Tak Berbatas Waktu

“Bel, kamu mau kan jadi pacar  aku?” Sekali lagi Rama menyatakan cintanya padaku di sela-sela jeda pergantian jam pelajaran. Ku perhatikan mimik wajah Rama yang penuh harap, ini sudah ketiga kalinya ia menyatakan ketertarikannya padaku.
Sorry, Ram…”
“Ohh ya udah, Bel, gak apa-apa.” Kemudian Rama kembali ke mejanya sebelum dicurigai teman-teman sekelas. Dan ia tak memberiku kesempatan melanjutkan jawabanku, sepertinya ia memang sudah hapal apa jawaban yang akan terlontar dari bibirku.

“Rama nembak lo lagi, Bel?” Tanya Saskia, teman sebangkuku, juga sahabatku yang kerap menjadi ‘tong sampah’ bagi setiap keluhan-keluhanku.
“Eheuuum.” Jawabku sambil menganggukan kepala.
“Terus lo tolak lagi?”
“Eheuuum…”
“Kok bisa?”
“Bisa apa?”
“Bisa lo tolak.”
“Bisa lah, kenapa salah?”
“Nggak, emang lo gak kasihan sama dia?”
“Gue lebih kasihan kalo gue nerima dia karena kasihan, Sas.”

Perbincangan aku dan Saskia terhenti, Pak Nur guru Kimia yang terkenal killer sudah datang. Seperti biasa dengan memasang wajah kecutnya.

***

Aku mengingat kembali kejadian beberapa belas tahun lalu, saat masih duduk di kelas 3 IPA 2 SMA Bumi Persada. Sebelum pada akhirnya seorang lelaki di hadapanku menyadarkan aku pada sebuah pilihan-pilihan.

“Kamu mau kan Bel, menikah denganku?” Tanya Rama dengan menjulurkan sebuah kotak berwarna merah yang di dalamnya ada sebuah cincin.
“Tapi Ram…?” Sahutku penuh keraguan yang disaksikan ratusan pasang mata. “Ah kenapa Rama melamarku di tengah-tengah Mall seperti ini?” Gumamku dalam hati.
“Tapi kenapa, Bel? Kamu gak perlu ragu Bel, seperti dulu kamu gak pernah ragu menolakku. Sekarang pun demikian, kalau kamu gak mau, ya jawab saja. Apapun jawaban darimu aku terima, seperti dulu.”

Ah, lagi-lagi Rama mengingatkanku akan ‘kekejamanku’ pada dirinya, sekali lagi aku menatap wajah Rama.

***

Teeeeetttt…

Bel istirahat berbunyi, 90 menit diajar guru killer itu seperti 24 jam. Seperti biasanya waktu istirahat aku dan Saskia menuju warung bakso Pak No, di kantin sekolah.

“Eh tadi sampai di mana Bel?”
“Apanya?” Sahutku sambil menuangkan saos kedalam kuah bakso.
“Itu cerita lo sama Rama.”
“Udah deh gue males bahasnya.”
“Kenapa sih lo, Bel?”
“Ya males aja, gak penting juga.”
“Karena Rama culun, katrok, kuper, gak gaul kayak Dimas, cowok yang sering nyakitin lo itu?”
“Lo kenapa sih, Sas, jutek banget. Lagi dapet ya!”
“Lo masih ngarep Dimas balik sama lo kan, Bel?”
“Cukup, Sas! Gue kesini mau makan, laper. Ocehan lo bikin gue ilfil.”

Kemudian kutinggalkan bakso yang hanya baru kuaduk-aduk saja, kembali ke kelas melewati selasar depan Perpustakaan. Dan tidak sengaja, aku melihat sesosok pria yang begitu serius membaca di dalam Perpustakaan, pria yang biasanya memakai kacamata tebal, tapi kali ini ia mencopot kacamatanya. Ia adalah Rama. Kuperhatiakannya melalui jendela. “Ternyata Rama tampan juga bila tidak memakai kacamata” Kataku dalam hati.

“Lagi ngeliatin siapa lo?”
“Yah lo lagi, udah deh gue lagi marah sama lo, jangan tegur-tegur gue dulu.”
“Ohh, Rama… Hmmm…”

Tiba-tiba Rama menengok ke arah jendela di mana aku dan Saskia tengah memperhatikannya.

“Ah, lo Sas hampir aja. Ketahuan gak sih.” Ucapku sambil membungkuk di balik tembok.
“Nggaklah, dia lagi gak pake kacamatanya, kan?”

***

“Bel… Bella…”
“Ah iya, Ram…” Lagi, Rama membawaku kembali.
“Gimana? Kamu jangan terintimidasi dengan orang-orang yag sedang melihat kita. Kalau kamu gak mau, bilang aja.”
“Iya Ram aku ini lagi mikir.”
“Mikir? Mikir apa?”
“Kamu tahu kan, aku janda, aku single parent. Sementara kamu, kamu bisa dapetin gadis cantik manapun Ram. Kamu pengusaha sukses, tampan, aku merasa…”
“Minder?” Tanya Rama yang kujawab dengan anggukkan kepala.
“Bel, dulu pun waktu SMA aku minder ngedeketin kamu. Tapi rasa sayangku ke kamu yang mengalahkan itu semua. Aku gak peduli ditertawai kamu dan teman-teman gankmu, yang lebih aku peduliin adalah hatiku sendiri, hatiku yang ingin mengabari hatimu, aku mencintaimu. Sebab itu sekalipun berulangkali kamu tolak aku, itu tidak akan meruntuhkan niatku untuk menyayangimu.”

Ucapan Rama kali ini benar-benar menusukku. Menusuk tepat ke jantungku. Seseorang yang pernah kuabaikan, ternyata masih menyimpan rasa sayang itu sampai sekarang.

“Dan sekarang aku lebih gak peduli lagi orang-orang akan mentertawaiku. Aku gak peduli dengan statusmu. Yang aku mau cuma kamu dan Zivana.”

“Ah seadainya bisa, biar aku saja yang meremas-remas hatiku, Ram. Tak perlu kata-katamu yang membuat aku tak mampu menahan air mataku untuk tumpah.” Ucapku dalam hati. Kulihat wajah mungil Zivana yang tengah terlelap di dalam kereta dorong di samping Rama. Lalu Rama mengambil saputangannya dan meyeka air mataku, setelahnya aku menunduk, aku malu pada diriku sendiri. Dan Rama dengan jemarinya mengangkat daguku.

“Aku tak terbiasa melihatmu menundukan kepala, Bel. Tetaplah jadi Bella yang dulu, yang selalu mengangkat dagu.”
“Semua udah berubah Ram.”
“Tidak semua Bel. Tidak. Rasa sayang dan cintaku masih seperti dulu.”

Lagi, Rama menjulurkan kotak berwarna merah yang terdapat ditangannya.

“Menikahlah denganku, Bel.” Ucapnya kali ini dengan nada bergetar. Dan aku menganggukkan kepala. Kemudian ia meyakinkan aku sekali lagi, “Kamu mau, walau tak akan lagi sebebas merpati?”

“Asal kau mau merawatku, aku bersedia Ram. Tak perlu sangkar emas, yang kubutuhkan sangkar jerami yang hangat. Yang mampu membuatku dan Zivana tak kedinginan setiap saat.”

Lalu Rama menyematkan cincin berwarna silver itu ke jari manisku setelahnya ia mengecup keningku dan diiringi tepukan riuh dari para pengunjung Mall.

Pelajaran yang aku terima dari Rama, rasa cinta tak pernah mengenal batas waktu, dan cinta tak akan pernah telat menyapa hati seseorang, yang ada hanyalah cinta yang menunggu musim merekah tiba. Kalau kau mencintai seseorang, perjuangkanlah, karena dengan memperjuangkannya adalah sebenar-benarnya perihal yang mampu membahagiakan hatimu sendiri, setidaknya.

Terinspirasi dari lagu Tak Sebebas Merpati – Kahitna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s