ZZzzz…

Hot Chocolatte telah mendingin, sedingin perbincangan sepasang kekasih di sebuah kedai kopi. Saat itu waktu menjelang senja dan gerimis mengantarkan sore ke pelataran malam.

“Berhentilah menyakiti hatimu, dengan berhenti mencintai aku,” Kata Arya, lelaki yang sedari duduk di hadapan Resti, wanita yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Sejurus kemudian dihisapnya rokok dalam-dalam.

“Hal apa yang dapat dibanggakan dari lelaki tolol macam aku, Res. Kita takkan bisa mengubah pendirian ayahmu. Aku, aku gak mungkin memenuhi standar yang diinginkan ayahmu.” Tambahnya.

Wanita di hadapannya tetap membisu dengan sesekali menyeka air matanya. Resti pun mengeluarkan selembar kertas dari amplop berwarna cokelat yang ia ambil dari tas jinjingnya. Lalu selembar kertas itu iya letakkan persis di depan lelaki yang tadi memintanya berhenti mencintainya.

“Aku, aku cuma ingin kamu tahu, mas. Kenapa kamu harus mempertahankan aku dan kenapa aku begitu mencintaimu. Semoga dengan mengetahuinya kau akan berubah pikiran, mas.”

Tak beberapa lama kemudian Resti meinggalkan kedai kopi itu dengan membawa sekeping hati yang hampir runtuh, bahkan air matanya tak lagi mampu menerjemahkan apa yang diperdebatkan logika. Langkahnya semakin menjauh, sedangkan Arya masih menatap beku selembar kertas di hadapnya.

“Positif…” Kata yang keluar dari mulut Arya, membaca tulisan yang di tulis dengan tinta warna merah.

“Positif…!” Ia mengulangi satu kata tadi, kali ini dengan nada yang agak sedikit terkejut.

Arya berdiri yang menengok kanan-kiri. Resti telah pergi. Bergegas ia memakai jaket kulitnya, dan mematikan rokoknya. Mengejar wanita yang tadi duduk di hadapannya. Terlambat, sedan eropa keluaran terbaru sudah membawanya pergi. Arya kembali memandangi kertas bertuliskan ‘Positif’ itu.

***

“Kenapa kau memintaku datang ke sini, bukankah kau sudah tak ingin memperjuangkanku lagi, mas? Esok, aku harus berangkat pagi-pagi ke Paris, jadi segeralah apa yang ingin kau katakan.” Resti menyeringai tanpa sedikit pun memandang lelaki yang tempo hari mengabaikannya.

“Ngg… kemarin dompet dan pasport-mu tertinggal di kedai. Ini, kamu cek dulu. Oia ini juga surat yang kemarin kamu beritahu aku, kamu positif ke paris.” Ujar Arya, dengan wajah polos.

“Jadi…!! kupikir kau akan membuang semua berkas-berkas ini. Kau, kau memang tak pernah memahami maksudku. Selamat tinggal, mas.”

“Selamat tinggal, Res. Hati-hati di Paris ya…” Teriakan Arya yang tak lagi dihiraukan Resti.

2 thoughts on “ZZzzz…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s