-mana harus dibantu dengan kursi roda. Semua salahku yang tak mendengarkan ucapannya. Sebelum aku memutuskan Touring dengan komunitas motorku, Nadia sempat berujar sebaiknya aku membatalkannya, ia memiliki perasaan yang tak enak. Tetapi aku tak mendengarkannya. Maka terjadilah peristiwa itu, ban motorku pecah dan dari arah berlawanan seketika datang bus dengan kecepatan tinggi menghantam tubuhku.

***

“Jun…, Juna… Kamu sedang apa, Nak?” Panggil Ibu yang hari ini wajahnya terlihat agak sumringah.
“Eh Ibu, dari mana, Bu?” Sahutku.
“Ah, kamu melamun saja. Ini tadi Ibu dipanggil dokter, 3 hari lagi kamu sudah boleh pulang.”
“Benar, Bu? Ah, aku sudah kangen rumah, kangen masakan Bi Darsih juga.”
“Nah gitu dong, senyum. Kamu kalo senyum gitu kan tambah ganteng.”
“Ah Ibu bisa saja.”
“Sudah, jangan pikirkan yang lalu-lalu. Kamu sedang ngelihatin apa sih?”
“Nggak ngelihatin apa-apa kok, Bu.”
“Ohh… Namanya Tita, ia lagi nungguin Ayahnya. Mau Ibu kenalin.” Ibu melongok ke jendela, dan mendapati ada seorang gadis yang tengah duduk di depan bangsal perawatan.
“Nggak. Nggak usah, Bu.”

Oh jadi nama gadis itu Tita. Gadis yang beberapa kali melemparkan senyum ke arahku.

Setelah ibu merapikan buah-buahan di meja samaping tempat tidurku, Ibu pamit padaku ingin pulang ke rumah dulu, ada hal yang harus ia kerjakan dan akan kembali nanti sore. Selama sebulan ini memang Ibu yang selalu menemaniku di rumah sakit, usianya sudah tak lagi muda, sebab itu aku selalu meminta tak perlu ditemani. Namun ia bersikeras ingin selalu menungguiku. Nadia? Dia hanya sekali datang, itupun saat aku sedang terbaring koma selama seminggu. Dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang isinya mengabari pernikahan yang ia batalkan. Sakit sakit. Lebih sakit dari sekadar mengetahui kaki ku diamputasi.

Akan tetapi senyum itu, senyum dari gadis dari bangsal perawatan seberang taman, perlahan sedikit demi sedikit mampu membalut luka di hatiku.

Setelah Ibu beranjak, dengan memupuk sedikit keberanian di hatiku, kugerakan roda-roda di kursi rodaku menuju bangsal perawatan di mana gadis itu selalu menunggui Ayahnya. Akan tetapi, setelah sampai di depan pintu ruangan tersebut, keberanianku enyah begitu saja. Aku merasa tidak pantas berkenalan dengan gadis secantik dia. Dia pun pasti akan memandangku sebelah mata, saat menegetahui aku cacat. Selama ini kami hanya bertukar senyum melalui jendela sebatas dada saja, ia belum mengetahui kaki ku buntung. Kuurungkan niatku, dan kembali ke kamarku.

***
Hari berikutnya.

“Jun, tadi Ibu disuruh suster jaga membawamu menemui dokter Orthopedi. Yuk.”
“Sebentar Bu, Juna habiskan dulu apelnya.”
Ibu mendorongku menuju ruangan dokter orthopedi. Ruangan itu meleintasi bangsal di mana Ayah Tita dirawat. Tak dinyana saat aku dan Ibu melintasi bangsalnya, tiba-tiba Tita keluar dan kami berpapasan. Ia hanya tersenyum, tanpa menyapa. Kubilang apa kemarin, ia seperti Nadia yang mengabaikanku begitu saja ketika mengetahuiku cacat.

“Bu, Tita sombong sekali tidak menegur Ibu. Ibu dengan dia kan saling mengenal.” Ucapku.
“Menegur kok, tadi tersenyum.” Sahut Ibu.
“Senyum itu bukan sapa, Bu. Ah untung Ibu belum mengenalkanku padanya.”
“Kamu nih, Tita itu anak baik. Kamu tidak tahu kan, saat kamu koma seminggu, Tita yang bantuin Ibu jagain kamu. Ia harus bolak balik dari bangsalnya ke bangsal kamu dirawat. Tita juga yang sering membantu Ibu menebuskan obat.” Jelas Ibu.
“Jadi Tita sudah tahu aku cacat?”
“Sudah, dia yang menenangkan Ibu saat kamu dioperasi.’
“Ohh…”

Kami pun akhirnya sampai di ruangan dokter Orthopedi.

***

Hari Berikutnya

Hari ini, aku sudah diperkenankan pulang oleh dokter. Aku sudah boleh rawat jalan. Aku lihat di salah satu sudut bangsalku, Ibu dengan dibantu Bi Darsih membereskan Pakaian dan segala hal. Aku pun sudah rapi, siap untuk kembali pulang dan menapaki kehidupan dengan satu kaki.

Aku memandangi bangsal di seberang, sejak semalam dan pagi tadi aku tak menemukan senyum itu. Tidak seperti biasanya, tiap malam Tita selalu duduk di selasar bangsalnya dan bila pagi aku selalu mendapatinya tengah menemani lelaki tua yang tak lain Ayahnya di taman.

“Tita kemana, Bu?”
“Kemarin sore sudah pulang.”
“Ohh…” Tiba-tiba wajahku kurang gairah.
“Kenapa tiba-tiba lesu gitu? Masih sakit?” Tanya Ibu.
“Ah, nggak. Nggak apa-apa kok, Bu. Aku siap pulang!” Ujarku meyakinkan Ibu.

Sebelum beranjak ke rumah, kami harus menyelesaikan administrasi terlebih dahulu. Aku menunggu Ibu di ruang tunggu bersama Bi Darsih. Setelahnya kami menuju pintu keluar, di sana Mang Udjo, supir kami sudah menunggu. Bi Darsih sudah jalan di depan lebih dulu, sementara Ibu jalan di samping kursi rodaku, lalu siapa yang mendorong kursi rodaku? Jemari lembut nan halus menepuk bahuku. Tita.

“Udjo! Ini tolong barangnya Mas Juna masukin.” Seru Ibu, memanggil Mang Udjo yang tengah asyik mengobrol dengan Satpam di pintu keluar.
“Iya, Iya Bu. Sebentar…” Sahutnya.

Sambil menunggu Mang Udjo membereskan barang-barangku, Ibu mengenaliku dengan Tita. Hal yang sempat aku tolak beberapa hari lalu.

“Tita, ini anak Tante. Juna namanya.” Ucap Ibu sambli menggerakkan tangan.

Ada sesuatu yang aneh saat ibu berbicara dengan Tita, Ibu menggunakan bahasa isyarat. Aku pun melihat Tita tiba-tiba menuliskan sesuatu di sebuah buka yang selalu ia bawa.

“Hai, Juna. Aku Tita. Senang berkenalan dengan kamu.”

“Ya sudah kalian ngobrol dulu ya, ini si Udjo masukin kayak gini aja repot banget.” Kata Ibu, yang sejurus kemudian meninggalkanku dengan Tita.

“Iya, aku juga, Ta. Terima kasih ya, kamu sudah mau menolong Ibuku. Kemarin Ibu sempat bercerita mengenai kamu.” Jawabku, melalui tulisan juga.
“Sama-sama. Sesama mahluk Tuhan kan memang harus saling membantu.”
“Lho kata Ibu, kemarin sore kamu sudah pulang. Sekarang kenapa balik lagi?”
“Iya, kemarin sudah pulang. Sekarang aku mau melunasi biaya yang kemarin kurang. Dan juga ingin bertemu kamu. Ibu kamu, sms aku. Katanya kamu tiba-tiba murung saat mengetahui aku sudah tidak di bangsal. Hehehe.”
“Ah, Ibu. Bikin malu aku saja.”
“Kenapa harus malu. Nggak apa-apa kok.”

“Jun, yuk pulang. Nak Tita, Ibu pamit dulu ya. Kalau ada waktu, main-main ya ke rumah Ibu. Katanya mau belajar bikin cake.”

Tita hanya mengangguk.

“Terimakasih ya, Tita.” Tulisku dalam bukunya. Lalu ia memberiku secarik kertas yang ia masukan begitu saja ke kantung kemejaku.

***

Di dalam mobil, dalam perjalanan ke rumah. Aku membuka dan membaca secarik kertas yang Tita berikan.

“Cinta tidak selalu menampakkan kerupawanannya, adakalanya ia bersayap dengan sayap yang lebar, putih dan mampu merengkuhmu, melindungimu dari kesedihan-kesedihan yang datang mengunjungi hatimu. Namun adakalanya cinta menyematkan tanduk dan taring yang begitu menyeramkan, lantas kamu berpikir ia akan melukaimu. Sesungguhnya cinta tak mampu melukai hatimu. Yang melukai hatimu adalah keinginan-keinginanmu yang terlampau besar. Dan rasa-rasanya itu wajar, manusia berakal selalu memimpikan dan menginginkan segala hal yang belum terjangkau olehnya. Sebab itu cinta ada, cinta menemanimu, cinta melindungimu, cinta mengingatkanmu. Aku menyebut cinta adalah martir yang merelakan dirinya dibenci olehmu karena melindungimu dari kesedihan adalah misi utamanya.

“Kamu masih mempercayai cinta? Sebab cinta selalu mempercayai hatimu, karena hatimu tempat sebaik-baiknya ia bersemayam. Percayalah, cinta itu tak menuntut kesempurnaan.”

Dan aku hanya mampu tersenyum setelahnya.

One thought on “Cinta, Tak Menuntut Kesempurnaan

  1. ceritanya sangatlah bagus,,menyedihkan bgt sampai aku nangis,,membayangkan jika semua itu aku yang mengalaminya bgaimna????makasih ya kk crtanya,,trs lanjut dan sllu tuliskan cerita yang bagus,,thanks
    DOMINOQQ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s