Sepatah Hati Menolak Patah

Detak nadi timbul tenggelam. Mata mengabur. Ada yang lebih perih dari tikaman belati sunyi ke dalam jantung malam.

Sepatah hati berseru lantang, menolak patah! Dengan sekeranjang airmata yang baru saja dibelinya dari pasar kedukaan dan dengan sekeranjang kesedihan yang baru saja ia gadaikan pada waktu. “Menarilah, menari.” Katanya.

Ohh, hati, mataku mengabur. Bahkan nada-nada minor tak lagi ngilu kudengar. Aku tuli!

Sepatah hati lantas terdiam. Mematung. Detak nadi timbul tenggelam. Ada tikaman yang lebih perih, lebih lirih dari hantu-hantu malam yang tangannya dipersenjatai tombak rindu.

Krakk…

Patah…
Sepatah hati patah.

One thought on “Sepatah Hati Menolak Patah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s