Jogjakarta

Stasiun Pasar Senen, Pukul 16.43

Senja sudah tiba, sementara aku masih menunggu di depan pintu Boarding Pass pintu selatan untuk Check In. Semenjak lebaran kemarin, pelayanan Kereta Api sudah semakin oke. Kini tak ada lagi calon penumpang yang menunggu di dalam stasiun sebelum kereta datang. Satu setengah jam kemudian, calon penumpang Kereta Api senja utama Jogjakarta diberitahukan untuk memasuki ruang Boarding Pass. Dan pada pukul 19.00, kereta yang akan membawaku ke kota kenangan mulai memutar as-as roda besinya. Peluit dan dentang bel mengiringi keberangkatan kereta.

Namaku Shakila Ivonia Raytama, atau biasa dipanggil Kila. Banyak alasan yang membuatku kembali mendulang kenangan di kota budaya tersebut, salah satunya mengurus ijazahku yang rusak terkena banjir tempo hari. Dan alasan lainnya bertemu Aditya Hermanto, kekasihku. Kami menjalin hubungan sudah hampir 6 tahun. Tak mudah mempertahankan hubungan selama itu, apalagi dengan ribuan kilometer yang memisahkan kami, tak jarang kami bertengkar karena hal-hal sepele. Yah, ada untungnya juga berhubungan jarak jauh, karena saat marahan  kami cukup menutup telepon dan diam-diaman, lalu yang merasa bersalah akan menelepon duluan, tapi tak berlaku untukku. Karena sekalipun aku yang salah, pasti Adit yang selalu meneleponku duluan. Dengan rayuan-rayuan gombalnya yang biasa membuatku tertawa geli. Adit memang pandai menyenangkan aku.

Ini kali pertama aku kembali ke Jogja, semenjak aku lulus dan diwisuda dua tahun lalu. Biasanya tiap 4 bulan sekali Adit yang datang ke Jakarta. Kemarin saat meneleponku Adit bilang, bu Indah, ibunda Adit kangen denganku, ah aku tahu itu cuma akal-akalan Adit saja. Tapi tak apa, lagi pula memang ada yang harus kuurus di Jogja.

***

Malam kian larut, dan deru kereta kian laju. Angin malam yang masuk melalui jendela yang tak tertutup rapat, sering memasaikan rambutku. Gerbong yang kutumpangi tak seramai perkiraanku, bahkan kursi di sampingku kosong. Lumayan dapat meluruskan kaki. Satu per satu stasiun dilewati kereta senja, membawa lamunku mengembara jauh dan aku pun mengenang kembali semasa kuliah dulu. Aku tak satu fakultas dengan Adit, tetapi rumah tempat aku berkost itu rumahnya Adit, dari sanalah aku mengenal Adit, dekat dan kemudian jadian.Teman-teman kostku dulu iri padaku, karena hanya aku yang boleh pulang sampai jam 12 malam asal aku pergi dengan Adit. Dan menurut pengakuan teman-teman sekostku juga, bu Indah itu galak, judel, bawel, dan lain-lain. Tapi entah kenapa terhadapku ia begitu baik, tak jarang saat akhir bulan di mana kiriman dari orang tua belum tiba, ibu Indah selalu mengajakku makan semeja dengannya tiap malam. Ah, senangnya punya pacar anak ibu kost. Senyumku menyeringai di antara jeda lamunan.

Perlakuan ibu Indah pun tak berubah, kemarin saat aku meminta Adit mereservasi kamar hotel, tak diperbolehkan oleh bu Indah, ia  menyuruhku untuk menginap di rumahnya. Karena ia tak punya anak perempuan, ia telah menganggapku anak sendiri, tak jarang Adit yang sering dimarahi kalau ia melihat aku tengah marahan dengan Adit. Mungkin itu yang menyebabkan sampai sekarang kalau aku marah sekalipun aku yang salah, Adit yang terlebih dahulu menelepon dan merayuku. Mengingat itu, membuatku makin sayang sama Adit.

Kantuk di mataku tak tertahan, sementara masih setengah perjalanan lagi. Kukeluarkan pemutar MP3 milikku, lalu memasang headset ke kedua telingaku, kemudian mencari-cari lagu yang dapat membuatku terlelap sejenak. Jogjakarta yang dinyanyikan KLa Project kupilih, selain karena iramanya, ada kenangan yang begitu manis dari lagu itu. Adit menyatakan cintanya padaku diawali dengan lagu itu. Di suatu malam, entah kenapa teman-teman kostku memaksaku untuk ikut mereka ke Malioboro, padahal mereka tahu aku tengah mengerjakan revisi-an tugas kuliah. Kami mampir di sebuah warung angkringan, lalu datanglah pengamen dengan menyanyikan lagu KLa Project tersebut, pengamen yang tak lain adalah Aditya Hermanto, dan kemudia ia bertanya padaku apakah aku mau menjadi kekasihnya, kujawab dengan wajah memerah “Aku mau”. Ternyata ia telah bersekongkol dengan teman-teman kostku.

Pulang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu.
Masih seperti dulu tiap sudut menyapaku bersahaja penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan  nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja…

Suara ponsel berdering membangunkan lelapku, dari layar LCDnya tertera nama Tikus Nying-nyingku, ya itu panggilan kesayanganku untuk Adit.

“Halo Kila?” Suara Adit dari seberang sana.
“Iya ada apa kangmasku sayang.” Sahutku.
“Udah sampe mana?”
“Sebentar lagi, Adit jemput Kila kan?”
“Ya dijemput dong, Ini Adit udah di Stasiun. Kila ditelpon susah banget daritadi.”
“Hehehe Iya, Kila ketiduran. Ini gerbongnya kosong tau, jadi bisa selonjoran gitu.”
“Yeee… Ya udah awas ketiduran lagi, jaga barang-barangnya.”
“Iya Adit, bawel…!”
“Yeee…” Ucapnya dan sesaat kemudian ia tutup.

***

Stasiun Tugu, Pukul 04.15

Kereta bergerak lambat memasuki Stasiun Tugu, lalu terhenti. “Akhirnya sampai juga.” Gumamku. Kemudian aku menuju ke pintu keluar di mana Adit sudah menungguku. Sesaat setelah melewati pintu gerbang berwarna biru itu, aku melihat sesosok pria tinggi berkacamata dengan memakai sweeter berwarna hitam menghampiriku, dan memelukku.

“Adit, Kila kangen…” Bisikku di telinga Adit.
“Sama Adit juga, yuk udah ditunggu ibu dari semalam.”
“Iya, maunya berangkat pagi, tapi ayah Kila gak bisa nganter ke stasiun jadi kereta sore deh. Adit, mampir di Angkringannya Lek Su dulu ya. Masih buka kan? Kila Laper.”
“Iya yuk…” Sahutnya sambil mengangkat koperku.

Adit tidak bawa mobilnya, tapi mengajakku naik becak. Ah, Adit tahu benar, aku kangen naik becak, kegiatan tiap pagi yang sering kulakukan dulu saat berangkat kuliah. Menyusuri kawasan Malioboro, tanganku menggenggam tangan Adit erat. Entah kangen atau karena aku kedinginan, lalu kurebahkan kepalaku ke bahu Adit.

“Adit, Kila sayang banget sama Adit.” Kalimat yang ingin sekali aku ucapkan dari semalam. Dan Adit hanya tersenyum lalu mencolek hidungku.

…Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi
Bila hatimu sepi tanpa terobati…

Terinspirasi dari lagu KLa Project – Jogjakarta

Kalau ingin membaca Kisah Kila dan Adit selanjutnya Klik ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s