[Engkau] Tak Akan Pernah Mati

“Ah, mas! Layanganku putus lagi.”
“Hahaha… memang enak, makanya beli benang kayak punya aku.”

Beberapa puluh tahun lalu, sepasang anak kecil bermain di padang rumput yang kering, pada suatu musim  kemarau yang panjang. Anak-anak itu Ryan dan Ali, mereka bukan adik kakak, mereka sepasang sahabat yang disatukan nasib. Bapaknya Ali seorang buruh yang dibunuh karena ikut mendalangi sebuah demonstrasi saat orde baru masih berkuasa, sementara ibunya terpaksa menjadi TKW ke negeri Arab sebab itu Ali sejak usia 8 tahun sudah dititipkan pada orangtua Ryan yang seorang petani tembakau.

“Mas Ali, pulang yuk! Sudah sore nih, nanti dicariin ibu.”
“Sebentar, dek. Tak gulung layangan dulu.”
“Eh mas mas, lihat deh.” Ucap Ryan seraya menunjuk ke arah pohon mangga Pak Muhammad yang berbuah lebat dan ranum.
“Jangan dek, nanti marahi. Sudah tenang saja, aku yang manjat.”

Pelan-pelan Ryan memanjat pohon, sambil sesekali menengok kiri-kanan.

“Heh! Bocah nakal, ngapain kamu?!” Teriak Pak Muhammad dari dalam rumahnya, terang saja Ali dan Ryan kocar-kacir sambil membawa beberapa mangga yanng berhasil mereka petik.

“Kamu sih dek, dibilang jangan.”
“Hehehe tapi seru kan mas?”

Lalu kedua anak itu merebahkan tubuhnya di atas pandang rumput, dan memandang langit sore sambil memakan mangga hasil curian mereka.

“Mas, kamu kalau sudah besar ingin jadi apa?” Tanya Ryan.
“Aku ingin mencari siapa yang membunuh bapakku, dek?”
“Hmm… Biar aku bantu mas. Aku kan ingin jadi polisi.”
“Beneran ya, dek. Janji.”
“Janji!”

***

Beberapa Tahun Kemudian

Ryan lulus dari Akademi Kepolisian, sesuai apa yang pernah ia cita-citakan. Sementara Ali bergabung dengan LSM yang menangani masalah penindasan, kemanusiaan, dan Hak-hak Azasi Manusia lainnya.

Sudah hampir satu dasawarsa mereka tak bertemu, hingga pada akhirnya di suatu demonstrasi yang dikoordinasi LSM yang menaungi Ali, mereka bertemu.

“Lho mas, kamu di Jakarta?” Sapa Ryan sesaat setelah Ali melakukan orasi.
“Iya, kamu di-BKO-kan di Jakarta, dek?”
“Iya. Aku pikir kamu masih di Sidoarjo mas.”
“Nggak dek, sudah 5 tahun aku tinggal di Jakarta. Oh ya kapan-kapan main ke rumahku, di Tangerang.”
“Siap mas.”

Obrolan mereka di tengah hirup-pikuk demonstrasi rupa-rupanya tidak lepas dari pengamatan seorang Intel.

***

Di dalam sebuah gedung di pinggiran Ibukota.

“Ini tugas negara, nak Ryan.” Ucap seseorang yang hanya terdengar suaranya saja, karena gedung itu minim cahaya.
“Orang di dalam amplop ini, adalah pengkhianat negara, menjual martabat negara pada bangsa asing. Dan kau seorang perwira polisi, yang juga pastinya cinta tanah air bersediakah ikut misi ini?” Sambung orang itu.
“Misi apa pak?”
“Sapu bersih.”
“Maksudnya pak?”
“Kita habisi mereka yang mengacaukan negara atau berencana untuk mengacaukan negara.”
“Kenapa saya yang dipilih pak?”
“Karena cuma kamu yang bisa melakukan misi ini. Bersedia?”
“Bee… bersedia pak.”
“Kurang meyakinkan! Bersedia?!”
“Siap! Bersedia pak!”

Lalu amplop berwarna cokelat itu dibuka, di dalam nya terdapat sebuah foto. Dan ketika foto itu dibalik, target dari misi itu adalah Ali. Seketika Ryan tersentak dari duduknya.

“Dia… Dia… Ali?”
“Benar, Ali. Kami sudah mempelajari asal-usulnya. Ternyata dia dekat denganmu, dan itu akan semakin mempermudah tugasmu, bukan?”
“Tapi dia sahabatku, pak. Dia masku!”
“Persetan. Dia pengacau, dia pengkhianat. Harus dilenyapkan. Sudah jangan berdebat lagi, kami tunggu kamu di bandara esok. Kamu tak datang, keluargamu yang mati.”

Setelah mengancam demikian sesosok tubuh tinggi besar itu berlalu dari hadapan Ryan.

***

Di Bandara, di dalam toilet Ali dan Ryan bertemu.

“Lho yan, ketemu kamu lagi. Kamu mau pulang ke Sidoarjo dek? Salam yo untuk ibumu ya.” Sapa Ali.
“Nggak mas, aku akan ke Australia.”
“Lho kok samaan. Aku juga akan ke Australia, tepatnya ke Darwin. Biasa ngurusin anak-anak nelayan yang tertangkap. Kalau bukan LSM-LSM seperti kami, siapa lagi yang mau ngurus. Negara? Ah, mereka hanya mau tahu beresnya saja.” Ucapnya sambil membasuh wajah.
“Mas, sebaiknya mas urungkan saja niat mas.”
“Lho kenapa? Eh kamu ke Australia juga tugas?”
“Iya mas.”
“Apa?”
“Hmmm… Membunuh mas.”
“Ah, kamu becanda, dek.”
“Beneran mas. Aku serius. Sebaiknya mas urungkan niat mas terbang ke Australia hari ini.”
“Kamu kalau mau membunuhku, ya sekarang saja dek. Ngapain jauh-jauh ke Australia. Ada-ada saja kamu.”
“Tapi mas…”

***

Di dalam pesawat, penerbangan Jakarta-Darwin

Beberapa agen intelejen negara disusupkan ke dalam pesawat baik sebagai penumpang maupun awak pesawat. Dan di kursi deretan belakang, Ryan sengaja ditempatkan bersampingan dengan kursi Ali, dan sebuah pistol jenis Revolver berperedam pun sudah diselundupkan ke dalam pesawat. Tinggal eksekusinya saja.

“Mas apa kubilang, semua sudah matang mereka persiapkan. Bahkan mereka sudah mempersiapkan senjata untuk membunuhmu. Ini.”
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan. Membunuhku?”
“Aku bingung mas, kalau aku tidak membunuhmu, keluargaku yang akan dibunuh mereka.”
“Mereka? Siapa mereka.”
“Agen Intelejen Negara, mas.”
“Sentot?!”
“Sentot? Siapa dia mas?”
“Kau tak tahu, dia orang yang ingin sekali membunuhku setelah aku menyelidiki tentang keterkaitan kesatuannya atas pembunuhan massal dan penculikan di Papua.”

Benar, Sentot. Sesorang denang tubuh tinggi besar yang ada di hadapan Ryan saat itu bernama samaran Sentot Pribadi. Seorang purnawirawan yang kini menjadi salah satu petinggi intelejen negara.

“Lalu aku harus bagaimana, mas?”
“Mana pistolnya.”
“Di sini mas. Mau diapakan?”
“Tenang saja.”

Lalu Ali mengambil sebuah tas yang berisi pistol dan kemudian mendatangi petugas bandara yang tengah memeriksa daftar penumpang. Ternyata intelejen memiliki Plan B.

***

“Kopinya pak?” Ucap seorang Pramugari pada Ali yang tengah membaca buku.
“Ohh, boleh.” Sahutnya

Ryan sudah tahu, bahwa Pramugari itu orang-orang intelejen juga. Sebab Pramugari itu memakai cincin yang sama dengannya.

“Mas, hati-hati.”
“Ini kopi biasa kok dek.”

Dan sebelum cangkir kopi menyentuh bibir Ali, Ryan sengaja menyenggolnya agar tumpah. Benar saja, kopi tersebut tumpah dan mengenai kemeja yang Ali kenakan.

“Maaf mas.”
“Ya sudah tak apa. Tak ke toilet sebentar.”

Dan saat Ali ke toilet tersebut, Ryan nekad meminum kopi yang belum sempat diminum Ali. Dan betapa terkejutnya Ali saat keluar dari toilet dan menuju kursinya. Ia mendapati kursinya ramai dan melihat kondisi Ryan yang tengah meregang nyawa dengan busa di mulut.

“Medis-medis!” Seluruh penumpang histeris.

“Kubilang juga apa, mas. Kau diincar.” Ucap Ryan terbata.
“Seharusnya aku dek, kenapa kamu?”
“Maaf mas, aku tak bisa memenuhi janjiku. Kamu harus tetap hidup mas, kamu harus cari siapa yang membunuh Bapakmu.”
“Sudah dek, tak apa.”
“Titip ibu mas…” Ucap Ryan sebagai kata-kata terakhirnya sebelum akhirnya ia pergi selamannya.

“Dek Ryan….!!!”

Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalanan

Tapi aku tak pernah mati, dan takkan berhenti…!

Terinspirasi dari lagu Di Udara – Efek Rumah Kaca.
Didedikasikan untuk Almarhum Munir S. Thalib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s