Pesan

Pagi tadi saya mendengar bunyi pesan singkat mampir di telepon genggam saya yang biasa menemani saya tertidur. Sebaris kata yang begitu singkat, namun mampu mengembangkan senyum saya. Kamu kangen saya. Pagi tadi, sebelum pesan singkat itu mampir ke telepon genggam saya. Beberapa kali lintasan bayangmu memotong cahaya mentari yang menelusup melalui kisi-kisi jendela kamar saya. Saya kangen kamu.

Lalu di sudut meja kerja saya, saya melihat selembar kertas gambar, sebatang pensil, dan sebuah penghapus. Lima belas menit saya terpaku mamandang kertas putih yang belum ada coretannya itu, membayangkan wajahmu –wajah dengan sepasang lesung pipi, gigi gingsul dan tahi lalat di dahi– cantik. Saya bingung ingin memulai dari mana, senyum kamu berloncat-loncatan, saya tak mampu menangkapnya. Saya paksa jemari saya untuk memadamkan rasa kangen yang membuncah di dada. Sebaris puisi biasa saja tercipta. Puisi? Entahlah… Tapi saya ingin membacakannya kepadamu sebagai sebuah puisi kalau nanti kamu ke kota saya.

Ya, kamu pernah bilang pada saya ingin singgah ke kota saya, menikmati senja dari Pantai Marina. Kamu juga pernah bilang pada saya ingin menikmati sensasi malam di dalam Lawang Sewu, menikmati kemegahan Kota Lama Semarang, mengunjungi setiap sudut-sudut kota merekamnya dalam ingatan saya. Sebelum kamu pergi untuk selamanya.

Nanti kalau kamu ke kota saya, saya ingin mentraktir kamu minum kopi di kedai kopi yang biasa saya kunjungi. Kamu masih ingat kan, saya pernah bilang bahwasannya aksara-aksara gemar sekali minum kopi. Ya, aksara-aksara nama teman baik saya. Saya ingin mengenalkannya pada kamu sambil melemaskan kata-katamu yang terkadang kaku.

Nanti kalau kamu ke kota saya, saya ingin sekali mengajakmu bersembunnyi di dalam taman cahaya, tempat di mana bayang-bayang berdamai dengan tubuh ringkihmu. Bayang yang tak akan mengganggumu, kamu tak perlu takut, karena saya akan selalu menemani kamu.

O iya, kalau nanti kamu ke kota saya, kamu tak usah oleh-olehkan saya setumpuk buku yang pernah kamu janjikan kepada saya. Saya cuma ingin membaca senyum kamu. Saya janji deh akan rajin mandi pagi, untuk menemani kamu menari bersama hangat mentari.

Tapi, apakah kamu benar-benar merencanakan ke kota saya? Atau cuma ingin membuat kota di dalam kepala saya tak memadamkan lampu harap?

Entahlah… Tapi jika kamu benar-benar ke kota saya. Satu tempat yang tak boleh terlewat selain Pantai Marina, Lawang Sewu, Kota Lama. Adalah kota di dalam kepala saya. Singgahlah di sana, atau tinggalah jauh lebih lama dari perpisahan abadi yang akan segera menjemput kamu.

Saya tahu, tulisan ini takkan lagi terbaca olehmu. Tapi sungguh saya ingin menuliskannya untukmu. Saya mengenangmu sebagai kebaikan yang tak pernah dituntaskan waktu, bahkan dilekangkan masa. Saya kangen kamu, terlebih saat reminder di telepon genggam saya berbunyi dan menyanyikan selamat ulang tahun untukmu pagi ini.

Pagi tadi, saya mengirim pesan untuk diri saya sendiri atas namamu. Kamu kangen saya. Saya pun…

2 thoughts on “Pesan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s