Cinta yang Menyembuhkan

Semburat cahaya mentari pagi tepat terjatuh di tubuhku bersama jatuhnya bayang-bayang pohon angsana tepi jalan di depan halte yang biasa aku sambangi ketika hendak ke kantor. Pagi ini, perempuan itu, perempuan yang beberapa hari ini aku amati melintas di seberang jalan. Ia mengenakan rok bermotif bunga-bunga, berkemeja putih sewarna background roknya, dan memakai sepatu flat. Sementara di wajahnya kacamata bertangkai besar menambah elok dirinya.

Sesekali curi pandangku tertangkap oleh matanya yang bulat, dan ia hanya mengembangkan senyum ke arahku sambil mengangguk. Entah siapa namanya. Pandangku akan terlepas darinya setelah ia berbelok ke dalam gang yang tak jauh dari halte tempatku mengamatinya. Selalu seperti itu tiap pagi.

Kali ini, rasa penasaranku semakin menjadi. Aku bangkit dari tempatku menunggu bus, lalu menyeberang dan mengejar perempuan yang telah hilang dari pandangku itu. Di depan gang, aku memandang jauh ke depan, tak ada siapa pun. Itu gang buntu, lalu kemana perempuan itu? Aku melirik jam di pergelangan tangan kiriku, sudah menunjukkan pukul 6.30 WIB. Padahal rasa penasaranku belum tertuntaskan.

“Baiklah, besok saja aku menemuinya.” Pikirku, sambil beranjak kembali ke halte di seberang jalan.

***

Pagi ini, masih sama dengan pagi di hari lalu. Setelah menyiapkan bekal makanan anakku yang hendak bersekolah, aku bergegas merapikan diri. Dengan memakai rok putih bermotif bunga-bunga dan kemeja sewarna rokku, aku siap menemui murid-muridku di Sekolah Singgah Pinggir Empang. Sudah hampir sebulan aku menggantikan suamiku sebagai pengajar di Sekolah Singgah yang ia dirikan bersama teman-temannya. Awalnya memang agak terasa berat karena background pendidikanku bukan sebagai pengajar, beda dengan suamiku yang memang seorang guru. Ia mendirikan sekolah ini sebagai bentuk keprihatinannya kepada nasib anak-anak jalanan, dan aku selalu mendukungnya. Kini sekolah ini menjadi pelepas kangenku padanya.

Seperti biasa, dari rumahku ke Sekolah Singgah ini tak seberapa jauh. Aku selalu jalan kaki. Tapi beberapa hari ini, saat melintas di depan halte bus seberang jalan selalu saja ada sepasang mata pria dengan pakaian kantoran, rapi, mengamatiku sampai ujung gang tempat di mana Sekolah Singgahku berada. Sekali waktu aku pernah menangkap tatapnya. Bukan, bukan tatapan menghina ataupun tatapan jalang pria-pria dekat pasar yang kerap menggodaku. Aku melihat dari matanya ia memiliki ketulusan, seperti mata milik suamiku. Akupun tak segan melemparkannya senyumku, dan ia pun selalu membalasnya. Sepasang lesung pipinya, seperti secangkir teh manis kesukaanku.

***

Sudah hampir pukul 7.00 WIB, perempuan itu belum juga melintas di depan halte. Untuk menuntaskan rasa penasaranku, aku kembali menyeberang dan memasuki gang tempat perempuan itu ‘menghilangkan diri’. Dari gang buntu itu aku hanya menemukan onggokan besi-besi tua, kardus, dan barang-barang bekas lainnya. Bau yang tak sedap dari bakaran sampah justru menambah rasa penasaranku, siapa perempuan ini. Ia cantik dan mau ke tempat seperti ini, pasti bukan orang biasa.

Dan dari rumah di ujung gang buntu itu terdengar riuh suara anak-anak kecil, rumah itu bercat warna cokelat yang sudah memudar. Aku melihat dari kaca, samar-samar terlihat papan tulis serta bangku-bangku panjang. Di ruangan lainnya, aku menemukan alat musik lengkap sekalipun terlihat sudah tidak layak pakai. Ada tangga menuju ruangan lainnya, ruangan yang riuh dengan suara anak-anak yang tadi terdengar dari luar. Dari rumah ini bau asap bakaran sampah sudah tak tercium. Kunaiki anak tangga satu per satu, dan mendapati seorang perempuan yang selalu kuamati tiap pagi dari halte bus sedang mengajar.

Ia menghentikan mengajarnya, dan menyuruh anak didiknya mengerjakan soal-soal yang ada di dalam buku, ketika mengetahui ada aku di luar ruangan itu. Kemudian setelahnya ia menghampiriku.

Kami berkenalan, namanya Adisti Novria, ia menanyakan tujuanku ke tempat itu. Aku dengan polosnya bilang tersesat, sesuatu alasan yang mungkin sama sekali tidak akan ia percayai. Aku tak lama di tempatnya mengajar, karena harus segera ke kantor untuk melakukan wawancara bagi pelamar kerja. Dan aku berjanji padanya, besok atau lain waktu akan menemuinya lagi.

***

Pagi ini, aku sengaja datang lebih pagi ke Sekolah Singgah. Karena agak siangnya aku harus melakukan wawancara kerja di sebuah perusahaan. Hidup dengan mengandalkan uang pensiunan suami memang tak cukup, lagi pula akupun harus tetap menghidupkan Sekolah Singgah peninggalan suamiku ini.

Dan pagi ini juga aku dikejutkan dengan sesosok pria yang tiba-tiba saja ada di luar ruangan tempatku mengajar. Awalnya aku mengira pria itu preman-preman pasar yang selalu menggangguku, ternyata bukan, ia adalah sosok yang sering mengamatiku dari halte bus. Aku pun berkenalan dengannya, Ringga Aristama, begitu nama lengkapnya. Dari perbincangan singkat kami, aku pun sudah bisa menebak ia pria terpelajar dan humble. Walaupun alasannya saat kutanya kenapa ada di tempat ini tak dapat kupercayai. Dasar pria, bilang saja mau kenalan, pakai buat alasan macam-macam.

***

‘File pelamar terakhir kubuka, dari photo di lampiran surat lamarannya aku seperti mengenalinya.’

Beberapa hari lalu, teman sejawatku mengundurkan diri. Dan kantorku memutuskan untuk segera merekrut pegawai baru. Karena pekerjaannya bersinggungan langsung denganku, maka aku dilibatkan dalam menjaring pegawai baru yang nantinya akan bekerja sama denganku dalam satu team.

Adisti Novria, SE. Begitu nama yang tertera di lembar curiculum vitae. Adis? Perempuan yang kutemui tadi pagi kah? Sebab tadi pun ia bilang, mengajar lebih pagi karena mau ada tes wawancara kerja.

Pintu kaca dibuka, dan benar saja. Adisti Novria yang dimaksud adalah perempuan yang itu. Kami berdua saling menatap dan tersenyum.

***

Dengan menggunakan ojek, aku menembus kemacetan Kota ini. Aku pasti telat, pikirku. Dan akhirnya sampai juga. Ah, untung saja tak telat. Tapi Resepsionis, menyuruhku untuk segera masuk karena aku sebagai pelamar terakhir. Sementara rambut panjangku, masih terlihat acak-acakan, tak sempat merapikan.

Pintu kaca itu kubuka perlahan, penampilanku seperti ini mana bisa diterima. Di pengumumankan ditulis, memiliki penampilan menarik sementara aku? Jauh dari kata menarik.

Dan alangkah terkejutnya aku ketika mengetahui yang akan mewawancaraku hari ini Tama, pria yang tadi pagi datang ke tempatku mengajar. Kamipun saling menatap dan tersenyum.

Setelah wawancara selesai, Tama mengajakku makan siang bersama. Tapi aku harus segera sampai di rumah, untuk mempersiapkan makan siang anakku.

***

Beberapa minggu kemudian, berbekal alamat yang kucatat dari lampiran surat lamaran Adis, aku mengunjungi rumahnya. Berkali-kali aku ingin mengantarnya sepulang kerja, tapi ia menolak. Terpaksa aku memberinya sedikit kejutan

Beberapa kali pintu kuketuk namun belum juga ada jawaban dari dalam, pikirku Adis sedang ada di Sekolah Singgah. Tapi ini kan hari minggu, masa sih ia masih mengajar atau setelah ia diterima bekerja di tempatku aktivitas mengajarnya diganti jadi hari minggu, aku jadi sedikit ragu. Sekali lagi kuketuk, dan tak beberapa lama pintu dibuka oleh seorang gadis kecil berponi, disusul Adis yang setengah tak percaya aku mengunjunginya. Aku pun dipersilakan masuk.

Beberapa photo yang tertempel di ruang tamunya menyentakkan aku, ternyata gadis kecil tadi anaknya Adis. Pantas saja ia menolak bila kuantar pulang, bisa-bisa suaminya marah. Agak sedikit remuk redam memang, mengetahui orang yang aku sukai ternyata sudah menikah.

Lamun terhenti, ketika Adis datang membawa segelas sirup dingin. Ia duduk di sampingku, ia seperti mengetahui apa yang berkecamuk dalam dadaku dan sambil tersenyum ia mengatakan hal yang sebenarnya. Photo-photo itu adalah kenangan bersama suaminya, dulu, sebelum kecelakaan merenggutnya. Kecelakan yang terjadi beberapa bulan lalu.

Saat menceritakan itu, setetes air matanya menetes di tanganku. Kesedihan yang tak pernah aku lihat dari wajahnya sebelumnya. Dan aku meminta menghentikan ceritanya, namun ia tetap saja bercerita kenangan-kenangan manis yang kini justru jadi kenangan pahit. Tak ada cara lain selain memeluknya untuk menghentikan cerita dan juga kesedihannya.

***

Minggu pagi tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan seorang pria yang membantuku mendapat pekerjaan. Entah dari mana ia mendapatkan alamat rumahku, tapi yang pasti sekarang ia ada di hadapan aku dan anakku. Aku sengaja selalu menolaknya ketika ia hendak mengantarku pulang, aku tak mau tetangga-tetanggaku berpikir macam-macam tentang aku, lagi pula suamiku baru beberapa bulan meninggal. Walau sebenarnya aku ingin sekali, Tama tahu hidupku yang sebenarnya.

Aku mempersilakannya masuk, dan kusuruh anakku menemaninya sejenak. Sementara aku membuatkan minuman untuknya.

Sekembalinya aku ke ruang tamu, aku mendapati ia tertegun melihat photo-photo pernikahanku dengan suamiku, dulu. Aku tahu apa yang ia pikirkan, sebab itu aku menceritakan seluruhnya. Aku yang baru saja ditinggal mati suamiku, aku yang single parent, aku yang harus pontang-panting menghidupi Sekolah Singgah peninggalan suamiku. Semuanya kuceritakan padanya, hingga tak sadar aku menangis dan ia memelukku. Erat. Sudah lama sekali aku tak dipeluk seperti ini. Begitu hangat, begitu tulus, seperti kembali ada tempat bagiku untuk berlindung dari rasa cemas. Mungkin inikah orang yang Tuhan kirimkan untuk menemaniku? Aku tak tahu. Jika ia bisa menerima hidupku, maka aku akan menerima hidupnya, kataku padanya sebelum pada akhirnya ia mengecup keningku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s