Tak Sekadar Indah

Akhirnya setelah enam tahun menjalin hubungan, dan di tiap langkahnya tak pernah lepas dari permasalahan yang membelit. Dari hal-hal sepele sampai yang begitu rumit dapat kami lalui, dan bahtera ini sampai juga pada dermaga yang baru, yang akan membawa kami kembali mengarungi samudera kehidupan yang lebih-lebih berbadai.

“Saya terima nikah dan kawinnya Aphraditha Indah Purnama binti Suseno Mangkubroto dengan maskawin seperangkat alat sholat, 300 gram emas murni dan uang sebesar seratus sembilan puluh ribu sembilan ratus dua belas rupiah. Tunai!” Ucapku, lancar tanpa keraguan sedikit pun.
“Bagaimana para saksi dan pengunjung yang menyaksikan akad ini, sah?” Tanya Pak Penghulu
“Sah…!” Koor dari seluruh orang yang menyaksikan akad nikahku dengan Indah.
Alhamdulillah.” Ucapku.

Sesaat kemudian Indah datang dari balik kamar yang hanya ditutupi tirai. Cantik, bahkan aku sempat tak mengenali bahwa yang tengah menghampiriku itu Istriku yang baru saja kunikahi.

“Ayo Mas Ardi, sudah halal lho. Sudah boleh dicium.” Seloroh para hadirin yang datang.

Dengan malu-malu kukecup kening Indah, begitu pun Indah, ia pun malu-malu saat mencium tanganku.

Setelah prosesi dengan menggunakan adat Jawa dan malamnya dilanjut dengan resepsi pernikahan selesai, tamu-tamu undangan pun sudah tak lagi ada yang datang, aku memandangi penuh khidmat Istriku masih duduk di pelaminan.

“Kamu capek, Dek?” Tanyaku sambil membelai tangannya.
“Nggak kok, Mas. Kenapa?”
“Sudah yuk istirahat, tamu-tamunya juga sudah gak ada yang datang.”
“Iya…” Jawabnya singkat.

Malam ini adalah malam pertama kami tidur di ranjang yang sama, memasuki kamar pengantin yang sudah dihias sedemikian indah, mempercepat laju degub di dadaku. Di tambah senyuman “nakal” Indah.

“Kamu mandi dulu, Mas.” Ucapnya ketika aku akan memulai tugasku sebagai seorang Suami untuk pertama kalinya.

Setelah selesai mandi, kuhampiri Indah yang tengah duduk di meja rias.

“Sudah?” Tanyanya sambil berdiri dan menoleh ke arahku.

Sementara itu aku hanya tersenyum, lalu malam pertama terjadi begitu saja. Begitu indah, malam di mana seribu malaikat tersenyum dan mendoakan kami yang tengah bercinta, seperti yang dikatakan ustad tadi pagi saat memberi nasehat perkawinan sesaaat setelah melakukan akad.

Setahun Kemudian

Ponselku berdering berulang kali, kutengok di layar LCDnya tertera nama Friska Adhita. Ternyata yang menelepon adiknya Indah.

“Ya, ada apa Fris?”
“Mas, cepat ke Medistra!” Jawabnya, panik.
“Siapa yang sakit, Ibu?”
“Bukan. Mbak Indah, Mas. Mbak Indah jatuh di kamar mandi.”
“Hah! Baik Fris, Mas segera datang.” Kututup telepon dan segera bergegas ke Rumah Sakit yang tidak terlampau jauh dengan tempatku berkantor.

Dan sesampainya di Rumah Sakit, aku bertemu dengan Pak Seno dan Bu Deby, orangtua Indah tengah berbicara dengan dokter yang menangani Indah, pembicaraan yang cukup serius sepertinya.

“Saya Suaminya, dok. Ada apa dengan Istri saya?”
“Sebaiknya kita berbicara di ruangan saya saja.” Sahut dokter itu, mengajak kami ke ruangannya.

“Dari anamnesa awal, saya menemui hal-hal janggal di tubuh Nyonya Indah, Pak.”
“Hal janggal apa, dok?” Tanyaku, penasaran.
“Saya belum tahu, perlu pemeriksaan lanjutan.”
“Lalu kondisi kandungan Istri saya, dok.”
“Maaf sekali, kami telah berusaha.”

Jawaban dari dokter itu, membuatku sedemikan sedih. Ternyata Tuhan belum mempercayaiku untuk menjadi seorang ayah. Pak Seno dan Bu Deby yang ada di sampingku menenangkan dan menguatkanku. Aku kemudian mendatangi tempat di mana Istriku dirawat, di sana aku bertemu Friska yang sejak tadi menunggui kakaknya.

“Fris, gimana? Mbakmu sudah sadar.”
“Tadi sudah, Mas.”

Aku duduk di sampingnya yang sedang berbaring, kubelai rambutnya dan tangannya. Ia pun terjaga.

“Mas… Maafin aku, nggak menjaga calon anakmu ini.”
“Gak apa-apa, Dek. Tuhan belum mempercayai kita.”

***

Sudah seminggu Indah dirawat, dan hari ini hasil pemeriksaan Lab keluar. Indah didiagnosa terkena Kanker Servik stadium lanjut. Langit seakan runtuh dan dunia seperti kiamat bagiku, aku duduk terpaku di depan kamar B13 dimana Indah terbaring. Aku sama sekali tak punya keberanian melangkah masuk menemui Indah, aku tak tega memberitahunya hal demikian sampai akhirnya Friska keluar dari kamar dan mendapatiku tertunduk menahan isak.

“Kamu kenapa, Mas?”

Aku tak menjawab, hanya sebuah amplop putih yang tadi diberikan dokter yang menjelaskan kenapa diriku teramat terpukul, dua kali lipat setelah harus kehilangan calon bayiku.

“Mas…?”
“Aku bingung, Fris. Aku bingung bagaimana caraku memberitahukan ini ke Indah.”
“Ya, aku tahu, Mas. Aku pun tak tega memberi tahukan hal ini.”
“Kamu sudah semalaman kan menjaga Indah, istirahatlah, jangan sampai kamu sakit juga.”
“Iya Mas.”

Kuhimpun keberanian dalam dadaku, aku melangkah memasuki kamar itu.

“Mas gimana hasil Labnya, aku sudah boleh pulang kan?” Tanya Indah.

Aku duduk di sampingnya dan mengecup keningnya. Aku sebisa mungkin tak menjatuhkan air mata di hadapannya, aku harus jadi orang pertama yang menguatkannya.

“Apapun hasilnya, aku akan selalu ada bersamamu, Dek.”
“Lalu, hasilnya mana?”

Indah melihat amplop yang berada di tangan kananku, dan merampasnya. Setelah membacanya satu per satu air mata keluar dari mata indahnya, aku hanya bisa memeluknya lebih erat, tanpa sepatah kata yang mampu kuucap.

Dua Tahun Kemudian

Malam ini adalah anniversary kedua pernikahan kami, dirayakan cukup sederhana dengan mengundang anak-anak yatim-piatu ke rumah. Walaupun geraknya terbatas hanya di kursi roda, malam ini Indah terlihat bahagia sekali, melihat tingkah-polah anak-anak kecil di dalam rumah kami yang biasanya hening tanpa teriakan-teriakan menggemaskan anak-anak.

“Mas, kalau aku sudah sembuh, aku ingin mengadaposi salah satu dari mereka. Boleh ya?”

Indah memang tak lagi mungkin mempunyai anak, enam bulan lalu rahimnya diangkat.

“Iya boleh.” Jawabku

Esok paginya, aku kembali mengantar Indah untuk Kemoterapi, ini untuk kesekian kalinya. Sesungguhnya tak tega melihatnya kesakitan saat dikemoterapi, dan semakin miris saat sehelai demi sehelai mahkota kebanggannya rontok.

“Mas, tidak lagi dapat mempunyai anak. Mengapa kamu tidak menikah lagi?” Ucapnya setelah siuman sehabis dikemoterapi. Aku yang duduk di sampingnya terperanjat mendengar hal tersebut.
“Kamu ngomong apa sih, Dek.”
“Kamu kan ingin sekali punya anak, Mas.”
“Iya, tapi kan semalam kita sudah menyetujui kalau kamu sudah sembuh kita adopsi saja.”
“Tapi Mas…”

Beberapa saat kemudian Friska datang.

“Mbak, nih aku bawain hadiah spesial untuk anniversary kalian.”
“Wah kamu dapet tiketnya Fris?”
“Dapet, Mbak.”
“Tiket apaan tuh, Fris?” Tanyaku.
“Ini lho Mas Ardi, Mbak Indah ini, ingin banget nonton konser 25 tahun Kahitna. Jadi aku usahain cari-cari tiket. Eh dapet juga.”
“Kamu nih, Fris. Mbakmu kan masih belum pulih benar.”
“Sudah Mas jangan marahi, Friska. Aku yang memaksanya kok.”

Beberapa Hari Kemudian

Kondisi Indah semakin payah, dan harus kembali dirawat di Rumah Sakit. Aku bersama Friska mendampingi Indah sepanjang hari sampai pada akhirnya Indah tersadar dan membangunkan aku yang ada di sisinya.

“Mas… Mas…”
“Iya Dek.”
“Friska mana?”
“Ada, di depan.”
“Tolong panggilin Mas.”

Aku pun bergegas memanggil Friska yang ternyata sedang ada di kantin Rumah Sakit.

“Fris…”
“Iya Mbak, ada apa?”
“Terima kasih ya, hadiah dari kamu itu sangat berarti banget buat Mbak.”
“Iya. Sama-sama, Mbak. Sudah Mbak istirahat lagi. Aku dan Mas Ardi gak akan kemana-mana kok.”
“Fris, kamu sayang kan sama Mbak.”
“Tentu Mbak, tentu aku menyayangi Mbak.”
“Kamu Mas, sayang juga kan sama aku?”
“Tentu Dek…”
“Jelaslah Mbak, Mas Ardi sayang banget sama Mbak. Aku bisa katakan gak ada laki-laki di dunia ini yang bisa menandingi kesetiaan Mas Ardi.” Sambung Friska.
“Iya Mbak pun tak membantahnya, Fris. Sebab itu, Mbak ingin kamu menikahi laki-laki yang dapat seperti itu.”
“Amin. Semoga jodohku kelak seperti Mas Ardi.”
“Fris, menikahlah dengan Mas Ardi.”

Hatiku tersentak, begitu pun dengan Friska.

“Mbak, Mas Ardi cuma untuk Mbak.”
“Fris katanya kamu sayang sama Mbak, kamu sayang juga kan sama Mas Ardi? Mbak gak ingin nanti saat Mbak pergi jauh, meninggalkan Mas Ardi sendirian.”
“Dek, kamu ngomong apa sih. Kamu akan sembuh Dek.” Ucapku
“Mas kamu jangan membohongiku lagi, aku tahu keadaan diriku bagaimana. Nikahilah adikku segera.”
“Mbak…”
“Fris, aku ingin melihatmu bahagia, sebelum aku pergi. Menikahlah.”

Tanganku dan tangan Friska dipersatukan oleh tangan Indah, lalu kami saling menggenggam.

***

“Saya terima nikahnya Friska Adhita Putri Suseno binti Suseno Mangkubroto dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.”

Akad nikah yang begitu sederhana baru saja usai dilakukan di samping tempat tidur dimana Indah terbaring. Aku dan Friska datang memeluknya dan mengecup keningnya, ia pun tersenyum melihatku dan adiknya bersanding. Sesaat kemudian ia terpejam tak bangun lagi untuk selamanya.

Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekadar indah, kau tak akan terganti…

(Takkan Terganti – Kahitna)

3 thoughts on “Tak Sekadar Indah

  1. Klasik. Cerita sedih khas tulisan kamu ya. Aku senang kamu terus ikut menulis. Tantanglah dirimu untuk ide dan jenis tulisan yang lebih bervariasi. Kalau untuk teknik penulisan dan tutur bahasa sudah bagus. Semangat terus ya

    Ikavuje

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s