Aku, Gelap yang Rela Tiada dalam Cahaya(mu).

Kau hantam dadaku, kau tandaskan air mataku, lalu kau lumat, kau hempaskan aku berkali-kali hingga berkeping-keping. Aku tetaplah utuh sebagai rindu yang kau ciptakan sendiri.

Aku adalah kesalahan yang tak ingin benar-benar kaubenarkan, kesalahan yang selalu ingin kau kunjungi berkali-kali. Aku candu bagimu.

Dan di mataku, di mataku, kau sembunyikan air matamu. Lantas di matamu, di matamu, kau sematkan ribuan bintang untuk kekasihmu — Aku gelap yang menjadikanmu berarti, dan kau terang cahaya yang membuatku rela tiada.

“Kau hanya keranjang sampah yang terlampau indah.” Ucapmu, kini menjelma jadi bait-bait busuk,
berdentang-dentang di telingaku.

Aku, tetap kesalahan terindah yang tak ingin kaubenarkan, kesalahan yang tak pernah bosan kau kunjungi tatkala kekasihmu memberi seribu nyeri.