Lift

Sudah menjadi ciri khas bila hari senin dikatakan menjadi hari yang jauh super sibuk. Entahlah. Padahal jika dirasa-rasa semua hari akan sama saja. Pagi ini, aku hendak melakukan wawancara kerja di sebuah Perusahaan tambang asing yang berkantor di sebuah gedung di pusat bisnis kota ini.

Secangkir teh hangat, dan sepiring serabi sudah disiapkan Ibuku sedari pagi buta. Ibuku begitu bahagia sekali ketika 2 hari lalu mendapatkan sepucuk surat yang ditujukan padaku yang isinya memintaku wawancara kerja. Sepanjang malam setelah mengetahui isi surat itu ia tak pernah alpa berdoa agar aku dapat diterima. Waktu sudah menunjuk ke pukul 6.32 WIB, kalau tidak segera berangkat aku pasti akan kesiangan karena jalanan macet. Setelah mencium tangan Ibu, aku pamit dan beranjak dengan menggunakan motor bebek tua peninggalan Ayah yang selalu setia menemaniku mencari pekerjaan selama ini.

Hampir 2 jam dan sampailah aku di gedung yang dimaksud. Sebelumnya aku bertanya pada security untuk memastikan benarkah Perusahaan tambang asing itu terletak di lantai 24 di gedung yang memiliki 36 lantai ini. Di depan lift sudah ada 3 orang lainnya, dua pria dan satu wanita. Pintu lift terbuka, dan aku masuk paling terakhir. Ku tekan angka 24, tempat di mana aku akan melakukan wawancara.

1…4…9…15…

Pintu lift terbuka, satu orang pria keluar, tinggalah aku bersama seorang pria dan seorang wanita meneruskan ke lantai selanjutnya.

16…19… 21… Boooommm!!!

Tiba-tiba lantai lift bergoyang, aku dan yang lainnya terhuyung, dan lift terhenti. Kami semua merapat ke dinding lift agar tak terjatuh. Saling menatap dengan tatapan tanya, apa yang sedang terjadi di luar. Gempakah? Teror bom lagikah? Semua pertanyan berkecamuk di kepalaku, mungkin juga di kepala mereka berdua. Sudah hampir 10 menit tak ada tanda-tanda lift akan bergerak atau setidaknya menyala. Kami terjebak.

Gadis di sampingku tak henti-hentinya menangis, aku dan pria lainnya mencoba menenangkan tapi ia tetap tersedu-sedu. Aku pun hanya bisa terduduk sambil menunggu bantuan datang.

***

45 menit berlalu, seorang pria yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Bastian, Staf keuangan di salah satu kantor yang juga menempati gedung ini mulai bercerita tentang pengakuan dosanya. Mungkin ia berpikir takkan selamat dari sini.

Bastian, pria berumur 37 tahun ini mengaku sebagai seorang karyawan teladan. Sebab itu ia selalu dipercaya atasannya. Kukira tak ada yang salah dengan hal ini, tapi kemudian ia bercerita kembali. Beberapa bulan lalu, ia terlibat affair dengan rekan kerjanya. Semula hanya iseng, hanya sebagai teman curahan hatinya tatkala ia tengah bertengkar dengan istrinya. Namun lama-kelamaan menjadi teman tidur, dan bulan lalu selingkuhannya itu hamil. Bukan itu saja, hal yang mendera dirinya. Selama berhubungan dengan selingkuhannya ia kerap menggunakan uang perusahaan untuk liburan keluar kota, dan baru-baru ini tingkahnya mulai tercium oleh atasannya. Seharusnya hari ini ia diminta menemui atasannya.

Ia berjanji, ia akan mengakui semua kesalahannya jika ia bisa keluar dari lift ini dengan selamat.

***

Sudah satu jam kami terjebak. Setelah Bastian bercerita pengakuan dosanya. Gadis yang sedari tadi menangis pun buka suara. Gadis itu bernama Renata, ia sama denganku, pelamar kerja yang hendak diwawancara. Pagi tadi, ia habis bertengkar hebat dengan Ayahnya. Ayahya tak setuju dengan pria pilihan Renata yang dikenalinya beberapa hari lalu. Ayahnya beranggapan, tak ada yang bisa diharapkan dari seorang lelaki yang profesinya sebagai penulis. Ayahnya sudah memiliki pilihan sendiri sebagai calon pendamping anaknya kelak, seseorang yang bisa memberikan apapun yang Renata mau. Dan Renata tak perlu mondar-mandir mencari pekerjaan seperti sekarang. Tapi cinta Renata untuk kekasihnya yang penulis ini bukan hanya sekadar apa yang ia minta diberi, tetapi apa yang ia perjuangkan dan pertahankan. Renata mempercayai bahwa kebahagiaan itu bukanlah mengenai hal-hal menyangkut materi saja, ada yang jauh lebih kuat dan lebih penting, cinta yang saling mengisi.

Dan hasil dari pertengkaran tadi pagi dengan ayahnya, Renata diusir dari rumahnya. Rencananya selepas wawancara hari ini, entah diterima atau tidak, ia akan mencari tempat kost. Tapi kejadian ini mengurungkan niatnya, ia ingin kembali ke rumah dan memberi penjelasan kepada Ayahnya, bahwa pilihannya adalah hal yang bisa membahagiakannya. Sesulit apapun itu.

***

Setelah Bastian mengakui dosanya, dan Renata bercerita tentang kisah kasihnya, kini giliran aku. Di tas yang aku bawa ini terdapat sebuah cincin yang aku beli beberapa bulan lalu dari uang pesangon yang diberikan perusahaan tempatku bekerja dulu.

Seharusnya tiga minggu lalu cincin ini tersemat di jemari manis Ira, kekasihku, sebelum kecelakaan merenggut ingatan pendeknya. Ia tak mengingat aku sebagai kekasihnya. Tempo hari saat aku datang menjenguknya, ia hanya menganggapku orang asing dan lantas mengusirku. Dan hari-hari setelahnya aku tetap menjenguknya, hanya sampai di luar ruang perawatannya saja. Mamanya-lah yang akan datang menghampiriku dan memberi kabar tentang kemajuan kesehatan Ira. Tak lupa, aku selalu membawakannya Lily putih, bunga kesukaannya.

Pagi tadi, saat aku sampai di Lobby gedung ini, aku mendapatkan pesan singkat dari Mamanya Ira. Ia mengabarkan hari ini Ira sudah boleh pulang ke rumah, dan hal yang menggembirakan dari kabar itu, ia selalu menanyakan perihal aku. Sebab itu aku selalu menumbuhkan semangat, aku harus keluar dari lift ini. Aku harus selamat.

***

4 Jam Kemudian

Renata pingsan, tapi syukurlah team SAR telah menemukan kami, hanya saja mereka masih kesulitan membuka pintu lift.

Dan akhirnya setelah 30 menit menanti, pintu lift itu terbuka walau hanya terbuka 70 cm saja. Renata yang pingsan di keluarkan lebih dulu, kemudian Bastian yang fisiknya sudah kepayahan, dan terakhir aku.

Aku yang masih memiliki fisik prima, menuruni tangga darurat tanpa dibantu team SAR. Dan aku menyaksikan, banyak orang yang terluka, mungkin juga tewas. Gedung itu pun rusak parah. Salah satu anggota team SAR memberitahuku bahwa beberapa jam lalu terjadi Gempa besar berkekuatan 8,8 SR yang imbasnya ke Ibukota. Aku teringat Ibuku di rumah, semoga tak terjadi apa-apa dengannya. Pun dengan Ira.

***

Menjelang Maghrib, setelah mengetahui Ibu baik-baik saja, dan hanya beberapa bagian di rumahku yang rusak, aku menuju ruma Ira.

Ira kujumpai di taman belakang rumahnya. Ia menggunakan kursi roda, tengah mengamati orang-orang yang sedang membereskan bagian belakang rumahnya yang rusak terkena gempa tadi pagi.

“Arya…”

Ira memanggil namaku, ia sudah mengingatku. Kuhampiri, dan kemudian kami saling berpelukan.

“Kata Mama, kamu terjebak di lift. Kamu baik-baik saja?”
“Kamu dan cincin ini, yang mengingatkan Arya untuk tetap bertahan dan selamat.”

Lalu kujulurkan cincin itu, dan kemudian kusematkan ke jari manisnya.

“Arya, rasanya lama sekali kamu pergi. Kangenku gak seperti biasanya.”
“Iya. Arya juga kangen Ira.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s