Dua Bocah Bertelanjang Dada

Dua bocah bertelanjang dada terduduk meratapi nasibnya. Ayah ibu, dan semua saudaranya mati. Yang tertinggal hanya sekumpulan asap tak berperi menyesakkan dada, mengoyak kota.

Bukan, bukan hanya asap itu saja yang memedihkan dadanya, memerihkan matanya. Kematian nurani tertikam tirani lebih menyesakkan hatinya.

Dua bocah bertelanjang kaki, kini berlari-lari menghibur diri sementara airmatanya tak mampu lagi mengalir membasahi tanah-tanah kerontang yang luluh-lantak.

Kota yang indah. Suara-suara rebana tak lagi memunajatkan keagungan Tuhan, berganti dengan dentum kemusnahan. Letupan senapan-senapan mesin, merobohkan kemanusiaan yang selama ini jadi martir bagi bocah bertelanjang dada.

Dua bocah bertelanjang hati, tak tahu kemana lagi harus mengadu. Sedangkan Tuhan, kini sedang pura-pura tuli.

Dua bocah bertelanjang mata, jadi saksi sebuah negeri yang hampir mati, tapi masih sibuk mencari pembenaran diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s