Aku Ingin Menjadi Bayang-bayang atau Sesuatu yang Kau Sebut Kenangan

Aksara-aksara selalu saja berjalan lebih lambat ketika mengingatmu di tiap jeda penggalan-pengalan kalimat. Bait-bait syair tak begitu lugas untuk mengatakan betapa pikiranmu begitu semesta untuk kujangkau dengan peluk renta lengan-lengan tabahku ini. Perempuan penumbuh cahaya, aku ingin menjadi gelap yang senantiasa memelukmu, entah sebagai bayang-bayang atau sesuatu yang kau sebut kenangan.

Waktu tak lagi dapat membisukanmu dalam denyut-degub nadiku, namamu adalah jantung kata-kata, mendetakkan seluruh aku dalam puisi-puisi yang dituliskan doa-doa pada lembaran langit malam. Perempuan penumbuh cahaya, diterangmu yang beringas, aku tetap ingin menjadi bayang-bayang atau sesuatu yang kau sebut kenangan.

Jarak antara keningmu dengan kecupku, atau sebaliknya adalah semacam kertas origami. Dan kita, kanak-kanak yang riang, melipat-lipatnya menjadi bangau-bangau kertas, menyematkan ingin dan angan di setiap sayap. Perempuan penumbuh cahaya, pada ribuan jengkal rindu, pada sekeranjang bunga harap yang kau tebar di sepanjang jalan, aku tetap ingin menjadi bayang-bayang atau sesuatu yang kau sebut kenangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s