Bukan Lawan Jenis

“Tasya…! Gue kenalin sama temen gue, sini!” Pekik Indra, beradu dengan dentuman musik hiphop di sebuah klub ternama di Jakarta.

Seperti biasa, Jumat malam mungkin sudah menjadi rutinitasku, aku tak pernah absen menyambangi klub-klub di Ibukota. Dari klub satu ke klub lainnya dan aku bisa berpindah 4 klub dalam semalaman. Apa yang aku cari? Entahlah, aku tak tahu, aku hanya mencoba sejenak melarikan diri dari kepenatan hidup setelah sepekan disibukkan dengan urusan pekerjaan. Mencari ketenangan di tempat-tempat keriuhan, aneh bukan?

“Hei, Tasya…” Ucapku memperkenalkan diri pada seseorang di hadapanku.
“Keira, panggil aja Kei.” Sahutnya sambil menjulurkan tangan.
“Kei ini Resident DJ, di sini, Sya.” Kata Indra.
“Ohh…”
“Lo kan biasanya males ngelantai Sya, gue jamin deh nanti saat lo dengerin musik doi, badan lo gerak sendiri Sya.” Jelas Indra
“Ah, lo Ndra lebay!!!” Umpat Kei.
“Yee gak percaya, beneran…”
“Ya udah, ya. Ngobrolnya sambung nanti, gue kerja dulu. Have a fun!” Kei pamit nge-DJ.

Ketika Kei naik ke atas podium kebesarannya, seluruh pengunjung bersorak, sepertinya apa yang dikatakan Indra tadi benar. Kei bintang di klub ini, musik-musiknya selalu ditunggu. Ah, aku jadi tidak sabar ingin melihatnya nge-DJ.

Musik menghentak-hentak, aku yang biasanya malas melantai tiba-tiba saja menerima ajakan Indra.

“Sya… come on, dancing with me.”
“Oke-oke.” Kataku sembari menghabiskan sisa wine.

Sudah menjelang subuh, Kei menghampiri aku dan Indra yang tengah mabuk berat.

“Beneran kata Indra, musik lo asyik. Bisa-bisa gue rajin ke sini nih.”
“Hahaha… Thanks ya udah mampir kesini. Hmm… Lo mau balik, Sya.”
“Iya, tapi gak tau nih gimana pulangnya.”
“Lho kenapa?”
“Lha ini supirnya mabuk gini, dan gue gak bisa nyetir!”
“Ya udah nanti gue yang nyupir, Apartemen lo di Tendean kan?”
“Iya. Terus mobil lo, Kei?”
“Motor! Gampanglah, nanti gue titipin di sini.”

Akhirnya Keira yang mengantar aku dan Indra pulang. Di tengah perjalanan menuju Apartemenku, aku dan Keira saling menceritakan kehidupan masing-masing. Ternyata aku dan Kei punya alur hidup yang sama denganku, orang tua yang divorce, lalu kabur dari rumah dan hal-hal yang selalu ingin aku lupakan karena betapa pahitnya pengalaman hidup itu. Aku pernah menikah dengan seorang lelaki brengsek, lelaki yang menyelingkuhiku. Dan betapa pedihnya ketika kuketahui ia berselingkuh dengan teman kerjaku, seorang pria. Ia menikahiku hanya sebagai kamuflase.

***

Sudah 6 bulan aku mengenal Kei, dan kami semakin akrab. Setiap malam selasa dan malam jumat, aku selalu sempatkan melihatnya nge-DJ. Dan aku merasakan ada hal lain di hatiku, saat ia menyentuh tanganku, saat ia tersenyum padaku, perasaan yang lebih dari seorang sahabat. Benarkah aku menyukai Kei? Mencintai Kei? Hal demikian kian berkecamuk dalam dadaku, apakah aku telah menjadi seorang Lesbian? Sejak kapan? Entahlah, pertanyaan itu selalu menghampiriku setiap berdekatan dengan Kei.

Aku bertemu kamu dalam gelap
Aku menuntunmu menuju terang
Menuju terang dari gelap malam…

Ping!!!
“Kei bisa gak sore ini datang ke Apartemen gue?”

Pesan yang ku kirim melalui BBM, dan dijawab 15 menit kemudian.

“Emang ada apa, Sya? Bisa kok ”
“Ya udah, jam 4 sore gue ke sana.”

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, ternyata Keira datang tidak sendiri, ia datang dengan Indra.

“Ah sial! Kenapa si Indra pake ngikut sih.” Gumamku.

“Hei Sya…!” Sapa Indra yang datang-datang langsung duduk di sofa dekatku.
“Apa sih, deket-deket. Lo lagi ngapain si Kei pake ngajak-ngajak Indra.” Gerutuku.
“Ish, gue tuh ketemu anak ini tadi di parkiran, Sya…” Sahut Kei sambil menoyor kepala Indra.
“Eh, eh, kalian pada laper gak sih? Gue laper nih. Eh Tasy, di dapur lho ada apa?” Ucap Indra sambil menuju dapur.
“Tau, gue belum belanja sih.”
“Yaaaahhh, ini kulkas kayak rumah hantu, kosong melompong. Gue cari makan di luar aja deh, lo berdua mau dibeliin apa?”
“Terserah!” Jawabku dan Kei, kompak.

Kita bertemu muka lagi
Hanya menatap, tanpa bahasa, tanpa isyarat, memendam tanya
Masihkah aku di dalam mimpimu…

Setelah Indra berlalu meninggalkan aku dan Kei, 15 menit kemudian aku hanya mematung merasakan dan menafsirkan degub di dada. Dan deguban itu kian terasa jauh lebih keras ketika Kei meletakkan kepalanya di atas pahaku, sambil menonton televisi.

“Kei…” Ucapku memecah keheningan dalam diriku sendiri.
“Apa?” Sahutnya
“Mau cerita, boleh?”
“Cerita, cerita aja lagi Sya.”
“Lo mau dengerin?”
“Ya ampun lo kayak baru kenal gue aja deh.”
“Menurut lo, suka sama sahabat sendiri gimana Kei?”
“Ya gak apa-apa Sya, cinta itu kan perasaan yang tidak mengenal nama, lo bisa jatuh cinta sama siapa saja, bahkan sama musuh lo sendiri. Cinta itu perasaan yang merdeka, Sya. Siapapun berhak mengutarakannya.”
“Gitu ya Kei…”
“Setahu gue sih begitu, Sya. Emang lo lagi suka sama siapa? Hmmm… gue tahu, Indra kan?! Ngaku.” Tanya Kei yang seketika mengangkat kepalanya dari pahaku. Dan matanya mulai menyelediki manik-manik mataku.
“Bukan…”
“Ngaku ajalah, Sya. Indra baik kok, ya walaupun agak-agak katro dikit.’
“Bukan Kei. Gue tuh, suka sama…”
“Indra?” kembali Kei menyelidiki gerak-gerik mataku.
“Elo, Kei.” Ucapku, mungkin menghentak hati Keira.
“Ciyus? Cungguh? Miapah?” Kei masih saja menganggapku bercanda.
“Beneran Kei. Gue gak tahu kenapa gue bisa suka sama lo.”

Kei diam sejenak kemudian berdiri dan berjalan ke arah jendela, dan dari jendela lantai 16 itu Kei memandangi jalanan ibukota yang sudah sedemikian macet sore itu, entah apa yang ia pikirkan. Kemudian kuhampiri dan memeluknya dari belakang, kudaratkan kecupku ke tengkuk leher dan belakang daun telinga kanannya.

“Gue cinta sama lo, Kei. Lo bikin gue nyaman.”

Sekejap kemudian Kei membalikan tubuhnya dan menatap mataku dengan tatapan nyalang.

“Tapi Sya… Kita kan sahabatan.”
“Tapi tadi kata lo cinta itu perasaan yang merdeka, terus apa gue salah udah jujur sama lo kalo gue suka!”
“Nggak, gak salah… semua orang bebas bilang cinta, mau gay, lesbi, atau apalah. Bebas Sya! Tapi Lo sahabat gue dan gue nggak mau ngekhianatin sahabat gue yang lainnya.”
“Maksud lo apa, Kei?”
“Indra cinta sama lo, dia sering curhat sama gue tentang lo. Dia sayang sama lo.”
“Tapi gue nggak, Kei.” Setelah mengatakan demikian, kukecup bibir Kei ia pun tambah naik pitam.
“Gila lo ya, Sya.” Ucapnya seraya mendorong tubuhku ke belakang.

Kemudian Indra nongol dari balik pintu dengan membawa bungkusan makanan.

“Makanan datang. Eh nih makan dulu yuk, gue beliin ketoprak kesukaan lo Sya.”
“Males! Lo makansendiri aja Ndra.” Ucap Kei ketus, kemudian ia segera berlalu sebelum akhirnya dihentikan Indra.
“Lo kenapa Kei?”
“Lo tanya sendiri sama Tasya, Ndra.”
“Ada apa sih Sya?”

Aku tak mampu menjawab, bahkan untuk melihat wajah lugu Indra saja aku gak sanggup.

***

Sudah sebulan ini Kei tidak nge-DJ di klub biasanya, aku selalu menunggunya, ingin meminta maaf padanya. Dan malam itu aku bertemu Indra juga di sana.

“Eh Sya, sendirian.”
“Yah, elo Ndra kayak baru kenal gue aja. Lo sih ngilang, sendirian deh gue. ”
“Iya, ngademin otak dulu gue, gara-gara lo nih.”
“Udah deh jangan bahas itu lagi. Iya gue yang salah.”
“Iya iya… lo pasti nyariin Kei kan?”
“Nggak.”
“Beneran? Lo gak mau tahu gitu kabarnya dia, katanya cinta.”
“Apaan sih Ndra.”
“Kei sebulan kemarin roadshow lagi, ke Jogja, Surabaya, Malang, terus Bali.”
“Kok lo tau?”
“Tau lah, dia kan nitipin lo ke gue. Tapi gue males dititipin lo, lo bohongin gue Sya, bikin gue ngarep. Eh nyata-nyata elo…”
“Apa? Nyatanya gue apa?”
“Gak suka sama gue.” Ucapnya dengan wajah melas.
“Yeee, Kei nitipin gue ke elo?”
“Iya, kenapa?”
“Nggak. Aneh aja dia kan masih marah sama gue. Telpon gue aja gak diangkat.”
“Siapa yang bilang Kei masih marah. Nggak lagi, dia sebenarnya juga suka sama lo, cuma gak enak aja sama gue yang sering curhat tentang lo ke dia.” “Temuin gih, dia lagi ada di kostnya. Besok sih dia bilang bakal ke Makassar.” Tambahnya
“Terus lo, Ndra?”
“Terus gue bisa apa, gue nggak maulah jadi penghalang buat dua orang yang saling mencintai.”
“Thanks ya Ndra.”

Kemudian aku segera menuju ke kostnya Keira dengan diantar Indra. Benar kata Keira, semua orang bebas menyuarakan cintanya karena cinta adalah perasaan yang merdeka.

…Kamu simpan gambarku dalam hati
dalam mimpi dan di dalam hati
dalam mimpi dan di dalam hati.
Aku takut kamu suka pada diriku
karena memang aku bukan lawan jenismu…

Terinspirasi dari Lagu Bukan Lawan Jenis – Efek Rumah Kaca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s