Asmara (1): Pergilah Kasih

Purnama menyembul dari balik awan, menemani kegalauanku yang kian memuncak. Ya memang, aku senang sekali memanjat atap rumah lalu menikmati keheningan malam di saat orang-orang justru terlelap dalam mimpi-mimpinya. Terlebih malam ini, aku di temani purnama. Seperti yang kukatakan tadi, aku sedang dirundung galau. Oh ya namaku Asmara Arundhati Paramitha, entahlah kenapa kedua orangtuaku menamakan sepanjang itu. Bagi orang yang baru saja berkenalan denganku mungkin akan sulit mengingatnya, sebab itu panggil saja aku Mara.

Aku baru saja lulus sekolah menengah tingkat atas, dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Ada beberapa perguruan tinggi negeri yang menjadi incaranku, namun semuanya di luar kota. Aku memilih di luar kota karena aku bosan dengan kemacetan Jakarta, cukup sudah 6 tahun saja aku bergelut dengan padatnya lalu lintas Jakarta. Ya, sejak lulus SD, aku sudah jarang diantar jemput oleh ayah, lebih sering naik buskota. Untunglah beberapa tahun lalu busway diresmikan, ya walau harus berdesak-desakan dan bercampur aroma keringat orang lain.

Beberapa perguruan tinggi incaranku itu salah satunya UGM, yang direkomendasikan Satrio. Satrio adalah pacarku, sudah satu tahun aku berpacaran dengannya. Berawal dari hal yang tak terduga. Ah benci, lama-lama cinta, benar juga pepatah itu. Satrio adalah ketua OSIS dan selebsekolah, banyak cewek-cewek yang mengidolakan ia. Selain cerdas, ia pun memiliki wajah yang rupawan. Sementara aku, aku kuper. Waktu di sekolah lebih banyak kuhabiskan di dalam perpustakaan. Lalu tampangku, aku tak semenarik mantan-mantannya Satrio, ataupun cewek-cewek yang tengah mendekati ia. Rambutku sebahu dengan selalu memakai bandana, dan wajahku selalu berhias kacamata tebal tanpa make-up wajah. Namun entah kenapa ia dapat menyukaiku. Dan karena itu aku sering sekali jadi korban kejahilan fans beratnya Satrio, sebab itu pula lah yang yang membuatku membenci Satrio. Hingga pada suatu waktu, Satrio yang saat itu menjadi petugas upacara bendera menembakku di depan kerumunan siswa-siswa serta guru-guru yang tengah melakukan upacara rutin hari senin, dengan alat pengeras suara pula. Antara malu, senang, benci, bangga tumpang-tindih jadi satu. Aku tak lantas menjawab pertanyaannya yang memintaku menjadi kekasihnya, aku menunggu hingga ia memang benar-benar menginginkanku.

Satrio ingin sekali masuk Fakultas Kedokteran di UGM, karena itu ia juga merekomendasikan perguruan tinggi itu padaku, setidaknya agar kita tak berjauhan begitu katanya. Dan beberapa waktu lalu, karena ia salahsatu siswa berprestasi di sekolah, ia dapat langsung diterima tanpa harus melalui SPMB. Sementara aku, aku harus berjuang melalui SPMB dan kemungkinan diterima sangat kecil, aku tak secerdas Satrio. Tapi aku bersyukur memiliki pacar seperti ia, ia selalu memotivasiku, memgajariku hal-hal yang belum aku pahami. Tempo hari lalu ia pula yang mengantarku ke Senayan, mengikuti ujian SPMB. Senang rasanya dapat dukungan orang yang aku cintai, dan dalam hatiku aku tak boleh mengecewakannya.

Dan yang membuatku galau malam ini, esok pengumuman penerimaan mahasiswa baru baik melalui internet ataupun surat kabar. Aku takut kalau-kalau aku tidak diterima dan itu pasti akan mengecewakan Satrio.

Malam sudah mengetuk waktu dini, udara dingin pun sudah kian menusuk hingga ke rusuk-rusukku. Lalu ku bergegas masuk ke dalam kamarku, kutinggalkan purnama di atas sana yang semenjak tadi mendengarkan ocehan galauku.

***

Kringggg… Kringggg… kringggg…

Jam weker membangunkanku yang tengah asyik bermimpi. Mataku masih agak setengah terjaga, saat melihat jam di sampingku itu menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Dan aku baru ingat, jam setengah sepuluh nanti Satrio mengajakku jalan. “Oh My God!!!” lantas saja aku tersentak dan berlari ke kamar mandi.

“Mara, jangan lari-larian gitu!” Tegur mamah.
“Iya Mah, iya. Mamah sih bangunin Mara.” Sahutku
“Kamu tuh yang tidurnya kebangetan. Sudah dibangunin berkali-kali sama adikmu, gak bangun-bangun juga. Kamu hari ini mau pergi?” Ucap Mamah sambil mengolesi roti dengan margarin.
“Iya, Satrio ngajak jalan.”
“Kemana?”
“Ih, kepooo deh Mamah. Tenang aja, Mah, Satrio itu ngajak aku tes ujian beasiswa ke Belanda.”
“Wuiiihh, kamu ikut ujian beasiswa? Yakin, Mamah nggak salah denger nih.”
“Ih, Mamah kenapa sih ngeremehin anaknya mulu.”
“Terus SPMBmu gimana, kapan pengumumannya?”
“Oh iya, Mah hari ini!” Kataku sambil bergegas mengambil laptop dan modem.
“Heh katanya buru-buru, cepetan mandi sana.” Mamah mengingatkanku.
“Iya Mah, sebentar.”

Laptop sudah terkoneksi dengan internet, lalu kumasukan alamat situs Kementerian Pendidikan Nasional, kuklik tab pengumuman daftar calon mahasiswa baru, kumasukan nomor ujian SPMBku. Enter. Dan, baik Fakultas kedokteran UGM maupun Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, aku tak diterima. Saat itu juga aku tertunduk, apa yang harus kukatakan pada Satrio nanti.

“Kamu kenapa?” Tiba-tiba Mamah menepuk bahuku lalu duduk di sampingku.
“Gak diterima, Mah.” Ucapku, lirih.
“Ya sudah, kan Mamah bilang kemarin, kuliah saja di Jakarta ditempat kakakmu dulu kuliah. Fakultas Kedokterannya juga sama bagusnya dengan UGM.”
“Tapi Mah, nanti aku sama Satrio LDRan dong.”
“Ya ampun, jadi itu alasanmu mau kuliah di Jogja.”
“Bukan juga sih, Mah. Jakarta udah sumpek, aku mau nyari suasana baru aja.”
“Ya sudah sana mandi, sudah jam sembilan tuh.”

Dan aku pun melangkah gontai ke arah kamar mandi, sambil memikirkan apa yang akan dikatakan Satrio saat mengetahui aku tidak diterima.

***

Dengan menggunakan jasa ojek, akhirnya aku berhasil menembus kemacetan Jakarta menuju cafe tempat biasa aku bertemu dengan Satrio. Satrio tahu aku gemar membaca, sebab itu ia memperkenalkanku dengan cafe yang aku tuju ini, karena di sana banyak buku-buku bacaan yang berkualitas yang dapat dibaca dan dibeli. Mulai saat itulah cafe ini jadi tempat favorit kami.

Cowok tampan dengan kemeja berwarna biru dengan ramah menyambutku dengan senyum khasnya, senyum yang selalu memperlihatkan lesung pipinya.

“Hai… kok lama banget, ay.” Sapanya.
“Iya maaf, macet ay. Naik ojek deh, rambutku berantakan ya?”
“Hehehe… sejak kapan sih rambutmu rapi?” Ejeknya, “Udah lihat pengumuman SPMB?” Sambungnya.
Duh kenapa sih, Satrio inget hari ini pengumuman hasil SPMB. “Udah.” Sahutku, singkat sambil menundukkan kepala.
“Kenapa menunduk? Aku udah tahu kok ay. Ya udah gak apa-apa lagi, yang penting kamu udah mencoba. Iya kan, semangat dong.” Satrio menyemangatiku dan memberiku senyuman, kali ini senyumannya 2 kali lipat lebih manis dari yang tadi.
“Hmm… masih ingin ngajak aku nyoba ujian beasiswa ke Belanda, Ay?”
“Masih dong. Harus, apapun harus dicoba, kan untuk kebaikan.”
“Hehehe… iya sih, tapi aku gak yakin dapet.”
“Dapet gak dapet, yang penting udah dicoba, sayang…” Ucapnya, mungkin saking gemesnya dengan jawabanku, ia sampan menyubit hidungku.

***

Beberapa hari kemudian sepucuk surat sampai ke kotak pos alamat rumaku, dan Mamah mengantarkannya ke kamarku dan membangunkanku yang tengah pulas tertidur. Dengan setengah terjaga, aku melihat surat itu dari kedutaan besar Belanda. Aku berpikir itu surat salah alamat, tapi sesaat kemudian aku ingat tempo hari lalu aku mengikuti tes ujian beasiswa berkuliah di Belanda. Ah, paling juga surat pemberitahuan anda tidak lulus tes, pikirku saat itu. Ketika kubuka dan kubaca perlahan, di sana terdapat tulisan yang digarisbawahi “Anda Lulus Tes”, aku setengah tak percaya dan bergegas ke lantai bawah di mana Papah, Mamah, Kakak dan Adikku sarapan, aku meminta mereka membacanya karena aku takut salah baca. Tapi mereka semua tersenyum dan memelukku, hah jadi benar aku dapet beasiswa ke Belanda? Kutampar-tampar pipiku sendiri, takut ini Cuma mimpi, dan tamparan adikku menyadarkan aku ini bukan mimpi, aku akan berkuliah di Universitas Eramus di Kota Rotterdam!

Aku kembali ke kamarku. Mengambil ponselku, lalu menelepon Satrio. Aku juga ingin menanyakan apakah ia diterima, ternyata ia tak diterima. Ah, aku kembali dirundung galau, jika aku menerima beasiswa ini maka jarak aku dan Satrio akan lebih jauh dari Jakarta – Jogja, dan takkan dapat dijangkau beberapa menit naik pesawat jika kangen itu tiba-tiba menyerang, tapi ini kesempatan yang tak datang dua kali. Ayah dan ibuku telah menyerahkan keputusan itu padaku. Aku harus berbicara dulu dengan Satrio, dan malam ini kuminta ia datang ke rumahku.

“Cieee yang diterima di Eramus, cieee…” Tiba-tiba Satrio datang dan melempar bantal busa ke tubuhku yang tengah tidur-tiduran di gazebo taman belakang rumah.
“Ah, kamu ay! Bingung nih.” Kataku sambil merapikan rambut dan menguncirnya.
“Bingung kenapa?” Sahutnya sambil mengacak-acak rambut yang baru saja kurapikan.
“Kamu emang gak bingung apa? Nanti kalo aku di Belanda dan kamu di Jogja, kita bakal jauh banget, ay.”
“Iya aku, tapi itu kesempatan yang tak datang dua kali. Kamu harus terima. Aku kan juga mau punya istri lulusan kedokteran di Belanda.”
“Hah? Istri?” Aku tersentak, Satrio membuat wajahku bersemu merah.
“Iya, memang kamu gak mau menikah denganku?”
“Ay! Aku malu nih.” Kataku sambil menutup wajah denagn bantal busa.

***

Semua berkas-berkas menuju Belanda telah suah terkumpul. Malam ini Satrio akan pulang ke Jakarta setelah tiga bulan di Jogja. Ia ke Jakarta dalam rangka melepasku pergi ke Belanda dan setelahnya ia akan kembali mengejar cita-citanya di kota pelajar itu.

Aku membuka-buka kembali folder dalam laptopku, folder yang berisi foto-fotoku dengan Satrio, foto yang akan jadi pengobat rinduku selama di Belanda nanti. Dan saat melihat-lihat foto tersebut terlintas dalam pikiranku, kenapa aku bisa sejauh ini jalan dengan Satrio? Dan kenapa Satrio lebih memilihku ketimbang cewek-cewek seksi yang mendekatinya? Dan apakah selama di Jogja Satrio tidak akan tertarik dengan perempuan-perempuan lainnya, perempuan yang lebih oke dari aku? Ah, kekhawatiranku tak beralasan, Satrio di sana itu kan untuk menuntut ilmu, sama sepertiku di Belanda nanti. Oh tidak, apakah Satrio akan berpikiran sama dengan apa yang baru saja aku pikirkan? Baiknya kutanyakan saja nanti kalo ia sudah datang.

“Kamu gak apa-apa kan, ay, aku ke Belanda?”

Kuulangi lagi pertanyaan itu sebelum melewati pintu Boarding Pass.

“Kalau aku ragu, aku gak akan mengajakmu ikut tes ujian beasiswa itu, ay. Aku ingin melihatmu jauh lebih baik dari aku.”
“Terus kamu percaya sama aku?”
“Percayaku sama seperti kamu mempercayaiku. Kan di sana kamu belajar, bukan ngapa-ngapain. Sama kayak aku.”
“Terus kalo kangen gimana?”
“Sayang! Kayak di jaman batu aja. Nanti kamu buat akun Skype ya.”
“Hehehehe… iya. Boleh minta peluk gak?”
“Boleh.”
“Cium juga.”
“Ih, gak malu dilihatin keluarga kamu, ay?”
“Kalo kamu gak berani, biar aku aja yang cium!” Setelah berucap demikian, kukecup bibir Satrio dan meninggalkannya yang masih terbengong-bengong masuk ke area Boarding Pass.

Hah…! Petualangan baruku dimulai dari Negeri kincir angin, kulihat lagi wajah Satrio yang berkaca-kaca sementara di latar belakangnya Papah, Mamah, kakakku, dan adikku memberi lambaian.

Pergilah kasih kejarlah keinginanmu
Selagi masih ada waktu
Jangan hiraukan diriku
Aku rela berpisah demi untuk dirimu
Semoga tercapai segala keinginanmu

Terinspirasi dari lagu Pergilah Kasih – Alm. Chrisye

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s