Wanita yang Dimatangkan Nasib

Namaku Ira, Shalsabella Indira. Aku tak ingin menyebut diriku sebagai wanita malang, semalang apa pun cerita hidupku yang ingin kuceritakan dalam kisahku ini. Aku lebih suka menyebut diriku wanita yang dimatangkan nasib. Inilah kisahku, inilah hidupku.

Usiaku beranjak 24 tahun saat Jonathan mengutarakan isi hatinya ingin memperistri diriku. Ia seorang dokter bedah dari sebuah Rumah Sakit ternama di Jakarta. Cukup menjanjikan untuk dijadikan pilihan masa depan hidupku. Tapi cinta yang aku dan Jonathan jalani takkan berjalan mulus, takkan. Kami berbeda keyakinan dalam memeluk agama. Aku bisa menerima perbedaan itu, tapi tidak dengan Ayahku. Ayah menolak lamaran yang diajukan Jonathan terhadap diriku.

Setelah Jonathan, aku memulai kisah cinta yang baru dengan seorang pria sederhana. Pria yang telah lama memperhatikanku diam-diam. Rendra Adrian. Ia seniorku di Kampus. Kami tak satu fakultas. Rendra di fakultas sastra, sementara aku di fakultas teknik. Kecintaan pada alamlah yang membuat kami kenal dan saling mengagumi diam-diam lalu akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Kami berada pada divisi yang sama di UKM Pecinta Alam, divisi hutan. Tak terasa sudah 8 bulan kami berpacaran, Rendra pun datang ke rumahku dengan hal yang tak biasa. Ia berbicara dengan Ayahku, membicarakan keseriusannya berhubungan denganku. Awalnya Ayah menerima, namun setelah ia tahu pedagang gado-gado di Kantin kantornya adalah Ibunya Rendra, Ayah memintaku untuk memutuskan hubungan. Aku dengan berat hati memutuskannya, walaupun aku sangat mencintai Rendra yang kukenal bersahaja, baik, dan menjadi panutanku dalam berbagai bidang tapi titah sang Ayah tak mampu kubantah. Begitupun saat Ayah menjodohkanku dengan dengan Dimas Priambodo, anak dari rekan bisnisnya, aku tak mampu membantahnya. Aku ingin jadi anak yang berbakti, itu alasanya.

Pesta pernikahanku dengan Dimas dilangsungkan dengan begitu mewah nan megah. Pesta pernikahan yang selalu diidam-idamkan setiap wanita, dan saat itu aku telah berusia 30 tahun, usia yang sangat matang untuk menikah. Setelah pernikahan itu, sebulan, dua bulan, tiga bulan, aku senang dengan sikap Dimas yang memanjakanku, aku berpikir Ayah tak salah memilihkan suami untukku. Tapi ternyata dugaanku salah, di bulan ke-empat setelah ia mengetahui aku hamil, sikapnya berubah 360 derajat. Dimas mulai memaki-maki aku dengan kata-kata kotor lantas memukulku. Aku ingin mengadukan perihal tersebut pada Ayah, tapi aku tahu, Ayah takkan mempercayainya. Lagi pula Dimas pun sering mengancam aku akan dibunuhnya atau memutuskan kerja sama Perusahaan Ayahnya dengan Perusahaan Ayahku yang tengah limbung, bila aku mengadu pada Ayah.

Kekerasan Dimas terhadapku semakin menjadi-jadi setelah Rizky Anandhito, anak pertamaku lahir kemudian disusul kematian Ayah. Jika libidonya meninggi, sementara aku tak dapat melayani karena sedang datang bulan, tanpa tendeng aling-aling ia mengundang beberapa wanita panggilan ke rumah untuk melayaninya di kamarku dan aku harus menyaksikan suamiku melakukan perzinahan di hadapan wajahku sendiri. Selain itu, saat Dimas cemburu melihatku berbicara dengan lelaki lain semacam pengurus RT di komplek kami atau tetangga yang sekadar bersilaturahmi, Dimas sering menyeretku dengan menarik rambut panjangku ke kamar mandi. Lantas ia akan menelanjangiku tanpa sehelai benang pun dan mengikat tanganku pada tiang shower lalu membuka kerannya, selama seharian. Setelah ia puas dengan tindakannya itu, ia akan mengakhirinya dengan memperkosaku.

Beberapa bulan lalu, Dimas pergi ke Batam untuk meresmikan Resort barunya. Ia tak mengajakku. Kebetulan sekali, akhirnya aku dapat bersosialisasi dengan tetangga kanan-kiriku tanpa harus berwas-was. Walaupun cuma beberapa hari saja, tapi bagiku itu kebebasan yang aku impi-impikan. Semenjak pindah ke komplek itu, aku memang jarang bersosialisasi. Bukan tak mau, tapi Dimas melarangku.

Malam itu, aku mengunjungi sebuah cafe bersama Rizky yang kini usianya sudah beranjak 2 tahun. Tak dinyana, di sana aku bertemu dengan pria bersahaja nan baik hati yang pernah mengisi hari-hariku dulu saat berkuliah. Aku bertemu Rendra Adrian. Ia tetap sama, kurus, tinggi, tetapi rambutnya kini tak gondrong seperti dulu. Rendra datang ke meja di mana aku dan Rizky duduk. Ia datang sebagai waiter, lalu mengajukan beberapa menu. Ia terlihat rikuh saat melayani kami. Aku ingin mengajaknya berbicara, tapi sepertinya ia takut ketahuan dengan manager yang sedari tadi memperhatikannya. Ia berlalu begitu saja, namun tak beberapa lama datang kembali dengan membawa menu yang kami pesan dan secarik kertas yang terdapat pesan di dalamnya. Besok sore ia off, dan memintaku datang ke taman tempat dulu kami sering kunjungi saat pacaran.

Sore keesokan harinya, dengan memakai flanel berwarna biru ia menungguku di bawah pohon beringin. Pohon yang dulu kecil, kini telah menjulur-julurkan akar gantungnya. Aku datang ke taman itu bersama Rizky, kemudian kuceritakan perihal hidupku begitupun dengannya. Ia menceritakan perihal hidupnya yang tak menamatkan kuliah karena harus menjadi tulang punggung keluarga. Aku masih menyukai bahunya, aku masih menyukai belainya, aku masih menyukai pelukannya. Mungkin Rizky pun sama seperti apa yang aku rasakan, buktinya ia terlelap saat digendong oleh Rendra. Hal yang tak pernah sekalipun dilakukan Dimas.

Beberapa minggu setelah bertemu dengan Rendra, aku sering mencuri-curi kesempatan untuk meneleponnya. Tapi kali ini aku ketahuan, belum sempat kumatikan telepon, Dimas menjambak rambutku, kemudian meludahi dan memaki aku dengan kata-kata kotor yang biasa dia sebutkan terhadapku. Sementara Rizky menangis keras di dalam baby box. Aku diseret ke kamar mandi, seperti biasa, Dimas menelanjangiku dan mengikatku di tiang shower. Kemudian ia balik lagi ke kamar, mengambil Rizky yang sedang menangis dan meletaknya di hadapanku dalam kamar mandi.

Suara gemercik air shower yang menghujani tubuh telanjangku, serta suara tangisan Rizky yang kian mengeras, aku masih dapat mendengar suara orang berkelahi. Entah siapa. Namun tak beberapa lama, semua terjawab, pintu kamar mandi yang dikunci oleh Dimas terbuka dan ternyata Rendra datang menyelamatkanku. Sekilas aku melihat bercak darah di flanelnya. Lalu ia menghanduki tubuhku dan melepaskan ikatan di tanganku. Setelah keluar dari kamar mandi dengan mengendong Rizky yang tangisnya kini berhenti, aku terperangah oleh sesosok tubuh yang terkapar bersimbah darah, sudah tak bernyawa. Dia Dimas Primbodo. Sementara Rendra sibuk dengan telepon selulernya, kudengar sayup-sayup ia menelepon pihak Kepolisian. Dan beberapa menit kemudian Polisi datang, Rendra pun mengakui perbuatannya, ia yang telah membunuh Dimas. Ia segera datang ke rumahku setelah mendengar jeritanku di telepon yang belum sempat kututup tadi rupanya.

Sebelum Polisi membawanya, ia berkata padaku “Maaf Ira, caraku mungkin salah. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya selain ini untuk membebaskanmu. Kamu sudah bebas Ira, bahagiakan dirimu. Karena kamu memang pantas mendapatkan kebahagiaan itu.”

“Aku akan menunggumu, Kak.” Sahutku. Rendra hanya tersenyum, mencium keningku dan kedua pipi Rizky di gendonganku.

8 thoughts on “Wanita yang Dimatangkan Nasib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s