Perempuan dan Kupu-kupu di Kepalanya

Pagi ini saya dengan penuh semangat dan memasang wajah ceria melangkah keluar rumah bercat warna hijau, rumah berukuran 25 meter X 25 meter tempat di mana saya tinggal 7 tahun belakangan ini. Dengan mengenakan kemeja flannel berwarna abu-abu dan jeans yang koyak di bagian lututnya kaki-kaki saya menyusuri trotoar, lalu singgah sejenak di sebuah toko bunga milik seorang teman yang sudah saya anggap seperti kakak, Aphradhita. Dhita, ia biasa dipanggil dengan nama pendek demikian. Ia sudah hapal dengan kebiasaan saya tiap minggu pagi. Datang ke Tokonya lalu membeli sebuket bunga Lili. Sebab itu, ia selalu mempersiapkannya. Sekalipun kadangkala saya berhutang padanya.

“Ingin bertemu Mamah lagi, Ndra?” Tanyanya.
“Hehehe… Iya, Mbak. Ini Mawar kuning baru datang ya, Mbak?” Sahut saya sambil menciumi bunga-bunga yang ada dijajaran paling depan Tokonya tersebut.
“Oh, iya. Baru datang tadi subuh. Kamu mau? Nanti biar aku yang rangkaikan.” Tawarnya.
“Hehehe… Nggak Mbak, cuma tanya. Nggak punya duit. Hehehe…”
“Ah, biasanya saja ngutang. Tunggu 5 menit ya, biar aku rangkai dulu. Ini gratis, spesial buat Tante Diah.”
“Wah, makasih, Mbak.”

Setelah sebuket bunga Lili putih yang dipadukan dengan 4 tangkai mawar kuning selesai dirangkai Mbak Dhita, dan terlihat semakin cantik, saya berpamitan kepadanya.

***

“Selamat pagi, Mah. Mamah sudah makan?”

Saya melihat di samping tempat tidurnya ada semangkuk bubur yang belum habis dimakannya.

“Kenapa Mamah, tidak mau makan? Buburnya tidak enak?”

Lalu saya ambil bubur itu dan mengicipnya, ternyata cukup enak.

“Indra suapin ya, sedikit-dikit Mamah harus makan.”

Mamah menampik sendok yang akan saya suapkan kepadanya. Ya sudahlah, mungkin Mamah sudah kenyang. Pikir saya. Dan saya putuskan untuk menemaninya saja yang tengah asyik merajut sebuah syal berwarna biru, sambil sesekali saya membelai rambutnya yang sudah memutih.

“Mah, Indra mau cerita, Mamah dengerin ya. Kemarin di Kampus, Erika untuk pertama kalinya tersenyum sama Indra lho Mah. Cantik. Erika itu perempuan yang Indra sukai, tapi Indra tidak berani mengatakannya Mah. Indra bukan minder, Indra hanya sadar diri.

“Oh ya Mah, sepertinya Erika juga seperti Mamah. Ia penyuka kupu-kupu. Tiap Erika datang ke Kampus ia tak pernah lepas dari aksesoris kupu-kupu. Pin di tasnya, bros di sweeternya, penjepit di rambut, bandana di kepalanya semua ada kupu-kupunya. Bahkan kemarin, Rok selututnya bergambar kupu-kupu. Indra ingin sekali mengenali Erika pada Mamah, mungkin Mamah dan Erika bisa saling bertukar koleksi aksesoris kupu-kupu.

“Mah, ini syalnya bagus. Kalau sudah jadi buat Indra ya. Oh ya Mah, ini bunga dirangkai spesial sama Mbak Dhita. Ada Mawar kuningnya, Mah.”

Saya mengambil bunga yang seminggu lalu saya letakkan di vas bunga dekat jendela dan menggantinya dengan bunga yang pagi ini baru saya beli.

“Mah, Indra pamit ya. Mamah makan yang banyak, obatnya juga diminum teratur.”

Saya keluar dari bangsal perawatan itu sambil menyeka air mata.

***

Minggu berikutnya.

“Selamat pagi, Mah. Bagaimana kabar Mamah?”

Seperti biasa, saya mengganti bunga di vas bunga dekat jendela dengan buanga lili yang baru. Dan kali ini saya lihat mangkuk buburnya telah kosong.

“Wah, sudah sarapan ya Mamah. Sama, Indra juga. Tadi Indra beli nasi uduk dekat stadion itu lho Mah, yang dulu sering kita kunjungi. Penjualnya tadi bertanya keadaan Mamah sekarang, ternyata ia masih ingat, Mah.”

Mamah hanya tersenyum dan kembali merajut syalnya yang belum rampung. Ia seperti mengerti apa yang baru saja saya bicarakan. Kemudian ia sejenak berhenti kembali dari kegiatan merajutnya, lalu ia mengukurkan sesuatu yang dirajutnya ke tubuh saya. Yang ia rajut bukanlah sebuah syal, tapi ternyata sebuah sweeter berbahan wool. Ada aura kecewa dari wajahnya, sweeter yang ia buat kekecilan di tubuh saya.

“Sudah tak apa Mah. Mungkin di tubuh Erika muat”

Mamah mengangguk dan kembali merajut.

***

Minggu berikutnya.

“Selamat pagi, Mah. Sudah sarapan? Oh sudah ternyata, kalau begitu nasi uduknya Indra yang makan saja ya Mah. Masih laper hehehe…”

Tadi pagi saya mampir ke warung nasi uduk dekat stadion kembali, dan penjualnya menitipkan sebungkus nasi uduk untuk Mamah. Gratis.

“Mah, beberapa hari lalu Kios koran Indra digusur sama Trantip. Bingung Mah, padahal sebentar lagi ujian, bingung mau bayar pake apa. Tapi kemarin Mbak Dhita sudah menawari pekerjaan di Toko bunganya, sebagai pengantar bunga. Lumayan sih, Mah, dapet gaji, dan juga sering dapet tip gitu. Oh ya Mah, sweeternya sudah jadi ya. Coba Indra lihat.”

Kemudian Mamah menunjukkan sweeter buatannya berwarna biru. Ia pun memberi sebuah bandana berwarna merah muda dengan aksen kupu-kupu sebagai hiasan.

“Ini buat Erika, Mah?”

Ia hanya mengangguk seperti biasa.

“Kalau Erika ada waktu dan mau, Indra janji akan mengajak Erika ke Panti ini.”

***

 Beberapa bulan kemudian.

Sudah  seperempat jam saya menunggunya di parkiran Kampus, akhirnya mobil Jazz berwarna kuning itu datang. Dengan mengenakan jeans, dan kaos oblong bertulis ‘Butterfly is Me’ seorang perempuan yang saya tunggu-tunggu keluar dari mobilnya.

“Hai Ka.” Sapa saya.
“Hai Ndra, ada apa nih, ada apa. Tumben aku dicegat gini, biasanya kamu beraninya ngeliatin aku dari jauh doang.”

Oh, ternyata Erika selama ini tahu bahwa saya sering memperhatikannya dari jauh.

“Hehehe… Gini, kemarin-kemarin saya berjanji sama Mamah saya ingin mengajakmu menemuinya.”
“Terus, sambil duduk saja yuk ngobrolnya.”
“Iya.”

Kami duduk di bangku dekat pohon beringin yang ada di samping kampus, suasananya agak lebih sepi di sana, jadi lebih enak buat ngobrol.

“Kamu ada kelas jam berapa, Ka?”
“Tenang, masih lama kok.Itu tadi terus kenapa?”
“Mamah saya itu kan penyuka kupu-kupu juga, seperti kamu, kali saja kalian ingin saling bertukar koleksi atau semacamnya. Misalnya.”
“Kamu tahu dari mana aku penyuka kupu-kupu? Oh iya, kamu sering memperhatikan aku kan ya.”

Kata-katanya membuat muka saya memerah, malu.

“Baik, nanti sore ya sehabis pulang kuliah, hari ini aku cuma ada satu kelas doang kok.”
“Iya… hehehe.”

***

Mendung bergelayut di langit kota, dan beberapa saat kemudian gerimis menyirami jalan-jalan. Menyelimuti Saya yang Erika yang terjebak dalam kemacetan.

“Kamu sudah tidak berjualan koran lagi, Ndra?” Tanya Erika di belakang kemudi mobilnya.
“Nggg… Nggak.” Saya terbata, ternyata ia mengetahui sehari-hari saya menjual koran untuk biaya kuliah.
“Kenapa? Papahku langganan setiamu lho, aku pun. Tapi kalau aku, yang sering kusuruh membeli majalah favorit itu Bi Darsih.”
“Oh, kenapa bukan kamu saja? Kamu malu?”
“Ohh bukan, bukan, aku gak enak sama kamu. Aku takut kamu malah malu, dan berhenti memperhatikan aku.”
“Nggaklah Ka, kalau saya malu, saya mau makan apa coba? Papahmu siapa namanya?”
“Papahku, Dimas namanya. Terus kenapa kamu berhenti?”
“Oh Pak Dimas. Iya, iya, iya… Ia langganan saya. Saya Diberhentikan Trantip.”

Erika menghela napas.

“Hmm… Trantip…”

***

Akhirnya setelah dua jam perjalanan, Saya dan Erika sampai juga di Panti Laras, tempat di mana Mamah saya sudah dirawat selama 7 Tahun. Semua karena Papah, ia pergi dengan perempuan lain, begitu saja meninggalkan Mamah yang saat itu tengah shock karena anak sulungnya meninggal dunia karena kecelakaan mobil saat balapan liar. Seluruh harta benda kami terkuras untuk membiayai pengobatan kakak saya itu.

Awalnya Erika terkejut saat saya ajak ke Panti, tapi setelah melihat kondisi Mamah yang tiba-tiba tersenyum padanya, Erika pun segera mendekat dan memeluk Mamah seperti sudah mengenalnya jauh lebih lama ketimbang saya.

“Kamu kenapa, Ka.” Tanya saya, ketika saya mendapatinya meneteskan air mata.
“Mamah kamu mirip almarhumah Mamah aku, Ndra.”

Kemudian Erika mengelus pipi Mamah dan mengecupnya, setelahnya Mamah menyerahkan sweeter yang sudah selesai ia rajut dan sebuah bandana berwarna merah muda dengan hiasan kupu-kupu dipakaikannya ke kepala Erika.

“Terima kasih, Bu. Sweeternya bagus bandananya juga, Ika suka. Ndra, boleh aku panggil Ibumu dengan sebutan Mamah seperti kamu?”
“Tanyakan saja pada Mamah, kalau saya sih boleh-boleh saja.”

Mamah mengangguk, mengisyaratkan ia setuju. Dan dengan telaten, Erika menyisirkan rambut Mamah yang agak masai, lalu ia mengambil penjepit rambut dari dalam tasnya dan menaruhnya di kepala Mamah. Sekilas wajah mereka berdua memang begitu mirip di mata saya. Apalagi setelah melihat foto masa muda Mamah yang tergantung di salah satu sudut dinding bangsal tersebut, mirip sekali dengan Erika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s