Review Singkat: Buku Kumpulan Puisi ‘Karena Puisi Itu Indah’

Karena Puisi Itu Indah, sebuah judul dari buku kumpulan puisi yang ditulis oleh Tia Setiawati. Apakah benar Karena Puisi itu indah? Dari pertanyaan itu saya tergelitik untuk memasuki lebih jauh puisi-puisi yang dicatatkan Tia dalam bukunya. Lalu pertanyaan berikutnya muncul di kepala saya, jika puisi itu tidak indah apakah seorang Tia Setiawati masih menyukai puisi?

Kita tinggalkan dulu pertanyaan itu, yang mungkin akan terjawab pada alinea terakhir dalam review singkat saya ini. Dalam buku Karena Puisi Itu Indah saya melihat Tia Setiawati masih bermain dengan tema cinta, ya cinta memang menjadi tema umum yang tidak pernah basi untuk dipuitisasikan, tapi juga terkadang jadi sangat membosankan jika tidak dikemas menjadi hal yang lebih kekinian. Puisi-puisi Tia Setiawati ini begitu sederhana, memakai bahasa sehari-hari, tanpa perumpamaan-perumpamaan yang rumit. Dan tak jarang membahasakan apa yang tak bisa dibahasakan oleh penikmat puisinya atau istilah kerennya Curhat Colongan (CurCol). Jika boleh saya katakan puisi Tia Setiawati ini Puisi to the Point, kata-katanya langsung menuju pada maksud yang ingin diutarakan, tanpa harus melewati banyak metafora yang terkadang membingungkan penikmatnya.

Karena Puisi Itu Indah, apa benar puisi itu indah? Dalam buku yang memuat 77 puisi ini terbagi dalam beberapa Bab, di antaranya Kepada Hati, Air mata, Semesta Berkata, dan Pahlawan kehidupan. Untuk Bab Kepada Hati, Tia Setiawati menceritakan sebuah proses-proses tahapan mencintai dimulai dari Kita Berjalan Pada Ketidaksengajaan, lalu puncaknya pada Tidak Semudah Itu, Sayang, dan kemudian proses-proses dari tahapan mencintai itu berakhir pada penyerahan hati terhadap rindu, terhadap takdir, tergambar begitu jelas pada puisi Katamu, Kataku.

Dan Bab berikutnya, Air Mata yang berisi 16 puisi. Dari Bab ini saya dapat mengambil gambaran bahwa mencintai itu tidak melulu soal kebahagiaan, justru karena adanya air mata maka kebahagiaan yang kita dapat atau yang pernah kita sentuh menjadi jauh lebih berarti. Karena Puisi Itu Indah, di sinilah saya menemukan keindahan puisi, di mana kesedihan itu terangkum begitu apik dan lugas, tanpa menye-menye, seperti dalam puisi yang berjudul Aku Mencintaimu, Dengan Melepaskanmu—“Karena cinta adalah cinta saja. Memaksa, mengekang, membelenggu, atau menggenggamnya terlalu kuat, hanya akan membuat kita sekarat.” Itu penggalan baitnya. Dan pada Bab ketiga, Semesta Berkata, di Bab ini saya dapat melihat sisi lain dari seorang Tia Setiawati. Tia yang Religius.

Bab terakhir, Pahlawan Kehidupan. Setiap orang tentunya punya sosok yang dijadikan panutan, sosok yang mampu menjelma jadi seorang pahlawan. Mungkin hal ini yang menginspirasi Tia Setiawati membuat puisi untuk didedikasikan kepada sosok yang ia anggap sebagai pahlawan — Ayahnya. Dalam tiap bait-baitnya kita, khususnya saya dapat melihat dan membaca betapa dekatnya hubungan ayah dan anak dalam puisi-puisi Tia Setiawati.

Karena Puisi Itu Indah, ya karena puisi itu indah menjadikan segala kesedihan dan kedukaan dapat kita khidmati sebagai pengalaman hidup. Dan itu terkumpul dalam serangkum buku berjudul Karena Puisi Itu Indah. Jadi adakah puisi yang tak indah, seperti pertanyaan saya diawal, jawabnya tak ada. Sebab itu tak ada alasan bagi Tia Setiawati untuk berhenti menuliskan puisi.

Demikian review singkat saya mengenai buku yang baru saja diterbitkan oleh seorang penulis berbakat asal kota Bandung, Tia Setiawati. Dan dari 1-5 bintang, saya memberi tiga bintang untuk buku ini. Layak baca!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s