Pengabdian

Perang tengah berkecamuk, Jepang dengan membawa misi Asia Timur Raya kian terdesak setelah pihak Amerika Serikat menjatuhkan dua buah bom atom pada tanggal 6 Agustus 1945 dan 9 Agustus 1945 di dua kota Hiroshima dan Nagasaki. Dan hari-hari setelahnya Jepang menyerah pada sekutu, lalu tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno membacakan Proklamasi di Jakarta, menandai berdirinya Negara Indonesia. Namun rasa sukacita itu tak berlangsung lama, sekutu yang tengah melucuti persenjataan Jepang diboncengi NICA, kesatuan elite Belanda. Karena tak ingin dijajah, Pak Dirman melalui siaran radio mengajak seluruh pemuda untuk bergabung dalam unit-unit kesatuan TRI (Tentara Rakyat Indonesia).

“Ah, kamu mas senengnya dengerin berita perang saja.” Rosmina mulai membuka perbincangan di suatu pagi, setelah menyajikan segelas teh hangat untuk suaminya yang hendak bekerja sebagai mantri kesehatan.
“Dek Ros, aku masih muda kan?” Tanya Widodo, sambil membetulkan letak kerah kemeja safarinya.
“Masih, mas. Masih ganteng juga.”
“Aku ingin bergabung dengan TRI, dek.” Ucapnya yang membuat Rosmina tersentak.
“Tapi mas…”
“Ini panggilan jiwa, dek. Aku tak ingin anakku yang ada dalam rahimmu kini jadi anak-anak terjajah, dek.”
“yo wes, sepertinya tekadmu sudah bulat, mas. Aku bisa apa selain mendoakanmu.”
“Terima kasih, dek.” Lalu Widodo mencium kening istrinya sebelum beranjak ke Kliniknya.

Kulepas dikau pahlawan
Kurelakan dikau berjuang
Demi keagungan negara
Kanda pergi ke medan jaya

Satu hari kemudian, Widodo mendapat surat pemberitahuan bahwa ia diharapkan segera datang ke Magelang, Balai Pelatihan Tentara. Dengan agak galau, Rosmina melipat satu per satu baju yang akan dibawa Widodo ke dalam koper. Ia kembali meyakinkan pada dirinya sendiri, ia akan baik-baik saja pun dengan suaminya.

“Ini tugas mulia suamimu, Ros. Kamu harus mendukungnya. Ini demi Negara yang suamimu dan kamu cintai.” Ucap Ros dalam hati sambil sesekali mengelus perutnya yang sudah terlihat membesar.
“Dek Ros, pakaianku sudah kau rapikan, Tedjo sudah menjemputku?” Tanya Widodo dari ruang tamu.
“Sebentar, mas. Sedikit lagi.” Jawab Rosmina agak terisak.

Lalu Widodo masuk ke kamar, dan mendapati Rosmina menangis.

“Dek…”
“Mas, kenapa kamu harus ikut berjuang?”
“Seperti yang aku katakan kemarin, aku ingin anakku tidak dijajah sama londo-londo itu. Doakan aku, dek.”

Beberapa saat kemudian Truk yang membawa Widodo dan pemuda desa lainnya beranjak menuju Balai Pelatihan Tentara di Magelang.

Bila kanda teringat
Ingatlah adik seorang
Jadikan daku semangat
Terus maju pantang mundur

Sebulan kemudian, sepucuk surat tiba ke kediaman Rosmina.

“Lho, Jo. Kamu kok pulang?” Tanya Rosmina  pada Tedjo yang datang ke rumahnya.
“Ndak, mbak. Aku ndak lolos.” Sahut Tedjo.
“Lalu sekarang balik tani lagi?”
“Ndak, mbak. Pak komandan menyuruh aku jadi kurir surat mbak.”
“Walah, kamu Jo.. Jo…”
“Ndak apa-apa lah mbak, ini juga sama saja. Ikut berjuang.”
“Yo wes, sing ati-ati. Lalu ada surat buat aku ndak?”
“Oh ada, mbak. Nih dari mas Wid.”
“Matur nuwun, nggih Jo.”
“Sami-sami, mbak. Kalo mbak mau balas, secepatnya ditulis ya. Besok aku mau kembali ke Legiun.”
“Iya, Jo.”

Sesaat setelah Tedjo beranjak dari rumahnya, kemudian Rosmina membuka amplop berwarna coklat itu.

Kepada Adinda Rosmina

Bagaimana kabarmu, dek? Aku selalu berdoa kau selalu baik-baik saja. Begitupun dengan aku, di sini dek. Kau tak perlu cemaskan aku, aku baik-baik saja. Di sini aku menemukan hal lain yang tidak aku temui di desa, dek. Ternyata bukan Cuma pemuda jawa saja yang bertekad tak ingin dijajah kembali. Aku bertemu dengan orang padang, makasar, bali, dan tempat lainnya.

Kau tahu, dek. Pangkatku sekarang Letnan. Aku membawahi 25 orang lainnya. Kau harus bangga dengan itu, dek. Dan bulan depan aku dan pasukanku akan menemui Pak Dirman. Aku tak sabar bertemu dengannya.

Oh ya, bagaimana dengan kandunganmu, dek. Kudengar sudah ada mantri baru, namanya Lestio di kawanku dulu waktu praktek di Semarang. Periksalah dengannya.

Dek, ku sudahi suratku kali ini. Aku mencintaimu.

Suamimu,

Letnan Widodo

Lalu surat itu dilipatnya kembali dan di masukan dalam almari.

“Aku bangga padamu, mas.”

***

Menjelang senja Tedjo, si kurir surat tiba di Legiun. Dan menuju barak tempat Widodo tinggal.

“Mas Wid, mas Wid… ada surat dari mbak Ros.” Ucap Tedjo
“Suwun nggih, Jo.”

Kepada Kakanda tercinta

Kabarku baik-baik saja, mas. Dan aku pun berdoa supaya Allah selalu melindungimu. Aku bangga, mas, pangkatmu sekarang Letnan. Jadilah pemimpin yang tegas, yang disegani kawanmu, bawahanmu, juga musuh-musuhmu, mas. Kau bilang kau akan bertemu dengan Pak Dirman, Mas. Aku ikut senang mendengar kau begitu gembira akan bertemu panutanmu.

Mas, aku sudah bertemu dengan Lestio, kenalanmu itu. Dan ia bilang kandunganku baik-baik saja. Kini sudah memasuki bulan ke-7, mas. Dua bulan lagi anakmu akan lahir. Beritahu aku, akan kau beri nama apa anakmu ini?

Mas, aku kangen… Hati-hatilah di sana.

Istrimu,

Rosmina

Setelah membaca surat dari Rosmina, terlihat wajah Widodo berbinar-binar.

“Aku akan menjadi seorang ayah! Aku akan menjadi seorang ayah!” Teriaknya hingga seluruh kawan-kawannya mendengar dan memberinya selamat.

Air mataku berlinang
Karena bahagia
Putra pertama lahir sudah
Kupintakan nama padamu pahlawan

Sudah hampir dua bulan, namun surat balasan tak kunjung diterima. Tiap pagi Rosmina selalu menunggu di muka halaman, menunggu Tedjo datang membawa surat dari Widodo. Habis sudah pengharapannya, apakah suaminya tertembak Belanda saat akan menemui Pak Dirman di Lereng gunung Merbabu, ia coba tepiskan pikiran-pikiran buruk itu, kembali ia mengelus-elus perutnya yang kian buncit karena sudah bulannya melahirkan.

“Mbak! Mbak! Ini ada surat dari mas Wid, maaf mbak aku terlambat. Belanda di mana-mana.” Ucap Tedjo yang kembali menerbitkan harapan di hati Rosmina.
“Ndak apa-apa, Jo. Aku bikinin teh dulu ya.”
“Ndak usah mbak, aku buru-buru. Oh ya, mbak, mungkin ini surat terakhir yang dikirim mas Widodo, mbak.”
“Lho, ono opo, Jo?”
“Kemarin, saat akan menyerbu gudang senjata Belanda di Ambarawa. Mas Widodo dan pasukannya diserang Belanda, mbak. Aku tak tahu berapa yang gugur dan yang selamat. Tapi dari berita radio mereka berhasil membakar gudang senjata di Ambarawa itu. Semoga mas Widodo termasuk yang selamat, mbak.”
Astagfirullah… Mas Wid…”
“Sing sabar, Mbak. Aku pamit mbak, ingin memberitahukan yang lainnya.”

Air mata kemudian meleleh dari wajah ayu Rosmina. Ia tahu, saat-saat ini akan terjadi, tapi tak secepat ini. Seluruh tubuhnya kemudian lemas, dan ia merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya. Rosmina akan melahirkan.

***

3 Bulan Kemudian

“Tak lelo lelo lelo ledung, cup menengo ojo pijer nangis. Anakku sing bagus rupane yen nangis ndak ilang baguse…Tak gadang iso urip mulyo, dadi ksatrio utomo, ngluhurke asmane wong tuwo, dadiyo pendekaring Negoro…”

“Dek Ros… Dek Ros…”

Sayup-sayup terdengar dari luar suara Widodo, sementara Rosmina tengah menidurkan anaknya di kamar. Kemudian ia bergegas ke halaman, mencari tahu siapa yang memanggilnya barusan. Tapi ia tak melihat siapa-siapa, ia kembali ke kamarnya dan begitu terkejut ketika mendapati di kamarnya ada seorang lelaki tengah menciumi anaknya.

“Mas Wid? Benarkah kamu mas Wid?”
“Iya ini aku, Widodo, Suamimu.”
“Bukankah kamu sudah…” Rosmina tak melanjutkan ucapannya ia justru mengelus beberapa kali wajah Widodo. “Kamu kurusan, mas? Kudengar dari Tedjo pasukanmu diserang londo.”
“Dek Ros, alhamdulillah, berkat doamu pasukanku dapat lolos dari maut. Hanya beberapa saja yang terluka, tapi tak ada yang gugur. Siapa nama jagoan di depanku ini, dek?”
“Seperti dalam surat terakhirmu, mas, kamu memberinya nama Narayanasrama. Hutan yang indah tempat pandawa mengembara. Benarkah demikian, mas?”
“Benar. Boleh aku menggendong jagoan kecilku ini?”
“Tentu boleh Letnan.”
“Aku bukan Letnan lagi, dek. Aku Kapten.”
“Kapten Widodo…”

Sembah sujud ananda
Dirgahayulah kakanda
Jayalah dikau pahlawan
Terus maju pantang mundur

****

Terinspirasi dari lagu nasional yang diciptakan Titik Puspa – Terus Maju, Pantang Mundur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s