Empat Ratus Delapan Puluh Tujuh Kilometer

 

Empat ratus delapan puluh tujuh kilometer

Adalah sebuah papan petunjuk, melekat antara keningmu – keningku. Huruf-hurufnya mengisyaratkan tengah memusuhi lengan-lengan ringkih kita. Memusuhi jari-jari yang tabah menautkan janji. Memusuhi bibir-bibir delima yang kangen pagutan kecil kala pagi yang kuning mulai menumbuhkan srengenge mungil di kerling sipit matamu.

Empat ratus delapan puluh tujuh kilometer

Sebuah papan petunjuk yang ditulis dengan tinta warna merah menyala, membakar jarak semu yang baru saja dirancang ingatanku akan senyummu di tiap pejam. Menjadi abu legam, mengotori tapak-tapak yang terbiasa kambuh merindukanmu.

Empat ratus delapan puluh tujuh kilometer

Aku mengenalinya sebagai sebuah pelukan hangat yang diberikan waktu pada matamu – mataku, hingga meleleh-leburkan gunung-gunung es di setiap celaknya. Menjelma butiran air asin, mengapung-hanyutkan rindu-rindu menuju celung tengadah tangan-tangan kita.

Empat ratus delapan puluh tujuh kilometer

Adalah doa-doa yang sedemikian panjang, sementara Rindu adalah kaki-kaki rapuh yang tak hanya bisa berdiam menunggu, kaki-kaki yang masih ingin melanjutkan rasa ngilu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s