Asing Terasing

Telapak menjejak di trotoar pelataran sebuah Mall. Bercampur-baur dengan harum napas Metromini. Asap pekat, pengap, membumbung berkabar pada langit. Dan aku masih saja terpaku membisu di antara hutan-hutan beton, menyandera mata nurani. Saling memacu, berpadu dengan lagu-lagu sendu CD-CD bajakan seharga puluhan ribu.

Tersingkir, terpinggir, coba berpikir. Kicau murai mulai menyepi dari balik rimbun ketamakan kota. Meneropong bangku-bangku taman yang kian menua terpanggang deru perubahan jaman. Sementara rerumputan tak lagi meninggalkan bekas sepatu kaki-kaki mungil dan teriak-teriakan lucu.

Tersesat aku di belantara kota!

Pencakar langit kian angkuh menjelang maghrib, cahaya-cahayanya yang tak lagi berkarib dengan gugusan gemintang. Tak serupa kunang-kunang. Mahluk-mahluk digital bersolek di kubikel-kubikel linimasa, waktu dimangsa. Aku terperosok dalam dimensi asing. Mereka melipat senyum lantas memasukannya ke dalam kotak berpendar di genggam jemari mereka. Tertawa dalam kesunyian ruang.

Aku kini terasing…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s